IESS Minta Pemprov DKI Perhatikan Ekstraksi Penggunaan Air Tanah yang Berlebihan

oleh -352 views
IESS, Pemprov DKI, Ekstraksi, Air Tanah

JAKARTA (LEAD.co.id) – Air merupakan kebutuhan utama dari manusia, seperti sudah kita sadari bersama bahwa air tanah Jakarta menjadi tumpuan harapan warga Jakarta dalam pemenuhan kebutuhan air bersih. Hal ini dimungkinkan karena sistem penyediaan air bersih yang sudah ada tidak menjangkau semua warganya.

Direktur Eksekutif Institute For Enverionment And Sustainable Studie (IESS) Mulyawan mengatakan, Laju penurunan muka tanah adalah 6cm/ tahun. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan air tanah.

“Kalau penggunaan air tanah besar kemungkinan menyebabkan subsiden. Jakarta kehilangan begitu banyak air tanah, terbukti dengan penerimaan pajak air tanah sebesar 78,58 Milliar Rupiah sedangkan pendapatan PAM jaya 2,7 Teriliun Rupiah, lantas siapa yang harus bertanggung jawab?,” ujarnya.

Baca :  Pantau Antrian Di Stasiun Bogor, Bima Arya: Lebih Padat Namun Terkendali

Mulyawan menambahkan, kebutuhan standar penggunaan air 150 liter/hari untuk 10,6juta jiwa maka kebutuhan air di DKI Jakarta mencapai 1,58 Miliar Liter setiap harinya. Sampai hari ini PAM Jaya sebagai unit penyedia air di DKI Jakarta hanya mampu memenuhi sekitar 50-60 persennya.

“Bahwa betul PAM Jaya belum mampu memenuhi 100% kebutuhan air, ini lantas bukan menjadi alasan untuk mengekstraksi air tanah secara berlebihan. Pendapatan dari pajak penggunaan air tanah sangat tidak sebanding dengan pendapatan pajak yang didapatkan DKI,” ujarnya.

Lanjut Mulyawan atau sapaan akrabnya Wawan, dampak penggunaan air tanah yang berlebihan ini akan menjadi bencana bagi DKI Jakarta jika tidak segera dilakukan perbaikan-perbaikan serta evaluasi secara holistik.

Baca :  Minimalisir Antrean Pengguna KRL, Pemprov DKI Siapkan 50 Bus Untuk Pekerja Asal Bogor

Di saat yang sama, Direktur Eksekutif IESS meminta semua pihak untuk melakukan kerjasama seperti Apartemen, Hotel, dan Gedung-Gedung tinggi di DKI Jakarta serta meminta Pemerintah Provinsi DKI Segera melakukan dokumentasi sumur-sumur air tanah yang digunakan warga.

Hal ini dilakukan demi mencapai kebaikan bersama agar Jakarta tidak tenggelam seperti yang diramalkan oleh banyak peneliti-peneliti. Kita bisa temukan banyak artikel-artikel dalam jurnal ilmiah tentang laju penurunan muka tanah DKI Jakarta sangat cepat, dan meramalkan Jakarta akan tenggelam pada tahun 2050 bahkan beberapa meramalkan lebih cepat.

Baca :  Jumlah Sampah Malam Tahun Baru 2023 di DKI Menurun

“Dengan begini, hal ini bisa menahan laju penggunaan air tanah. Persoalan yang dihadapi saat ini adalah persoalan yang sangat serius, sehingga IESS bersama dengan berbagai pihak akan segera melakukan kajian tentang laju penurunan muka tanah dan penggunaan air tanah di DKI Jakarta,” tutup Mulyawan.

Reporter: Jay
Editor: Aru Prayogi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *