Intelektualitas: Antara Fakta dan Realita

oleh -601 views
Intelektualitas, Fakta dan Realita, Ace Sumanta
Budayawan Bogor, Rd Ace Sumanta

Oleh: Rd Ace Sumanta

Kata intelektual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Kemudian dengan kata intelektualitas secara morfologis adalah dengan kemampuan tinggi dalam meng-komunikasikan secara integralitas dengan masyarakat menyangkut soal buah pikiran tadi.

Dengan demikian merujuk pada definisi secara umum berarti ada nilai yang mendasari ilmu pengetahuan yang keterkaitan dengan pemajuan literasi. Sedangkan literasi merupakan istilah umumnya merujuk kepada seperangkat kemampuan maupun keterampilan individu dan kelompok dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung maupun hal-hal yang menyangkut kemampuan berpikir.

Menurut Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan, pakar Komunikasi Bahasa merupakan aspek kebahasaan yang harus dikuasai oleh para Ilmuwan. Tentu saja yang dimaksud oleh penulis adalah pengantar secara umum dalam memajukan program literasi.

Penulis merasakan saat ini tengah melaksanakan program intelektualitas melalui program literasi. Penulis memiliki koleksi buku, koran , dan majalah lebih dari tiga puluh ribu koleksi yang ada di “Rumah Baca Ace Sumanta”, suatu lembaga riset melalui koleksi buku-buku-buku dari berbagai genre ilmu pengetahuan.

Ini warisan intelektual dari seorang tokoh budaya dan penulis lepas. Banyak dijadikan rujukan bagi mahasiswa-mahasiswi yang akan memulai menyusun skripsi, tesis bahkan disertasi. Jalinan komunikasi dengan para calon intelektual dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia khususnya wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Baca :  Mapa Foundation Adakan Gerakan Literasi #4 di Kampung Tajurhalang

Tentu saja penulis sebagai pemandu yang kerap sering diminta narasumber dalam berbagai kegiatan seminar. Ada rasa bangga dengan dengan kehadiran Rumah Baca di perkampungan sekaligus miris dengan keberadaannya yang tentu saja banyak kekurangan dari hal fasilitas dan status bangunan yang selama ini mengontrak di rumah orang lain. Tanah ada dan bisa dibangun dengan kualitas yang memadai, namun biaya atau dana untuk membangun yang tidak memadai.

Oleh karena itu, sebagai budayawan dan penyair yang tentu saja penghasilan sehari-hari yang tidak seberapa memikirkan sesuatu yang besar. Terkadang ketidak-seimbangan antara fakta dan realita.

Penulis terkadang punya pemikiran apa iya aset buku dan dokumen sangat berharga itu dihibahkan atau disumbangkan ke pihak lain seperti perpustakaan sekolah atau perpustakaan daerah. Malah timbul kesangsian bagi perpustakaan sekolah terutama di daerah tidak maju. Tidak punya manajemen yang baik bahkan 80 % sekolah tidak memiliki perpustakaan. Malah lucu lebih mementingkan gudang ketimbang perpustakaan.

Baca :  Menkominfo Dorong Peningkatan Literasi Digital Bersama Komunitas Literasi

Maka dari itu secara akumulasi gerakan literasi sekolah nyaris gagal. Pantas saja Indonesia menduduki peringkat ke-58 dari 60 negara di dunia berdasarkan penelitian UNESCO. Berarti secara otomatis data UNESCO menyebutkan Indonesia dalam minat membaca amat rendah.

Presentase 0,001 persen atau dari 1.000 orang Indonesia hanya satu orang yang rajin membaca (Data dilansir 26 Januari 2022). Belum lagi bidang lainnya tentunya banyak tertinggal. Ini menjadi sebuah pemikiran dan studi bagi lembaga riset. Pemerintah harus berpikir keras soal rendahnya minat baca di Indonesia. Apalagi lebih rendah minat dalam penelitian.

Terkadang kalau kita buka di laman resmi pengeluaran anggaran untuk bidang itu cukup besar, namun hasilnya tidak memuaskan. Tentu saja sangat lemah dalam faktor pengawasan. Sebagai penulis tentu saja sangat miris. Di Indonesia profesi penulis dan peneliti masih jauh panggang dari api. Penulis harus membiayai sendiri jika ingin menerbitkan hasil karyanya.

Fakta dan Realita
Sebagai penulis dan peneliti, masyarakat Indonesia masih bersifat konsumtif ketimbang kepentingan intelektualnya. Perhatian pemerintah daerah amat minim dan tidak ada inovasi untuk menumbuhkan cara minat meningkatkan minat baca.

Baca :  Diah Hadaning Dalam Kaca Bening

Padahal begitu banyak ruang publik yang bisa dimanfaatkan. Program Pojok Baca gagal dan tidak berdaya. Perpustakaan desa gagal padahal begitu pentingnya di pedesaan tersentuh buku-buku yang berbau pertanian dan teknologi.

Ciri-ciri masyarakat maju adalah tingginya minat baca. Perbanyak perusahaan sekolah, perpustakaan mesjid, perpustakaan di kantor desa dan kelurahan hingga setiap kantor kecamatan. Tentu saja harus diimbangi dengan manajemen yang baik.

Perbanyak sarjana perpustakaan agar turun ke bawah. Jangan hanya adanya program literasi namun hanya menyerap anggaran melalui APBD/APBN dengan hasilnya sangat minim. Fakta tersebut sangat nampak di era digitalisasi.

Penulis tidak sependapat karena adanya digitalisasi dengan menghilangkan fakta yang ada. Dokumen sangat penting jika dikelola secara profesional dan menarik agar generasi muda tetap berminat membantu tinggi tanpa harus menghilangkan jati diri. Justru harus ditumbuhkan secara baik dan positif menuju pemajuan budaya membaca dalam menumbuhkan karakter bangsa.

 

Penulis adalah budayawan, pegiat literasi, pemilik Rumah Baca Pojok Desa serta pengurus ICMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *