BOGOR (LEAD.co.id) | Sebanyak 40 delegasi dari Salutasi Kementerian Kemajuan Desa dan Wilayah (KKDW) Malaysia dan Kerajaan Negeri Perak menyambangi Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor pada Minggu (5/10/2025). Desa tersebut merupakan salah satu mitra Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim (DPMA) IPB University.
Rombongan delegasi dipimpin oleh Tuan Meor Ismail bin Meor Akim selaku Timbalan Ketua Setiausaha (Pembangunan) KKDW Malaysia, dengan didampingi oleh Encik Abdul Jalil bin Ismail selaku Pengarah Institut Kemajuan Desa (INFRA), Encik Mazlan Zurin bin Zulkifli selaku Timbalan Pengarah Pejabat Pembangunan Negeri Perak, serta Puan Intan Shafini binti Mustafa selaku Timbalan Pengarah Unit Perancang Ekonomi Negeri Perak.
Dalam kunjungan tersebut, para delegasi meninjau ragam produk olahan ubi khas Desa Benteng. Agenda berfokus pada pengenalan ekosistem bisnis berbasis ubi serta potensi wisata desa, mengingat Desa Benteng telah lama dikenal sebagai sentra pengembangan ubi sekaligus destinasi wisata lokal yang dikelola secara kolaboratif bersama IPB University.
“Kunjungan dari Malaysia ke Desa Benteng ini ingin mempelajari ekosistem bisnis ubi yang mencakup proses dari hulu hingga hilir”, ujar Dian Rahmah Fitri, Bidang Kewirausahaan Sosial DPMA IPB University.
Dian menambahkan, bahwa selain proses produksi dan pengolahan ubi, kunjungan dari Malaysia ini ingin melihat pola pendampingan dari DPMA IPB dan kolaborasi yang dilakukan dengan berbagai pihak sehingga mampu memperkuat daya saing produk.
“Ubi dan singkong merupakan komoditas unggulan dari Desa Benteng”, ujar Wiwin Wijayanti, Perwakilan Desa Benteng.
Selain itu, imbuh Wiwin, masyarakat Desa Benteng juga mengembangkan produk pertanian dan pangan hortikultura lainnya yang memiliki nilai ekonomi dan berpotensi mendukung pariwisata desa.
Dalam kesempatan tersebut, para peserta kegiatan mencicipi hasil inovasi warga yang mengolah ubi menjadi aneka pangan bernilai tambah, seperti egg roll, cookies dari singkong, dan aneka rebusan hasil kebun hortikultura. Olahan ini menjadi bukti nyata bahwa komoditas lokal dapat diangkat menjadi potensi ekonomi desa.
Tidak hanya berhenti pada sesi perkenalan produk, para delegasi juga diajak langsung ke lahan pertanian. Mereka meninjau dan mempraktikkan cara menanam singkong dan ubi. Kegiatan lapangan ini memberikan gambaran utuh tentang rantai produksi, mulai dari budidaya hingga hilirisasi produk.
Saat ini ubi dari Desa Benteng telah menembus pasar ekspor dengan tujuan Malaysia dan Singapura. Kolaborasi antar pihak, mulai dari akademisi, pemerintah desa, masyarakat petani, hingga mitra usaha telah berhasil meningkatkan daya saing komoditas lokal di pasar internasional. Hal ini merupakan wujud nyata dari aktivitas pendampingan petani sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilakukan IPB University melalui skema One Village One CEO (OVOC).
OVOC merupakan skema pengembangan ekosistem bisnis oleh IPB University yang menekankan aspek pengembangan masyarakat dan desa melalui komoditas unggulan berbasis kewirausahaan. Kehadiran OVOC sekaligus menegaskan komitmen IPB University untuk terus menjadi mitra strategis dalam pengembangan desa, baik di tingkat nasional maupun internasional.

