Inmemorial Almarhum Kang Hidayat Syarif

oleh -1,119 views
Inmemorial, Almarhum, Hidayat Syarif
Capture Ucapan Belasungkawa kepafa almarhum Prof Dr Ir H Hidayat Syarif MSc dari MD KAHMI Bogor

Oleh: Dr Apendi Arsyad

Siang Rabu itu (28/7-2021) sekitar pukul 13.30-15.30 wib, kebetulan saya ada tugas akademik, saya sedang menguji hasil Praktek Kerja Lapang (PKL) mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor melalui aplikasi Zoom Meeting. Sebagai penguji tamu saya bertindak, dan mendapat giliiran pertama bertanya?.

Selesai saya menguji kira-kira jam 14.15 wib, setelah mengajukan beberapa pertanyaan untuk menganalisa tingkat kemampuan mahasiswa. Maka tiba-tiba hati ini tergerak untuk membuka isi pesan HP, dishare di WAG ICMI Bogor dan WAG teman-2 Korps Alumni HMI (Kahmi) Daerah Bogor.

Dengan perasaan penuh haru, sedih dan kaget membaca pesan WA dengan kalimat yang tertulis sbb: “Innalillahi wainna illahi roujiun telah berpulang kerahmatullah senior kita, kakanda Prof Dr Ir H Hidayat Syarif MSc di RS Ummi Kota Bogor sekitar jam 13.15 wib”. Begitu bunyi pesan dari beberapa WAG tersebut.

Dengan membaca berita duka tersebut, saya tertegun sejenak, sambil membaca surat ulumul Quran Al Fatihah, disertai dengan beberapa surat pendek (Juz Ammah), seraya berdoa dengan khusuk, memohon kepada Allah SWT semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, menempatkan arwah almarhum Kang Dayat, begitu saya panggil kesehariannya, Sang Professor asal Garut-etnis Sunda ini, yang kini telah wafat.

Sewaktu membaca berita duka itu, ujian PKL mahasiswa Agribisnis belum selesai. Saya pun mengkuti ujian lanjutan dari kedua dosen pembimbing mahasiswa itu, tidak bisa lagi fokus dan berkonsentrasi. Saya minta izin tidak melanjutkan ujian sampai selesai, karena berkeinginan kuat untuk bisa melayat ke rumah duka dan atau ke RS Ummi Bogor.

Biasanya di masa pandemi Covid 19 yang sedang mengganas, saya enggan keluar rumah. Banyak sahabat dan orang-2 yang amat saya hormati wafat, saya cukup berkirim doa saja dari rumahku. Tapi anehnya tidak buat alm.Kakanda Prof Dr Ir H Hidayat Syarif, MSc, yang barusan wafat. Saya memutuskan segera berangkat ke kota Bogor untuk melayat ke rumah duka.

Istri dan anak-2ku sebenarnya melarang ayahnya keluar rumah, karens bahaya pandemi Covid 19 yang terus meningkat, dan saya tidak hiraukan. Begitulah kuatnya magnitude untuk mengucapkan belangsungkawa dengan keluarga alm Kang Dayat.

Dengan memakai masker dan faceshield yang rapi serta olesan sanitizer di tangan saya pun berangkat dengan membaca “basmallah”, menggunakan mobil pribadiku, barang tentu terus berdoa kepada Allah SWT agar perjalanan menuju rumah duka lancar.

Alhamdulillah berkat doa dan usaha diplomasi 2 (dua) pos PPKM pencegahan Covid 19 yang dijaga ketat banyak petugas Polisi, aparat Dinas LLAJR, yang saya lalui di jalan Bale Binarum dan pos Terminal Baranangsiang, lulus setelah saya dicegat dan saya berikan alasan mau melayat. Petugas Polisi akhirnya mengizinkan lewat (tidak putar balik), padahal nomor plat polisi mobilku ganjil, dan yang seharusnya boleh lewat hanya nopol genap, alhamdulillah, berkat adanya pertolongan Allah SWT.

Sesampai di rumah duka di Jln Ceremai nomor 1, tidak ada siapa2, kecuali para pembantu rumah tangga. Keluarga semuanya masih di RS Ummi, kata petugas rumah, jenazah masih di semanyamkan di RS, dan langsung dari RS jenazah alm.Kang Dayat akan diberangkat ke Garut, tempat alm dimakamkan.

Mendengar informasi tersebut, saya pun bergegas menuju RS Ummi beralamat di.daerah Empang Kota Bogor. Saya pun, alhamdulillah bisa bertemu keluarganya almarhum, bersalaman menyatakan turut berduka dengan istri dan anak-2 alm.. Kang Dayat. Selanjutnya saya menuju ke kamar mayat RS Ummi, dimana jenazah selesai dikapani kain putih ada disitu. Saya pun mensholatkan jenazah alm Kang Dayat, dan berdoa dengan khusuk. Kemudian ikut melepaskan keberangkatan jenazah dgn mobil jenazah IPB University menuju Kota Garut.

Acara pelepasan jenazah diisi sambutan dan doa, yang dipimpin oleh Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University, sahabatku Prof Dr Ir H Ujang Sumarwan, MSc, muridnya-didikan alm.Kang Dayat. Tepat pukul 17.30 Wib mobil.jenazah berangkat diiringi 3-4 mobil keluarga yang tengah berduka, di depan mobil jenazah ada mobil foreders dari petugas Kepolisian Kota Bogor, yang mengawal perjalanan ke Garut. Saya pun bersyukur berkesempatan mensholatkan jenazah, dan ikut acara pelepasan jenazah yang penuh haru.

Dengan perasaan haru, sedih, berduka dan pikiranku pun terbayang-bayang mengenang kebaikan-2 sosok dan vigur alm. Kang Dayat, begitu saya memanggilnya.

Memang selama hidupnya alm.Kang Dayat, Tuhan Allah SWT memberikan kesempatan kepada saya untuk berinteraksi lebih
intens dengannya untuk urusan sosial dan tugas-2 organisasi seperti: HMI Cabang Bogor, MD Kahmi Bogor, ICMI Orwil Khusus Bogor, dan belakangan urusan yang cukup intensif, berkomunikasi untuk urusan suksesi kepemimpinan Dewan Pembina Yayasan Pengembangan Insan Cita (Yapic) Bogor. Yapic kami dirikan bersama senior alm Prof Sjafri Mangkuprawira, alm Prof Soleh Solahudin, alm Prof Syarifudin Baharsyah dan banyak lagi yang lain, Yayasan ini berdiri tahun 1994, subhanallah hingga sekarang masih tetap eksis dalam membantu program dan pelaksanaan kegiatan pengkaderan (diklat) bagi adik-2 HMI Cabang Bogor dll.

Dengan wafatnya alm.Kang Dayat, saya bersama kawan2 baik senior maupun yunior Kahmi.Bogor, sepertinya saya merasa sangat kehilangan seorang tokoh Panutan bagi kami komunitas alumni HMI (KAHMI) Daerah Bogor dan juga ICMI Wilayah Khusus Bogor, juga bahkan level nasional.

Baca :  Inmemorial Alm. Ibu Astuti Rais Ahmad

Sebenarnya dilihat dari usia saya dengan alm.Kang Dayat sangatlah jauh beda jaraknya, begitu juga dilihat dari asal daerah—juga berbeda. Saya berasal dari daerah Kuansing Riau, sedangkan alm.Kang Dayat berasal dari tanah Sunda, tepatnya Garut (asgar) Jawa Barat, bahkan berlainan pulau.

Alhamdulillah berkat bergabung dan aktif di kepengurusan HMI Cabang Bogor dan ICMI Orwil Khusus Bogor, saya bisa bergaul dan berinteraksi sosial dengan tokoh pendidik ini alm Kang Dayat.

Hubungan saya dengan alm.Kang Dayat sangatlah dekat, dapat dikatakan seperti hubungan “adik-kakak” yang direkat oleh sebuah pemahaman cita-2 yang sama dan ikatan ideologi “Insan Cita HMI” yakni insan akademis, pencipta, pengabdi, bernapaskan Islam dan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

Selama menjadi mahasiswa IPB dan ikut aktif di kepengurusan HMI Cabang Bogor sebagai Sekum tahun 1983-1984, mengikuti tradisi HMI, saya sbg yunior harus menjalin komunikasi dengan senior HMI. Salah seorang senior HMI itu adalah alm.Kang Dayat, bukan saja beliau pernah menjadi Ketua Umum HMI Cabang Bogor thn 1974-1975, tetapi beliau sebagai alumni HMI, warga KAHMI yang sukses dan dengan karier pengabdian yang luar biasa, terhadap masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang tengah giat membangun.

Almarhum Kang Dayat adalah seorang Dosen senior yang penuh dedikasi dalam mengajar dan mendidik mahasiswa, seorang peneliti yang produktif dengan hasil-2 riset menemukan beberapa inovasi yang kemudian menjadi kebijakan publik dan sejumlah regulasi untuk kesejahteraan rakyat, dan almarhum memangku sejumlah jabatan akademik tertinggi, Guru Besar (Professor) pangan dan gizi pada Jurusan Program Studi GSMK Faperta IPB University, yang begitu banyak karya-2 ilmiah yang bermanfaat bagi negara dan bangsa dan meluluskan atau mengkader ratusan Sarjana, Magister Sains dan Doktor pada bidang keahlian pangan dan gizi keluarga, yang kini mereka sujses berkiprah di berbagai Kementerian dan Lembaga (K/L) baik di level daerah, nasional, regional dan bahkan global.

Almarhum Kang Dayat seorang profesional yang berdidikasi tinggi, pekerja keras dan jika diberi amanah beliau bekerja penuh tanggungjawab dan tuntas, tidak suka menunda-nunda pekerjaan serta orangnya ngemong, terutama mengarahkan adik-2nya agar sukses belajar di sekolah. Hal ini sebagaimana pengakuan adik kandungnya Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin MSc/GB Statistik dan Biometrika FMIPA IPB Univesity, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta, yang disampaikan dalam sambutan acara tahlilan Kahminas (Kamis malam tgl 29/7-2021) secara daring (online).

Alm.Kang Dayat di.masa muda adalah yunior, “anak didik”, salah seorang “asuhan” menjadi kader dari Rektor IPB, yang legendaris alm
Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasition, MSc; dan Rektor IPB tokoh angkatan 66/penumpas PKI alm Prof Soleh Solahuddin, yang juga orang “Asgar” sekampung dengan alm. Kang Dayat dan mantan Mentan RI era Presiden Prof.BJ Habibie, dll. Sehingga ilmu pengetahuan dan pengalaman para seniornya turut mempengaruhi karakter, profesi- pekerjaan dan kariernya yang gemilang.

Berkat ketekunan, kerja keras dan kerja ikhlas almarhum sejumlah jabatan pernah dipangku alm Kang Dayat, pernah sebagai Ketua Jurusan GSMK, dan Wakil Dekan 1 Bidang Akademik Faperta IPB, selama mengembang amanah jabatan struktural ini, aktif melakukan penelitian, sehingga beliau berhasil melahir karya-karya besar yang bermanfaat bagi masyarakat di dunia pendidikan, kesehatan-gizi keluarga, dan pertanian-pangan.

Dengan kelincahan dan kegesitan dari alm. Kang Dayat rajin dalam membangun jejaringan kerjasama dengan Birokrasi Pemerintahan (K/L) negara, dan organisasi pangan/pertanian, kesehatan Internasional, termasuk Bank Islam Internasional.

Kepeloporannya dalam mengangkat isu-2 strategis dan inovasi terhadap kebutuhan pangan dan gizi keluarga, akhirnya diterima, diakui dan diadopsi menjadi public policy oleh berbagai pihak Kementerian dan Lembaga Negara (K/L), salah satu diantaranya Bappenas RI.

Atas keberhasilannya itu, alm. Kang Dayat pernah memangku jabatan sebagai Kepala Biro (Karo) yang cukup strategis dan prestisius yakni Karo “Pendidikan, Agama, Kebudayaan dan Olahraga”. Atas keberhasilannya, kemudian beliau diangkat menjadi salah seorang Deputi urusan yang sama di Bappenas RI. Setelah dari Bappenas, alm.Kang Dayat dipromosikan dan menjabat sebagai Sekjend Depdikbud RI di Senayan Jakarta.

Salah satu yang membuat saya terkenang jabatan strategis alm.Kang Dayat, beliau adalah yang menandatangani SK pengangkatan Jabatan Lektor Kepala (Assosiate Professor) saya atas nama Mendikbud RI, pada tahun 2000 yg lalu, hingga kini arsipnya masih tersimpan rapi di rumahku.

Selain itu, yang membuat saya kagum dan belajar dari alm Kang Dayat adalah beliau selama hidupnya, memiliki seabrek pekerjaan dinas dan padatnya tugas jabatan baik di kampus dan maupun di birokrasi Pemerintahan. Akan tetapi beliau kakanda Prof. Dr. Hidayat Syarif masih bisa dan mau meluangkan waktunya, tenaganya dan pikirannya bahkan hartanya untuk membina dan memberdayakan masyarakat bawah (kaum dhuapa), fakir-miskin (kaum fuqoro-masakin).

Sejak muda, dimana baru lulus dari IPB hingga di akhir hayatnya telah berhasil mendirikan, mengelola dan membesarkan beberapa Yayasan sosial. Yayasan tersebut memiliki program dan kegiatan sosialnya, yang telah banyak memberi manfaat bagi rakyat. Sebut saja diantaranya yang sukses berkiprah di sektor pendidikan dasar dan menengah hingga saat ini yakni Yayasan Bina Bangsa Sejahtera (BBS).

Baca :  Bang Aznan: Dialog Kemajuan dan Peradaban Cerenti Madani

Yayasan BBS yang alm Kang Dayat didirikan bersama kawan-kawannya, hingga kini telah memiliki pendidikan TK, SD, SMP dan SMA BBS di kawasan Batu Wulung Kota Bogor Barat, yang tak begitu jauh dari kampus IPB Darmaga. Sarana-prasarana pendidikannya lengkap, pendidikan dengan kurikulum terpadu imtaq dengan ipteks, dengan jumlah anak didiknya cukup banyak. Pengelolan pendidikan profesional dan modern, sehingga pendidikan bermutu dengan indikator banyak lulusannya diterima di PTN exellence di negeri ini spt IPB, ITB, UI, UGM, UNAIR, UNDIP, UNPAD dll.

Keberadaan SMA BBS termasuk menjadi “buah bibir” di lingkungan dunia pendidikan Kota Bogor, karena prestasi siswanya pada olahraga Futsal. SMA BBS memiliki gedung pertemuan besar bernama Al Hikmah, yang keseharian dipakai sarana latihan dan pertandingan olah raga Futsal, SMA BBS selalu menjadi juaranya.

Ketika saya menjadi Ketua Dewan Pendidikan Kota Bogor (2013-2019), saya beberapa kali berkunjung ke SMA BBS dan saya mendapat laporan tentang kinerja sekolah BBS, bahwa memang sekolah menengah ini tergolong berkualitas sangat baik (akreditasi A), termasuk salah satu SMA Swasta favorit yang diminati oleh para lulusan SMP di Bogor, dengan peringkat tergolong sangat baik (tinggi) di tingkat nasional versi Kemendiknas RI.

Selain itu, alm Kang Dayat baru lulus Sarjana dari IPB, berhasil pula bersama kawan-kawannya para aktivis HMI alumni UIKA mendirikan Yayasan Tarbiyatul Muslimun (YTM), yayasan ini telah sukses menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMK YTM, beralamat di kawasan Malabar Ujung Kota Bogor, dengan muridnya cukup banyak, disertai bangunan gedung bertingkat yang bagus di daerah perkotaan.

Masih ada lagi Yayasan yang didirikan alm Kang Dayat bersama-sama para Sahabat Insan-cita yaitu Yayasan Agrosaintiani dan Yayasan Pengembangan Insan Cita (Yapic) Bogor. Yayasan Agrosaintiani bergerak dalam jasa konsultasi pertanian dan perdesaan. Pada tahun 1986 Yayasan ini bekerjasama dgn Folapmi, LSAF Jkt dah UIKA Bogor berhasil menyelenggarakan Pertemuan Nasional (Pernas) dan seminar nasional (Semnas) “Cendikiawan Muslim se Indonesia” dengan tema “Menyongsong Masyarakat Industri dan Informasi”, saya bertindak selaku Ketua Umum Panitia Pelaksana (OC) waktu itu, sedangkan alm.Kang Dayat sebagai salah seorang nara sumber (pemakalah) dan Penasehat OC.

Kemudian setahun berikutnya (September 1987) Yayasan Agrosaintiani berhasil melaksanakan Seminar Nasional (Semnas) “Pembangunan Perdesaan”, yang OC diketuai adiknya alm. Kang Dayat yakni Dr Asep Saefuddin, dan dilanjutkan kegiatan lainnya: pembentukan organisasi Forum Komunikasi
Pembangunan Indonesia (FKPI) sebagai tindak lanjut Pernas dan Semnas sebelumnya, FKPI kemudian, belakangan potensi SDMnya menjelma menjadi cikal bakal lahir organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (ICMI) di Universitas Brawijaya Malang 7 Desember 1990 dengan alm Prof BJ Habibie Ketum pertamanya. Saya dan alm Kang Dayat, alm Prof Sjafri, Ibu Hj. Prof Aida Vitayala Sjafri dan sejumlah kawan-kawan aktivis MD KAHMI Bogor terlibat aktif mendorong berdirinya ICMI.

Dari berbagai event ini, saya pun banyak berinteraksi dengan alm Kang Dayat, dan saling kenal mengenal; yang membuat kami saling bekerjasama. Ketika saya mendapat tugas dan mandat sebagai Sekretaris Panitia Pendirian Universitas Djuanda (UNIDA) Ciawi Bogor, alm Kang Dayat dan bersama adik kandungnya Dr Asep Saefuddin ikut membantu pendirian UNIDA Bogor, resmi berdiri tanggal 21 Maret 1987 dengan kampusnya terletak di ujung jalan Tol Jagorawi Bogor. Pernas dan Semnas Yayasan Agrosaintiani yang didirikan alm Kang Dayat, kami pernah melaksanakan kegiatan tersebut di gedung Yayasan PSPI di komplek Amaliyah Ciawi Kabupaten Bogor, yang merupakan kampus PTS UNIDA Bogor saat sekarang.

Acara Pernas dan Semnas dibuka pidato resmi (key notespeaker) oleh Menko Kesra alm. bpk Letjen (Purn) H Alamsyah Ratu Perwira Negara (dan jabatan sebelumnya beliau sebagai Menteri Agama RI di era Presiden RI Jenderal Besar Soeharto).

Untuk dimaklumi bahwa alm H Alamsyah adalah Ketua Dewan Pendiri Yayasan PSPI sebagai Badan Hukum Penyelenggara (BHP) UNIDA Ciawi Bogor, dan Ketua Umum Badan Pengurus Yayasannya alm Bapak Prof H Anton Timur Djaelani, MA (tokoh pendiri HMI bersama alm Drs H Lapran Pane di Yogyakarta tahun 1947).

Pada Yayasan Yapic Bogor, saya diberi kuasa oleh para pendirinya, diantaranya alm Kang Dayat, dan sekaligus menjadi Ketua Umum Badan Pengurusnya sejak didirikan tahun 1994 sampai tahun 2016 (lk 22 tahun) dan kemudian sejak thn 2016 saya diberi amanah menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Yapic, mendampingi senior Ir. H. Abas TS (mantan Dirut BUMN Perhutani) sebagai Ketua pembinanya. Yayasan Yapic, dimana salah seorang pendirinya dan anggota pembinanya adalah alm Kang Dayat.

Almarhum Kang Dayat menurut pengamatan dan pengalaman saya, beliau termasuk yang paling aktif untuk pengembangan sarana-prasarana Yayasan Yapic. Salah seorang yang selalu hadir dalam rapat Dewan Pembina bersama alm Prof Sjafri, alm Prof Soleh, alm Prof AA Mattjik dll adalah Alm Kang Dayat. Bahkan alm Kang Dayat sering menjadi tempat bertanyanya Ketua Pembina Yapic Prof Sjafri Mangkuprawira sebelum beliau mengambil keputusan penting dan strategis, sehingga tidak heran menurut penilaian saya alm Kang Dayat banyak jasa dan berkontribusi baik dalam hal tenaga, pikiran, dana maupun harta untuk membangun komplek wakaf GSMI-Yapic, termasuk sebagian tanahnya diwakafkan untuk areal komplek wakaf Gedung Serba Guna Mahasiswa Islam (GSMI) Yapic Bogor.

Baca :  Lestarikan Uma Tuo Kito di Caghonti

Berdasarkan data, lebih dari sepertiga luas tanah wakaf GSMI, 2500 m2 itu, berasal dari wakaf alm Kang Dayat, yang lokasi tamahnya berdempetan dengan komplek SMA BBS di daerah Batu Wulung Kota Bogor Barat, dekat CIFOR.

GSMI berdiri diatas tanah wakaf seluas 2500 m2, yang terdiri dari 2 gedung A dan B. Gedung A memiliki 2 lantai (460 m2) untuk sekretariat dan asrama para fungsionaris/pengurus HMI Cabang Bogor, sedang gedung B, gedung pusdiklat HMI Cabang Bogor, wakaf dari alm Prof Syarifuddin Baharsyah dan Prof Hj Yustika Baharsyah (keduanya suami-istri mantan Menteri negara RI), dengan ruang berkapasitas 30-40 orang, dilengkapi ruang tamu, dapur dan WC. Kesemua fasilitas yang ada di komplek GSMI digunakan sepenuhnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan program dan kegiatan adik-adik HMI dan sekretariat Majelis Daerah (MD) Korps Alumni HMI (KAHMI) Bogor.

Dari kerja-kerja sosial di Yayasan Yapic Bogor inilah saya banyak memperoleh kesempatan bertemu dengan alm Kang Dayat, saya sering ke rumahnya untuk bersilaturrahmi dan berkonsultasi serta minta nasehat-2nya.
Terlebih setelah wafatnya alm Prof Sjafri Mangkuprawira sebagai Ketua Dewan Pembina dan alm Prof Soleh Solahuddin sebagai Ketua Dewan Penasehat Yayasan Yapic, saya kehilangan tumpuan. Alhamdulilah alm Kang Dayat salah seorang penggantinya. Apabila ada masalah-masalah pelik (krusial) saya bersandar, mengadu, berkonsultasi dan minta saran-nasehat alm Kang Dayat di rumahnya, jln Ceremai No.1 Taman Kencana Kota Bogor, rumah yang indah dan luas.

Beliau, kang Dayat ketika saya datangi, walaupun kondisi sakit mata (glukomia) tidak bisa melihat, tapi alhamdulillah semangat menerima tamu kehadiran saya diterima dengan ramah. Pikirannya alm Kang Dayat cukup jernih dan cerdas berpendapat, dan berbicaranya pun sangat jelas bahasanya, jika menjawab beberapa pertanyaan konsultasi dari saya, Yundanya. Ketika itu kami berada di ruang tamu didampingi istrinya tercinta.

Terakhir beberapa bulan yang lalu (April-Mei 2021, masa pandemi Covid 19) saya bertamu ke rumahnya, berkonsultasi soal penggantian vigur Ketum Dewan Pengurus Yayasan Yapic, dan sekaligus pula menyampaikan surat permohonan pengunduran diri dari Ir. H. Abas TS sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Yapic. Beliau,… alm kang Dayat telah memberikan nasehat-nasehat dan wasiatnya melalui saya, yang sangat solutif dan kongrit.

Pelajaran apa sesunguhnya?, yang bisa kita petik (i’ktibar, lesson learn) dari kepribadian (watak) alm Kang Dayat yang berakhlaq mulia, salah satu diantaranya menurut saya adalah pola dan gaya hidup beliau, yang mampu memadukan dan mengintegrasikan (integrated) antara kerja-2 makro di Pemerintahan (policy maker) tanpa mengabaikan kerja-kerja sosial mikro (action programme, and social enfowering) untuk mengabdi pada masyarakat dengan menggunakan bendera di beberapa Yayasan sosial, yang tentunya bersifat nirlaba (bukan bisnis pribadi). Beliau dirikan Yayasan, dikelola secara profesional dan terus dibangun berbagai sarana-prasarana lengkap berbagai fasilitasnya hingga menjadi berkembang dan berkemajuan, serta bermanfaat bagi masyarakat-bangsa dan negara (NKRI).

Almarhum Kang Dayat seorang sosok dan vigur yang sangat layak menjadi panutan (role model) kita, terutama bagi para alumni Insan Cita-HMI. Sebab amat jarang kita temukan di lingkungan sosial, ada seorang sosok (profile) manusia yang selalu menjaga keseimbangan hidup antara kebutuhan material-spiritual, kepentingan dunia-akhirats dan kebutuhan individu-sosial, serta peran domestik (rumah tangga/keluarga)-publik (jabatan). Almarhum Kang Dayat telah berhasil menjalankan hidup berkeseimbangan itu dengan baik dan lancar. Ini merupakan suritauladan bagi mereka yang mau dan mampu mengambil pelajaran dari sosok vigur dan tokoh panutan kami ini.

Almarhum Kang Dayat selama hidupnya mampu menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan/kepentingan kehidupan yang berkah di dunia (material), dan mengumpulkan pahala dengan perbuatan amal sholehnya (spiritual) untuk kehidupan akhirats.menuju SurgaNya Allah SWT. InsyaAllah Alm Kang Dayat termasuk golomgan orang sholeh, sebab karya kemanusian alm Kang Dayat selama hidupnya, terutama untuk memajukan dunia pendidikan, gizi keluarga dan kesejahteraan sosial terdapat begitu banyak sebagaimana yang sudah disebutkan di atas.

Selamat jalan Kang Dayat, tokoh panutan yang amat kami hormati, kini menghadap Tuhanmu Allah SWT, Sang Khalik, Sang Pemiliknya, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Beristirahatlah dengan tenang dan damai di keharibaanMu yang Abadi, Surgajannatunnaim. Amiin-amin-amin YRA. Al Fatihah… AllahumaghfirlahumWarhamhum waafii wa’fuanhum.

Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi (Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor; Konsultan K/L negara; Aktivis Ormas (Sekwanhat MD Kahmi Bogor, Ketua Wankar ICMI Orwilsus Bogor, dll), Pegiat (Pendiri-Wakil Ketua Pembina Yayasan Yapic etc) dan Pemerhati Sosial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *