Jakarta Menuju Kota Global: Inklusif, Berbudaya, dan Tidak Melupakan Rakyatnya

oleh -243 views

Jakarta, 5 Agustus 2025 — Upaya menjadikan Jakarta sebagai kota global mendapat dukungan luas dari parlemen daerah, pakar tata kota, hingga elemen masyarakat. Dalam diskusi publik bertajuk “Bersama Membangun Jakarta: Kota Global yang Tidak Meninggalkan Rakyatnya”, yang digelar pada Selasa, 5 Agustus 2025 di Gedung Juang, Jakarta Pusat, para narasumber menyampaikan pentingnya pembangunan kota yang seimbang antara kemajuan fisik dan keadilan sosial.

Wa Ode Herlina, anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, menyampaikan apresiasinya terhadap peran aktif generasi muda Madura di Jakarta melalui JAMMA (Jaringan Masyarakat Madura Jakarta). Menurutnya, langkah konkret seperti ini sangat penting dalam mendorong Jakarta menjadi kota global yang berpijak pada akar budayanya.

“Kami di DPRD akan terus mengawal program-program Gubernur, khususnya dalam hal pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas permukiman rakyat. Proyek-proyek pembangunan tidak boleh mengabaikan aspek sosial dan lingkungan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya memperkuat identitas Jakarta di tengah arus globalisasi. “Kota global harus jadi rumah yang nyaman bagi semua etnis dan agama.”

Baca :  Sampah Bukan Takdir: Pramono Ubah Limbah Jadi Harapan Jakarta

Sementara itu, Kevin Wu, anggota DPRD DKI dari Fraksi PSI, menegaskan bahwa Jakarta memiliki segala syarat untuk menjadi kota global, mulai dari potensi ekonomi, keberagaman budaya, hingga infrastruktur yang terus berkembang. “Tantangannya kini ada pada tata kelola. Kota global bukan sekadar gedung pencakar langit, tapi juga harus menjadi hub bagi interaksi budaya dan ekonomi dunia,” katanya.

Kevin juga menekankan pentingnya partisipasi aktif generasi muda. “Keterlibatan publik sangat menentukan. Generasi kalian harus jadi motor perubahan, memberi kontribusi nyata dalam visi besar ini,” tambahnya.

Baca :  JAMMA Dukung Kunjungan Pramono ke AS: Diplomasi Kota untuk Jakarta yang Lebih Terhubung

Nirwono Joga, pengamat tata kota, menggarisbawahi bahwa pembangunan kota global harus mengacu pada standar internasional. Ia menyebut bahwa fokus Gubernur Pramono Anung pada pembenahan transportasi dan infrastruktur adalah langkah awal yang strategis. “Namun prinsipnya harus tetap mengedepankan 3M: Mudah, Murah, dan Meriah,” ujarnya.

Nirwono juga mengajak JAMMA agar mendorong agenda komunitas, seperti pameran budaya Madura atau kegiatan berbasis kearifan lokal lainnya. “Kota global tidak akan berarti tanpa identitas yang hidup dan menyatu di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Dalam diskusi tersebut, JAMMA menegaskan komitmennya untuk terus menjadi jembatan antara warga dan pemerintah. “Jakarta harus jadi kota yang inklusif, bukan hanya untuk investor dan turis, tapi juga untuk warga di gang-gang sempit,” ujar Edi Homaidi, Ketua Umum JAMMA. Ia menyampaikan bahwa pembangunan Jakarta sebagai kota global harus menyentuh kehidupan nyata rakyat, mulai dari transportasi yang terjangkau hingga hunian yang layak.

Baca :  Janji Pramono Terwujud: Dana Operasional RT/RW Siap Mengalir dari Akar

Edi juga mendorong kolaborasi yang lebih erat antara DPRD, pemerintah kota, dan komunitas warga. “Jangan hanya bangun dari atas ke bawah. Kita ingin partisipasi warga diperkuat dari bawah ke atas,” tegasnya.

Melalui forum ini, para peserta diskusi sepakat bahwa Jakarta menuju kota global harus dibarengi dengan semangat keberpihakan, pelibatan komunitas, dan perlindungan terhadap kelompok rentan. Kota global adalah kota yang berdaya saing, tetapi juga berkeadilan.

Diskusi ditutup dengan pernyataan bersama bahwa Jakarta ke depan harus dibangun dengan pendekatan kolaboratif dan tidak melupakan jati diri serta nilai-nilai kebersamaan yang telah lama menjadi kekuatan utama ibu kota.