Site icon LEAD.co.id

Humanitalk: Jakhumfest Ajak Millenial Jaga Lingkungan

Humanitalk, Jakhumfest, Millenial, Jaga Lingkungan

Kegiatan Jakhumfest 2020 "Humanitalk" bertema “Youth for the Earth”, di Amphiteather M Bloc Space, Minggu (26/1/2020).

LEAD.co.id | Salah satu rangkaian acara Jakarta Humanity Festival (Jakhumfest 2020) di M Bloc adalah “Humanitalk”. Pada sesi tersebut, beberapa komunitas relawan hadir untuk berbincang dengan tema “Youth for the Earth”, di Amphiteather M Bloc Space, Minggu (26/1/2020).

Pada sesi Humanitalk sesi 1, Syamsul selaku Manajer Program Lingkungan Dompet Dhuafa, menyampaikan sebelum mengenal minyak tanah, orang tua atau nenek moyang zaman itu telah lebih dahulu memakai energi terbarukan.

Isu energi terbarukan, menurutnya, menjadi kontras dengan isu penggunaan bahan bakar fosil sepeti bensin, atau bahan lainnya. Untuk mengatasinya, yaitu dengan melakukan dua hal; pertama adaptasi, yaitu dengan mempelajari situasi kemudian beradaptasi, kedua mitigasi, yaitu dengan mengubah pola konsumsi manusia terhadap plastik dan bahan bakar fosil.

Selain itu Dilah Hadju, selaku Founder Tumbuh Hijau Urban menyampaikan, kegiatan komunitasnya kini lebih fokus pada anak-anak muda. Terutama yang di sekolah.

Menurutnya, kesadaran akan lingkungan harus ditanamkan kepada masyarakat sedini mungkin. Di Indonesia ada 4.000 lebih kegiatan kerelawanan. Tumbuh Hijau Urban mulai bergerak tahun 2010, namun secara resminya lahir di tahun 2017.

“Kegiatan kami lebih banyak kepada anak-anak sekolah. Karena kami meyakini kesadaran sejak dini sangatlah penting,” Dilah Hadju.

Diet Kantong Plastik

Pada sesi bincang-bincang (Humanitalk), Manajer program Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Dithi Sofia menyampaikan, pengelolaan sampah di negara-negara maju lebih baik dibanding dengan negara-negara berkembang.

Menurutnya, faktor supaya diet kantong plastik terlaksana adalah melalui advokasi, edukasi masyarakat, dan peraturan penguasa. Dari situ disimpulkan bahwa untuk mengatasi masalah sampah, harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Ada lima jenis sampah plastik sekali pakai yang menjadi problem utama, yaitu kantong plastik, kemasan makanan, styrofoam, sedotan, dan scrub.

Tenia selaku pendiri Divers Clean Action, mengatakan jika laut sudah penuh dengan sampah, ikan-ikan di dalamnya pasti akan tercemar serta ekosistemnya tidak akan sehat. Sedangkan di Indonesia masyarakat banyak yang hidupnya dari laut, seperti nelayang-nelayan di pesisir.

Hal tersebut juga tidak lepas dari fenomena banyaknya pihak yang mulai peduli akan isu-isu kemanusiaan maupun kebencanaan. Sejak tahun 2019, Jakhumfest pertama kali digelar dengan mengajak para millenial untuk lebih peduli pada isu-isu sosial, kemanusiaan, dan lingkungan melalui berbagai aktivitas. (Humas DD/Red)

Exit mobile version