Peringati Hari Gizi, Dompet Dhuafa Ajak Cegah Stunting dari Hulu ke Hilir

oleh -252 views
Hari Gizi, Dompet Dhuafa, Stunting
Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa saat meluncurkan gerakan Sahabat Relawan ASI (SERASI), Kamis (23/1/2020)

LEAD.co.id | Salah satu masalah gizi di Indonesia yang masih menjadi keprihatinan bersama adalah ‘Stunting’ atau pertumbuhan tidak optimal (kerdil). Berdasar data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen.

Melihat hal itu, Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa meluncurkan gerakan Sahabat Relawan ASI (SERASI) dalam memberikan pendampingan dan edukasi tentang betapa pentingnya ASI untuk pencegahan stunting.

Kondisi stunting ini perlu disadari oleh kalangan millenial, terutama upaya yang bisa dilakukan sejak remaja, persiapan pranikah sampai dengan menikah dan optimalisasi 1000 hari pertama kehidupan yang dimulai dari masa kehamilan sampai lahir dan anak berusia 2 tahun.

“Menjadi kunci penting dalam membangun kesadaran hidup sehat serta dapat mencegah dan melahirkan generasi bebas stunting”, tambah dr. Yeni Purnamasari, MKM., selaku General Manager Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa melalui siaran pers yang diterima LEAD.co.id, Minggu (26/1/2020).

Baca :  DMC Dompet Dhuafa Ringankan Beban Pengungsi Gempa di Halmahera

Momentum hari gizi nasional ke 60 tahun 2020 ini mengambil tema Gizi Optimal untuk Generasi Milenial, menyoroti perihal stunting.

Indonesia disebut mengalami triple burden masalah gizi, yaitu defiesiensi kalori dan protein dengan angka 3 diantara 10 balita stunting (30,8 %), 1 diantara 10 balita wasting (10,2 %), 2 diantara 10 balita underweight (17,7 %), kelebihan kalori dengan data 1 diantara 10 balita obesitas (8%), dan defisiensi zat gizi mikro dengan data 1 diantara 2 ibu hamil menderita anemia (48,9 %) dan 3 diantara 10 remaja menderita anemia (Riskesdas 2018).

Baca :  HPN 2021: Dompet Dhuafa Gelar Swab Antigen Gratis untuk Jurnalis

Dari tiga beban tersebut, stunting menjadi permasalahan serius yang memerlukan perhatian dan intervensi berbagai pihak. Stunting menjadi salah satu tolok ukur HCI (Human Capital Index) Indonesia. HCI Indonesia sendiri pada tahun 2018 adalah 0,53 atau berada di peringkat ke 87 dari 157 negara.

Data tersebut akan mampu memperkirakan anak-anak Indonesia yang lahir saat ini, 18 tahun kemudian hanya dapat mencapai 53 persen dari potensi produktivitas maksimumnya. Sehingga HCI dapat dijadikan rujukan untuk melihat tingkat pencapaian pembangunan SDM di Indonesia dan merancang prioritas dan target pembangunan nasional yg selaras dengan SDGs.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek untuk usianya, mengalami hambatan perkembangan kognitif dan motorik serta akan mengalami gangguan metabolik (beresiko terkena penyakit tidak menular seperti diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung) pada saat dewasa.

Baca :  Pancasila dan SKB 3 Menteri

Dompet Dhuafa dalam mengatasi dan mencegah stunting, lebih besar pada upaya edukasi dan pendampingan keluarga mengenai pentingnya optimalisasi melalui program Jaring Kesehatan Ibu dan Anak (JKIA). Periode remaja, edukasi pentingnya sadar reproduksi sehat dan menjaga asupan gizi seimbang dilakukan dalam program Kesehatan Reproduksi (Kespro).

Program tersebut dilaksanakan di 12 provinsi di Indonesia diantaranya di Aceh, Jakarta, Jawa Barat, Banten, Sumatera Selatan, Jogja, Purwokerto, Sulawesi Selatan, NTT, NTB, Jawa Timur dan Papua. (Humas DD/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *