Oleh: Rida Nurdiani
Sudah dua tahun, hampir di 102 negara di muka bumi dilancarkan bencana yakni Pandemi Corona 19. Tidak terkecuali Indonesia. Ribuan bahkan ada yang sudah mencapai jutaan penduduk negeri meninggal dunia disebabkan corona. Berbagai cara sudah dilakukan oleh pemerintah terkait pencegahan maupun cara jitu mengusir corona. Hampir nihil cara dan upaya pencegahan.
Termasuk upaya membatasi aktivitas dan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat. Sekolah yang berfungsi untuk mendidik anak-anak pun diharuskan belajar di rumah.
Hal itu, memang dirasa tidak epektif. Tugas orang tua murid menjadi berat karena mau tidak mau anak dipacu untuk belajar, mengerjakan tugas maupun banyak membaca buku. Pelajar di rumah menerima pelajaran dari gurunya dengan sistem daring atau menyampaikan tugasnya melalui email dan WA. Setelah belajar dan mengerjakan tugas lainnya boleh mereka bermain.
Tentu hal itu, bisa disikapi dengan penuh antusias dan prospek masa depan sehingga lulusan di masa pandemi Covid agar tetap berkualitas tinggi. Kualitas harus tetap ditempuh dengan pendidikan. Saat pelajar belajar di rumah sangar epektif membaca dan membaca belajar dan terus belajar.
Eksistensi Literasi
Banyak para ahli membuat definisi hampir sama yakni titik berat pada membaca dan menulis. Begitu juga UNESCO yakni menitikberatkan pada membaca dan menulis. Padahal empat aspek kebahasaan tidak terlepas dari tuntutan literasi yakni, membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Oleh karena itu literasi diambil dari serapan Bahasa Inggris yakni, Literacy merupakan sarana sumber belajar.
Bagaimama kaitan dengan judul di atas? Di masa pandemi corona 19 membuat kekacauan dalam pendidikan khususnya untuk mencetak generasi muda yang handal menuju generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter Pancasilais. Guru masing-masing setiap Mata Pelajaran (Mapel) memberikan pelajaran dan tugas kepada anak atau tugas membuat resume serta mengerjakan tugas sehingga untuk menilainya melalui WA ke ke guru -guru.
Program literasi sangat membantu upaya pencerdasan anak bangsa juga membuat anak cakap dalam bersikap, bertindak juga mampu menempatkan diri dengan baik. Oleh karena itu, program ini untuk tetap dilanjutkan hingga ke jenjang Sekolah Dasar (SD). Penulis telah mengikuti bimbingan dan seminar dari tingkat Kota Bogor, Jawa Barat di Ciloto Cianjur hingga tingkat nasional di Jogjakarta dan Kemendukbud RI di Jakarta.
Begitu penting dan bagus untuk memicu semangat siswa siswi dalam belajar. Begitu juga penulis akhirnya sering diundang untuk menjadi narasumber pembicara dan juri kepenulisan serta juri mendongeng (bercerita).
Oleh karena itu, dimana penulis, melaksanakan tugas atas kebijakan dan arahan kepala sekolah agar bisa diterapkan. Hasilnya banyak meraih prestasi selain di undang ke Diskarpus Kota Bogor, berjumpa Wali Kota Bogor hingga ke Jawa Barat oleh Wakil Gubernur Jawa Barat. Kini siswa siswi sudah melanjutkan ke sekolah negeri dan swasta bahkan sekolah di luar negeri.
Dalam mencetak anak pintar dan cerdas tidak mudah, karena literasi sangat terkait dengan mata pelajaran yang yang lain juga. Begitu juga menjadi tutor dan pembimbing literasi tidak bisa hanya dikhususkan kepada Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia. Sesuai dengan arahan Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mizwar pada waktu itu pertemuan Gerakan Literasi Jawa Barat termasuk Ilmu Teknologi, Matematika dan bidang eksakta lainnya merupakan rambahan program literasi.
Kebetulan di Indonesia masih rendah tingkat membacanya, padahal anggaran untuk ketersediaan buku cukup besar. Pemerintah juga telah menyiapkan anggaran untuk pembangunan gedung perpustakaan sekolah, akhirnya malah jadi gudang dan barang rongsokan.
Kenapa bisa begitu? Dukungan kebijakan bisa jadi kurang, bimbingan dan ketersediaan petugas harus dipikirkan oleh pemerintah. Hampir di semua sekolah yang menjadi Kepala Perpustakaan dan petugasnya guru aktif mata pelajaran diperbantukan. Tidak ada sarjana perpustakaan atau petugas khusus untuk perpustakaan. Ini salah satu faktor kurang ada minat membaca karena keterbatasan petugas.
Hal itu yang harus dipikirkan oleh pemerintah. Belum lagi perpustakaan masyarakat atau Taman Bacaan Masyarakat (TBM) nyaris tidak ada, penulis hanya menemukan beberapa TBM atau Rumah Baca saja di Jawa Barat. Itu pun sarana penunjangnya tidak lengkap seperti rak buku dan komputer. Buku berserakan bahkan numpuk bekas membaca anak-anak. Juga buku-buku spesialis dan fokus kearifan lokal hampir tidak ada.
Pemerintah khususnya Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsifan Daerah, enggan turun ke lapangan untuk memberikan penyuluhan dan sosialisasi. Setelah penulis tanya jawaban seputar ” anggaran tak ada”. Keterpurukan untuk membaca di pedesaan tambah diperparah dengan gurunya pun kurang memberikan contoh mengajak murid ke ruang perpustakaan sekolah atau ke Rumah Baca yang ada di kampung sebelah, atau ke perpustakaan daerah apalagi ke Perpustakaan Nasional.
Jawabannya tambah selain tidak ada anggaran juga tidak tersedianya waktu. Semakin jauh dari harapan atau istilah lainnya “jauh panggang dari api”. Minat baca kurang, tak ada motivasi juga tidak tersedua buku yang bukan buku pelajaran.
Penulis sering berkunjung ke perpustakaan bahkan ke Perpusnas di Jakarta untuk mendapatkan buku alakadar untuk hadiah yang pelajar sudah bisa bisa membaca buku paling banyak dalam satu bulan juga sangat sulit. Belum lagi hampir tidak ada anggaran untuk biaya penelitian dan pencetakan (penerbitan buku) oleh para penulis lepas, hebat dan berkualitas individu tidak mendapatkan anggaran. Akhirnya mencetak sendiri dengan anggaran lumayan besar. Malah yang ada hasilnya buku itu dibagi-bagi secara gratis.
Penulis sangat merasakan hal itu, untuk mencetak sebuah buku “Antologi” malah urunan alias arisan dalam biaya percetakan, bukan mendapatkan royalti sebagai penulis malah tetap membayar. Jika tidak bayar lunas, karya penulis tidak diikutsertakan dalam buku tersebut. Semua adalah pekerjaan rumah atau PR pemerintah daerah hingga ke pemerintahan pusat. Akhirnya guru atau tutor literasi mengajak siswa siswi seadanya dan apa adanya.
Sedih iya, namun apa mau di kata. Tetap Literasi di Indonesia masih jauh dari harapan. Kendalanya dari mana sih? semangat para penulis numpuk coretan dan dokumen di kamar para penulis sangat baik dan berfaidah jika diterbitkan. Kejadian fatal saya sering kali menemukan ada pengarang di daerah hebat, berbakat karyanya cukup luar biasa begitu sakit tidak bisa ke dokter bahkan untuk membeli obat warung saja tidak ada uang. Padahal iya aktifis, pegiat literasi, penulis, tokoh masyarakat bahkan banyak embel-embelnya. Anehnya dalam setiap bulan bisa membeli buku ke toko untuk kokeksi buku rumah bacanya.
Sangat jarang penulis temukan manusia yang gigih dan selalu mengajak orang lain untuk gemar membaca dan gemar menulis dan sering terlibat di berbagai komunitas seni budaya dan gerakan pencerdasan bangsa. Ketaladanan seseorang perlu ditunjang dengan fasilitas juga aktivitas menuju luterasi di Indonesia perlu ditunjang dengan fasilitas. Bayangkan gerakan gemar membaca di kampungkampung dan desa tidak mudah dan amat kesulitan daya jangkau yang luas tidak ada kendaraan angkot .
Sangat setia dengan sepeda motor yang kurang layak di era mulenial ini. Ya apa boleh di kata. Terus bergerak dan bergerak mensosialisasikan orang kampung untuk gemar membaca.
Sarana Prasarana
Ukuran dalam kecerdasan bangsa bukan karena jalan bagus, dan rumah mewah serta gedung dan hotel mentereng. Ukurannya adalah adakah di desa-desa rumah baca atau kata tokoh literasi daerah “Pojok Baca Desa”. Ada berapa perpustakaan dalam suatu kecamatan yang bersifat masyarakat umum bisa memanfaatkan buku.
Fasilitas bisa dibangun oleh siapa saja tidak mesti pemerintah, bisa anggaran patungan (kencleng) warga, bantuanvsponsor, perusahaan atau diselipkan dalam Anggaran Dana Desa dan Dana Desa yang telah disetujui Badan Permusyawaran Desa (BPD). Jadilah desa cerdas dan kampung cerdas menuju Sumber Daya Manusia Unggul.
Sarana prasarana penunjang Program Kecerdasan Bangsa sesuai dengan Amanat UUD 1945 merupakan hak yang harus diperjuangkan. Menyentuh kepada martabat bangsa yang merupakan bagian hak asasi manusia.
Perjuangan Masa Pandemi
Untuk terus mengukir prestasi di masa Pandemi Corona 19, tetap harus dilakukan. Upaya terobosan melalui Gerakan Literasi Masa Corona harus tetap dilakukan. Ketersediaan buku yang bukan pelajaran harus tetap asa tanpa dibatasi. Banyak kesempatan bagi murud-murid maupun masyarakat untuk tetap “Sehat dan Cerdas”. Karena banyak membaca iya akan cerdas. Karena mengamalkan ilmu hasil membaca iya akan sehat.
Rasanya penulis sebagai guru, Kepala Perpustakaan Sekolah dan penggerak literasi tetap siaga dan membantu serta melayani murid murid yang mengembalikan buku dan akan meminjam buku, walau menurun drastis dari masa sebelum pandemi covid. Sudah mencapai 25 persen saja dari murid yang sekolah sudah sangat luar biasa baiknya.
Namun dari itu semua tentu diharap ada kerjasama guru dan wali kelas agar sampai informasi kepada wali murid atau orang tua murid sekaligus menyentuh langsung ke siswa-siswinya. Ingat “Perpustakaan adalah pembuka jendela dunia” dan “Membaca adalah merubah nasib melintasi dunia”.
Penulis adalah Penggerak Literasi di Kota Bogor





