Ibadah Haji dan Qurban, Meningkatkan Kesalehan Sosial

0

Oleh : Imam Sunandar

Idul Adha merupakan manifestasi dari ketulusan berkorban, kerendah hati untuk melakukan refleksi historis dalam mengenang perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail.

memaknai nilai-nilai spiritual dari manasik haji bermuara pada nilai-nilai kepedulian, ketakwaan, dan kesalehan sosial berupa ketulusan memaafkan, pentingnya silaturahim, dan etos berbagi yang disimbolkan dengan memberikan daging kurban pada Idul Adha,”

berangkat dari panggilan iman dan berbuah kemanusiaan universal, terutama aktualisasi nilai-nilai hak asasi manusia, seperti diteladankan Nabi Muhammad saw dalam khutbah wadanya di saat wukuf di Arafah.

Baca :  Pemkot Bogor Berlakukan Protokol Kesehatan untuk Idul Adha

Haji tidak hanya sebagai kewajiban dan rukun kelima dalam Rukun Islam, melainkan ia sebagai ibadah sosial. Kerinduan kepada Allah dan nabi menjadi unsur utama dalam menjalankan ibadah ini, di sinilah mereka dikumpulkan dari berbagai ras, etnik, suku dan bangsa. Di antara makna sosial haji yang menghubungkan antara manusia dan manusia lainnya sebagai makhluk sosial adalah antara lain penyadaran akan adanya kebhinekaan umat Islam.

“Umat Islam harus sadar bahwa kebhinekaan umat Islam itu tidak bisa dihindari, karena adanya perbedaan adat-budaya, pemahaman keislaman, tingkat intelektualitas, bahasa, dan lain sebagainya. Kebhinekaan umat Islam merupakan sebuah realitas yang niscaya ada,”

Baca :  LP3MM Ancam Polisikan Ketua KNPI Kota Kendari

Kesadaran akan kebhinekaan umat Islam yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji semestinya dapat meningkatkan kesadaran kita akan kebhinekaan umat manusia dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Jika dalam ibadah haji kita mampu melebur dalam ikatan ukhuwah islamiyyah dan mengabaikan segala perbedaan mazhab, ras dan kelas sosial, maka seyogyanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita pun mampu melebur dalam ikatan ukhuwah insaniyah dan mengabaikan segala perbedaan termasuk perbedaan agama dan keyakinan”.

 

Penulis adalah Wakil Ketua Bidang Sosial DPD KNPI Kabupaten Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here