Jakarta, — Kaukus Muda Indonesia (KMI) menilai lahirnya Danantara sebagai momentum strategis yang bisa mengubah arah ekonomi nasional. Sebagai lembaga pengelola dana abadi, Danantara dipandang mampu menghubungkan investasi global dengan kebutuhan domestik, sekaligus mengokohkan posisi Indonesia di panggung ekonomi dunia.
Langkah awal Danantara menarik dana 3 miliar dolar AS dari fasilitas kredit internasional senilai 10 miliar dolar AS menunjukkan kepercayaan pasar terhadap Indonesia. Dana tersebut akan diarahkan pada proyek strategis, mulai dari industri hilirisasi hingga energi bersih. Dengan target pengelolaan aset mencapai 900 miliar dolar AS, Danantara menargetkan kontribusi langsung pada pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.
Namun, peluang besar ini hanya dapat diwujudkan apabila disertai tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berintegritas. Lembaga pengelola dana abadi di banyak negara pernah menghadapi krisis kepercayaan karena lemahnya pengawasan. Indonesia harus belajar dari pengalaman itu, agar Danantara benar-benar menjadi fondasi ekonomi baru, bukan sekadar simbol ambisi.
“Generasi muda melihat Danantara bukan sekadar angka investasi, melainkan harapan masa depan. Tapi harapan itu hanya akan hidup bila disertai keterbukaan informasi dan akuntabilitas publik yang nyata,” ujar Ketua Umum KMI, Edi Homaidi, Sabtu (16/5/2025)
KMI memandang langkah Danantara menggandeng Qatar Investment Authority (QIA) membentuk dana patungan senilai 4 miliar dolar AS sebagai langkah strategis. Investasi bersama ini mencakup sektor energi hijau, teknologi, dan kesehatan, yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan arah pembangunan berkelanjutan.
“Kolaborasi global akan bernilai bila hasilnya terasa di dapur rakyat. Hilirisasi industri dan energi hijau harus diukur dari seberapa jauh ia menurunkan biaya hidup, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya saing,” kata Edi Homaidi.
Selain itu, KMI menggarisbawahi rencana konsolidasi BUMN Karya dalam tiga klaster besar. Reformasi ini dianggap penting untuk meningkatkan efisiensi, memperbaiki struktur insentif, dan mengurangi ketergantungan pada anggaran negara. Danantara diposisikan sebagai katalis perubahan dalam tubuh BUMN.
“Reformasi struktural seperti merger BUMN Karya adalah langkah yang tidak populer, tapi justru strategis. Dengan tata kelola yang lebih sehat, BUMN bisa menopang pembangunan tanpa menjadi beban fiskal,” ucap Edi.
KMI juga mendorong masyarakat sipil, kampus, dan generasi muda ikut mengawal perjalanan Danantara. “Legitimasi Danantara akan kuat bila publik dilibatkan sejak awal. Semakin terbuka prosesnya, semakin besar pula dukungan masyarakat,” pungkasnya.
Bagi KMI, Danantara bukan sekadar instrumen finansial, melainkan jembatan menuju kedaulatan ekonomi. Bila dikelola dengan transparansi dan akuntabilitas, lembaga ini bisa menjadi penentu sejarah baru ekonomi Indonesia.





