Literasi Kota Pusaka: Suatu Telaah Kota Berkelanjutan

oleh -429 views
Rida Nurdiani, Literasi, Kota Pusaka, Kota Berkelanjutan
Pegiat Literasi, Rida Nurdiani

Oleh: Rida Nurdiani

Jejaring kota pusaka di Indonesia sudah mulai ramai diperbincangkan dari sejak dideklarasikan di Solo sejak Wali Kota Joko Widodo. Sekitar 10 kota dan kabupaten waktu itu, tentu sekarang sudah bertambah karena “pusaka” memiliki nilai seksi tersendiri. Semua itu karena gerakan literasi semakin maju dan berkembang.

“Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis. Literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya” (UNESCO, 2003).

Kini gerakan literasi harus menjadi budaya karena amat bermanfaat. Membuka peluang kemajuan ilmu pengetahuan dan kecerdasan bagi anak bangsa. Sebab, budaya literasi akan membangun karakter bangsa yang berkeadaban dan kesalehan sosial. Tentu saja lebih dari apa yang tertulis namun menggali seluruh potensi Sumber Daya Manusia (SDM).

Literasi tidak hanya berbicara satu bidang ilmu pengetahuan, melainkan ilmu yang satu dengan yang lainnya akan saling berkesinambungan. Penulis membatasi dalam kajian ini, yakni terkait dengan kota pusaka.

Baca :  Utang, Literasi, dan Investasi

Kota Bogor merupakan masuk pada jaringan kota pusaka. Oleh karena itu, Wali Kota Bogor dan seluruh dinas terkait serta masyarakat Kota Bogor diajak untuk lebih giat, beraktivitas positif dan selalu meningkatkan ilmu pengetahuan. Walaupun kami menyadari masih jauh pranata fasilitas yang memadai.

Secara kesejarahan, Kota Bogor merupakan kota yang dinamis, dari mulai prasejarah, masa kerajaan Pajajaran, masa Belanda VOC, masa kolonial, masa kemerdekan, pasca-kemerdekaan hingga saat ini masa kepemimpinan Wali Kota Bima Arya Sugiarto dan Wakilnya Dedie A. Rahim.

Di saat kepemimpinan Bima-Dedie ini semua infrastruktur mulai dibenahi, aturan mulai dibuat dan diterapkan serta fasilitas pendukung terhadap program literasi dan mengungkap nilai-nilai kesejarahan dan kota yang berkelanjutan.

Kota Bogor sudah memiliki berbagai aturan baik Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Walikota (Perwali) Tentang Cagar Budaya dan Bogor Sebagai Kota Pusaka. Dengan adanya aturan itu sebagai regulasi, akan memudahkan kerja dan meningkatkan kinerja aparatur negara dan masyarakat Kota Bogor.

Baca :  Gemar Membaca Kunci Kemajuan

Melalui program Kota Pusaka tumbuh kecintaan warga terhadap kotanya. Menjaga aset dan melestarikan seni budaya, adat istiadat dan Cagar Budaya. Tumbuh komunitas dan lembaga-lembaga penelitian, aktivitas hingga gerakan perubahan menuju Kota Bogor lebih baik dan lebih maju. Bogor berkembang dan berkeadaban.

Sampai saat ini, komunitas Konsil Kota Pusaka yang digawangi Dayan D. Allo dan Komunitas Pusaka Pakuan yang digawangi oleh budayawan Rd. Ace Sumanta yang tentunya akan diperluas aktivitasnya melalui Yayasan Budaya Hanjuang Bodas (YBHB) Bogor, tentunya banyak aktivis dan punggawa budayawan dan sejarahwan.

Coba kita perhatikan di dekat Tugu Kujang bertengger bangunan megah yang mempunyai nilai seni dan arsitektur yang apik yakni “Tepas Salapan Lawang Dasakreta” atau “Lawang Salapan”. Kemegahan itu tercermin dengan Uga Pajajaran “Di nu kiwari ngancik nu bihari seja ayeuna sampeureun jaga”. Pusat ekspresi anak muda di tengah hiruk pikuknya kebisingan kota. Pedestrian akan sangat bermakna tatkala ada tinggalan bangunan yang fenomenal.

Baca :  Dua Komunitas ini Rayakan Hari Buku Nasional di CFD Renon

Siapapun akan terkesan jika menginjakkan kaki ke lokasi samping Kebun Raya Bogor. Begitu juga kawasan bisa diberdayakan untuk kegiatan oleh raga. Berfoto ria sambil menatap keindahan puncak Gunung Salak. Belum lagi menikmati angin segar dari pepohonan yang berusia puluhan hingga ratusan tahun di Kebun Raya Bogor.

Kota Bogor sebagai Kota Pusaka memancarkan auranya setelah beberapa kawasan ditata dengan baik. Ornamen-ornamen cagar budaya bisa disajikan dengan baik. Tinggal polesan dan sentuhan dengan papan informasi yang mengungkap literasi kesejarahan. Akan nampak kemegahan kota dengan keadaban warganya penuh disiplin dan mencerminkan warga yang cerdas.

Maka, melalui proses interaksi budaya lokal penuh dengan suasana kehidupan yang terbaik. Salam literasi

Penulis adalah ASN guru di SMPN 20 Kota Bogor, Pegiat literasi dan Sekretaris Umum Yayasan Budaya Hanjuang Bodas, Penulis 44 Buku Antologi Puisi dan cerita pendek, serta Pengurus ICMI Orwilsus Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *