Site icon LEAD.co.id

Inmemorial Dosenku R Widodo, ingat buku The Ocean

Inmemorial, Dosen, R Widodo, Buku, The Ocean

Almarhum Ir R Widodo saat bersama dengan mahasiswanya [File: Apendi Arsyad via LEAD.co.id]

Oleh: Dr Apendi Arsyad

Saya tertegun sejenak, ikut sedih setelah membaca postingan di WAG Alumni Faperikan Samudera C.17-81, ada berita duka atas berpulang kerahmatullah/ wafatnya bapak Dosen Fakultas Perikanan (Faperikan) Institut Pertanian Bogor (IPB) Bapak Ir R Widodo.

Saya hanya bisa berucap dengan Asma Allah: Innalillahi waiinaillahi rojiun. Saya turut berduka cita atas wafatnya bapak Dosen senior kita bpk Ir.Widodo, beliau adalah dosen mata kuliah Ekologi Perairan (Ekper) pada thn 1981-1982 di Faperikan IPB Bogor.

Mohon.izin saya.bernarasi sekilas mengenai sebuah peristiwa lama yang sangat berkesan dalam hidup saya dengan Bpk Ir.R Widodo, asal etnis Jawa yang cukup meddok bahasanya, berpenampilan sederhana dan gemar banyolan-melucu. Terkadang beliau pak Wid, biasa kami panggil, mau “ngariung” dengan mahasiswa di teras/ruang lobby Fakultas.

Ketika saya AA diberi amanah menjadi Ketua Kelas Angkatan (Komti), saya punya kenangan “indah” dgn almarhum pak Wid. Gara-2 buku teks The Ocean yg saya pinjam “hilang” sejenak, sehingga alm ketika saya ke rumahnya, beliau menunjukan ekspresi “marah”. Memang saya maklum, pada 2-3 hari lagi jadwal UAS untuk mata kuliah Ekologi Perairan (Ekper) yang beliau ampu, kuliahkan di ruang kelas dan akan diujikan.

Bukunya berjudul The Ocean, buku lama (jadul), covernya saja sudah “burek”, lusuh alias kusam warnanya, tapi bagi pak Wid sangat bernilai tinggi, karena menyangkut sejarah romantika hidupnya. Buku The Ocean itu pun “hilang” oleh saya, padahal sumber rujukan soal materinya ada di buku itu. Dengan kata lain beliau sangat memerlukan buku The Ocean untuk dijadikan rujukan untuk membuat soal UAS.

Bpk Wid tentu sangat kesal krn saya datang ke rumah atas perintahnya, untuk menemui beliau dgn maksud menanyakan keberadaan buku The Ocean tersebut.

Ketika saya sampai di teras rumahnya, mukanya cemberut.melihat saya, dan saya tetap posisi berdiri dimarahi beliau di teras rumah, saya tidak dipersilakan masuk, krn buku yang beliau minta tidak saya bawa ke rumahnya.

Saya sdh katakan berkali-kali bahwa buku tsb sudah saya titipkan ke ibu dosen Sri yg duduk se ruangan dgn bpk Wid. Jawaban saya tidak digubris, beliau tetap marah kepadaku.

Dengan nada suara yang agak tinggi, terlihat marah dari ekspresi wajahnya, saat itu saya hadapi dengan tenang, sambil saya berkata dalam hati inilah salah satu resiko menjadi pemimpin/Komti. “Siapa takut” ?, saya harus hadapi.dan penuh tanggungjawab, dan tidak boleh cengeng. Saya pun berkata-kata lagi, selain ucapan kata memohon maaf kepada bapak Widodo. Kemudian beberapa saat kami pun terdiam.

Beberapa menit setelah itu, beliau (alm pak Wid), dia pun berkata; saya perintahkan kamu Apendi, agar mencari buku itu sampai dapat. Kemudian beliau pun bergumam saat itu dengan kesalnya “saya tidak mau tahu” bagaimana kamu mendapatnya.

Saya pun pulang dari rumah pak Wid, agak sedikit “sempoyongan”, dengan segala rasa penasaran di benakku (masak buku itu, kok bisa hilang?), sebab saya yakin buku The Ocean milik pak Wid; saya saya pinjam beberapa hari untuk difhotocopy buat teman-2 mhs sebagai materi kuliah yang telah diajarkan pak Wid dan menjadi bahan persiapan ujian. Saya berkeyakinan waktu itu, buku The Ocean tersebut pasti ada di meja ibu dosen Sri (maaf saya lupa nama.lengkapnya, “teman dekatnya” bpk Prof Dr Meno Fatria Boer, itu doeloe).

Alhamdulillah buku The Ocean itu berhasil saya temukan, ditempat yg saya sebutkan. Besok harinya saya antarkan buku the Ocean ke rumahnya pak Wid di daerah Perum dosen IPB Ciheulet Kota Bogor, suasana kami bertemu waktu itu jadi berbalik, pak Wid senang sekali dgn wajah tersenyum ceria atas kehadiran saya berhasil mengembalikan buku The Ocean miliknya itu. Beberapa saat memandang wajah saya. Lantas beliau nampaknya “kasihan” lihat saya, setelah buku saya serahkan pak Wid. Saya diminta mendekat ke beliau, “…kamu Apendi ke sini..” Seketika itu saya diberitahu bocoran kisi-2 soal UAS Ekper, yg akan diujikan esok harinya.

Pak Wid memberi tahu kepada saya materi ujian besok, kisaran materi soalnya yang harus pelajari antara lain: definisi, faktor-2 dinamika, type dan karakteristik ekosistem perairan etc.

Setelah aku pulang, barangtentu perasaanku lega, senang krn sdh diberi maaf oleh pak Wid, dan bahkan diberi tahu kisi-2 dan substansi soal UAS Ekologi Perairan (Ekper). Pada saat itu, beliau bergumam, …”saya kasihan lihat kamu Apendi sebagai Komti, barang tentu belum sempat belajar dengan waktu yang cukup, karena disibukan mencari sampai dapat buku kenangan ini The Ocean”, yang bpk perintahkan.

Saya pun saat itu spontan, ikut terkejut dan sangat senang serta gembira mendegar kata-2 pak Wid, atau dengan bahasa lainnya hati ini pun “berbunga-bunga”. Mengapa tidak, yang tadinya beliau marah kepada saya membuat perasaanku tertekan (stress) dan gundah-gulana, sekarang berbalik “sayang” berempati dengan nasibku, saya mendapatkan “durian runtuh”, jika meminjam pribahasa Melayu Riau kampungku, atau “sesangsara membawa nikmat”, memimjam bahasa sastra Sinetron, subhanallah walhaldulillah.

Besok harinya saya berangkat ke kampus Faperikan IPB Br Siang Kota Bogor (yang kini telah menjadi lokasi pusat bisnis, Mal Botani Square), saya cukup percaya diri mengikuti ujian pada hati itu.

Alhamdulillah pak Wid orangnya jujur, ternyata soal-2 ujian Ekper, ada 6 soal yg dikeluarkannya persis sama dengan apa yang beliau sampaikan kepada saya sehari sebelumnya.

Mengapa pak Wid “marah”, kesel dan kemudian merasa senang (happy) dengan saya; ternyata buku The Ocean itu adalah pemberian sahabatnya, teman dekatnya alias “pacar”nya, yang pernah sama melakukan penelitian kelautan di dalam sebuah kapal riset kelautan, kerjasama beberapa negara, kawasan di dunia.

Beliau tidak bercerita rinci.kepada saya tentang kapan, dimana dan siapa nama orangnya si gadis itu?. Tetapi memang ada, sempat terbaca oleh saya pada bagian dalam halaman cover buku The Ocean itu, ada bubuhan tandatangan basah dari seorang wanita “bule”, yang menulis singkat bahasa kenangan, romantis kira-2 begini maknanya “I love you Mr.Wid”.

Demikianlah secuil kenangan saya dengan dosen seniorku bapak Ir R Widodo; yang sering kami panggil sehari-hari dengan akrab pak Wid, orangnya ramah dan bsnyak senyum serta terkadang suka guyonan dengan para mahasiswanya. Memang bapak Ir R Widodo termasuk salah seorang dosen Faperikan IPB yang dekat dengan para mahasiswa, suka melucu dan banyolan, suka “heraian” bahasa Sundanya

Selamat jalan bpk Wid menghadap keharibaan Tuhanmu Allah SWT dengan tenang dan penuh kedamaian. Al Fatihah.. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afii wa’fuanhu.

Semoga Allah SWT menempatkan arwahnya di SyurgaNya Allah dan husnul khotimah. Amiin-3 YRA..

Penulis adalah Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor; Konsultan K/L nrgara, Aktivis Ormas, Pegiat dan Pemerhati Sosial

Exit mobile version