Islam dan Misi Profetik NU: Catatan Menuju Muktamar NU ke-34

oleh -397 views
Said Aqil Siradj, Altruism, Muktamar NU, NU
Khotimi Bahri, Wakil Ketua Umum BKN

Oleh: Khotimi Bahri

Islam secara etimologis bermakna kepatuhan, pasrah, dan penyelamatan. Ini berarti bahwa misi profetik Islam yang sesungguhnya adalah pengabdian yang tulus dengan segala kepatuhan kepada Sang Pencipta. Atau dalam terminologi al-qur’an disebut ‘abdun’ serta penyelamatan, pelestarian, dan penata keseimbangan manusia dengan sesama, atau manusia dengan lingkungannya. Misi inilah untuk selanjutnya disebut dengan ‘khalifah fil ard’.

Islam lahir sebagai rahmat bagi sekalian alam. Oleh karena itulah, sejak kehadirannya Islam dimaksudkan sebagai petunjuk bagi kelestarian alam dan nilai kemanusiaan. Sebagai bukti dari argumen diatas adalah kondisi sosiologis dimana saat itu risalah Islam diwahyukan.

Nabi Muhammad sang pemangku risalah diterjunkan untuk menata kondisi dimana problem kemanusiaan yang cukup mengkhawatirkan. Sejarah mencatat kurun tersebut sebagai zaman jahiliyah dimana moralitas terdegradasi sampai titik nadir. Nilai-nilai kemanusiaan berada dititik nol. Hukum rimba terjadi dimana-mana. Dan tentu jika dibiarkan efeknya akan berdampak pada lingkungan. Ketika Rosulullah wafat, apakah misi ini berhenti? Tentu tidak, sebab Rosulullah meninggalkan pewaris misi sucinya yaitu para ulama.

Nahdlatul Ulama lahir sebagai wadah untuk menjaga, mengawal dan melanjutkan misi suci Islam. Oleh sebab itu, kalau mencermati lahirnya Nahdlatul Ulama tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial Islam saat itu.

Baca :  Berangkat ke Lampung, Presiden Jokowi Resmikan Muktamar NU

Mengawali misi sucinya, lahir tiga sudut prisma sebagai jawaban atas problem keumatan, problem kebangsaan, dan problem kemanusiaan. Lahir Nahdlatut Tujjar, Nahdlatul Wathan, dan Taswirul Afkar sebagai wadah candradimuka sekaligus emberio Nahdlatul Ulama.

Puncaknya ketika terjadi perubahan prinsip dalam beragama di kawasan Hijaz, dengan berkuasanya Salafi-Wahabi (istilah salafi mencuat belakangan) membuat para ulama harus segera mengambil langkah konkrit. Sebab ideologi salafi-wahabi yang merupakan personifikasi kaum Khawarij telah terbukti gagal, bahkan melahirkan luka yang mendalam dalam tubuh umat Islam.

Komete Hijaz lahir sebagai antisipasi gerakan salafi-wahabi yang ditugaskan langsung berkomunikasi dengan penguasa Hijaz saat itu. Nah, memasuki usianya menjelang satu abad ini sudah saatnya NU kembali kemisi sucinya sekaligus melakukan reaksentuasi misi tersebut. Ini selaras dengan kaidah pijakan NU itu sendiri yaitu “al-muhafadzah alal qodimis sholeh wal akhdzu bil jadidil ashlah”.

Untuk itulah perlu nakhoda yang bisa menterjemahkan itu sekaligus menjadi jembatan aktualisasinya. Menjelang muktamar muncul kader-kader yang mumpuni untuk menakhodai NU. Sebut saja diantara yang sudah muncul dimedia massa maupun online, ada Kyai Yahya Cholil Staquf yang oleh beberapa sumber disebut berlatar belakang HMI. Ada Gus Muhaimin Iskandar berlatar belakang PMII, Gus Nusron Wahid dari Golkar, Kyai Maman Imanul Haq dari PKB. Mbah Yai Marzuki Mustamar Ketua PWNU Jatim, Gus Nadirsyah Hosen akdemisi dan cendekiawan muda NU, Gus Bahaudin Nursalim kyai muda yang ‘allamah. Gus Ulil Abshor intelektual dan aktifis muda. Belum lagi sederet nama yang sudah dikenal luas seperti Kyai Masdar F Mas’udi, Gus Muwafiq, Gus Reza Lirblyo, Gus Kautsar Ploso, Kyai Marsudi Suhud, KH. Hasan Al-Mutawakkil Genggong dan lain-lain. Dan jangan dilupakan Prof Dr Mahfud MD birokrat NU dengan sejuta pengalamannya. Ini menunjukkan bahwa NU tidak akan pernah kehabisan kader yang kompeten dan mumpuni. Inklusifitas NU telah menjadi tempat persemaian tokoh-tokoh pelanjut misi suci NU sekaligus misi suci Islam.

Baca :  Resmikan Gedung DMI, Jokowi: Islam Sebagai Rahmat bagi Semesta Alam

Bagaimana dengan Kyai Said Aqil Siraj? Tentu beliau aset kebanggaan NU yang sudah terbukti berhasil membawa NU menjadi gerbong utama Islam wasathiyah di dunia. Kapasitas keilmuan beliau sudah diakui semua kalangan. Ketenangan dan kematangan dalam menghadapi gonjang-ganjing sudah terbukti. Kekuatan spiritualitas dan keberpihakannya kepada kaum marjinal bisa dilihat rekam jejaknya. Sosoknya yang altruis sangat tepat untuk mengawal kebhinnekaan Indonesia. Maka tidak salah jika masa transisi menuju satu abad NU ini dikordinir oleh Kyai Said Aqil Siraj sembari didampingi tokoh-tokoh yang sudah tersebut diatas, sekaligus sebagai landas-pacu menuju regerasi.

Baca :  Merawat NU Menjaga Bangsa

Apakah menyalahi AD/ART maupun POK? Tidak sama sekali. Karena kepemimpinan di NU tidak sama dengan periodeisasi presiden. Dan kepemimpinan di NU merupakan kombinasi antara rekomendasi ‘langit’ dan rekomendasi ‘bumi’. Kepemimpinan di NU merupakan sinergi antara ta’abbudi dan ta’aqquli.

Bahkan pendahulu kita, KH. Idham Chalid tercatat sebagai ketua tanfidz terlama, dimana beliau terpilih dalam muktamar NU ke 21 di Medan tahun 1956 sampai muktamar NU ke 26 tahun 1979 di Malang. Jadi, jika dengan kehendak Allah dan restu serta dorongan para Kyai Sepuh Kyai Said harus pegang kendali lagi, kita tinggal menegaskan; hadza min fadli Robby, liyabluwani asykuru am akfur……
Allahul Hadzi Hasbuna

 

Penulis adalah Wakil Ketua Umum BKN dan Wakil Katib PCNU Kota Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *