Keluarga Adalah Benteng Pertahanan

oleh -979 views
Biodata, Ace Sumanta, Kang Raden Ace
Kang Raden Ace Sumanta, Budayawan Bogor

Oleh: Rd. Ace Sumanta

Keluarga adalah benteng ketahanan dan pertahanan, keluarga adalah surga dan taman keindahan namun tidak sedikit yang menganggap keluarga adalah api neraka dan problema kehidupan. Tidak mudah dalam membangun keluarga dan membina keluarga, harus sabar, bijak, arif dan menjadikan kepala keluarga adalah contoh. Maka sungguh berbahagia keluarga yang sukses hingga ke puncak gunung yang diharapkan.

Begitu juga sangat miris dan perihatin jika ada keluarga yang porak-poranda dan hancur karena ego suatu orang tua. Tentu saja yang korban pertama adalah anak-anak. Biasanya anak-anak akan mewarisi trauma dan psikologis yang berkepanjangan. Tidak jarang juga hal tersebut akan menimpa pada keluarga berikutnya atau dimana iya saat berkeluarga. Faktor keturunan, lingkungan dan prilaku orang tua akan menjadi cermin.

Banyak faktor yang membuat keluarga tidak harmonis; faktor ekonomi, faktor kawin muda, faktor kecelakaan (hamil di luar nikah dipaksakan menikah), faktor pendidikan juga faktor keturunan juga perbedaan paham.

Oleh karena itu, keluarga yang baik adalah keluarga yang mampu bertahan walau banyak cobaan. Keluarga yang selalu mengutamakan kualitas, dinamis dan memiliki prospeks. Keluarga ibarat mempertahankan pasukan agar tetap utuh, sukses dan bahagia. Kebahagiaan seseorang tidak juga karena faktor uang yang melimpah, jabatan yang prestisius dan pergaulan yang tinggi, melainkan keluarga yang sabar dan saling mengisi penuh pengertian. Banyak contoh di negara-negara berkembang dan maju karena mengutamakan pendidikan dan demokratisasi bebas memilih pemahaman agama berujung kepada perdebatan yang panjang. Konflik internal karena gender dan lainnya.

Baca :  RE Abdoellah, Bupati Bogor Merakyat

Kesadaran membangun keluarga yang baik dan harmonis merupakan kunci kebahagiaan. Cita-cita yang luhur, menjunjung tinggi asas kehidupan dan saling mengerti akan membawa kebahagiaan.Seiring penuh kasih, seirama penuh makna akan menorehkan keluarga bahagia. Letak kebahagiaan karena saling pengertian.

Tentu kunci dalam keluarga adalah faktor kepala rumah tangga, dan ketersediaan biaya dan memenuhi kebutuhan. Idealnya dalam berkeluarga. Jadi ternyata berkeluarga harus punya cita-cita selain karena Allah juga ibadah. Apapun jika landasan utamanya Karena Allah akan sanggup mempertahankan keluarga hingga ajal menjemputnya. Begitu juga keluarga bahagia tidak hanya untuk dirinya melainkan terus berkembang kepada anak, cucu dan keturunan lainnya.

Saat ini banyak dalam keluarga timbul perselisihan paham dan berujung pada penceraian karena itu, tidak ada cita dan lemahnya landasan ibadah kepa Allah SWT. Sesulit apapun, sesibuk apapun dan sepahit apapun dalam keluarga harus bisa sama-sama membangun keluarga penuh kebahagiaan. Cinta dan kasih sayang adalah mutlak harus dimiliki termasuk kasih sayang kepada kiri dan kanan seperti orang tua, kakak adik hingga keluarga besar mantu dan mertua. Letak saling berkunjung, toleransi dan pengertian patut diraihnya. Saling pengertian itu juga adalah ibadah. Anak kandung juga bukan selalu menjadi faktor penentu, banyak orang mengangkat anak di luar sana berdampak pada peningkatan kualitas dan menjadi cahaya kebahagiaan.

Oleh karena itu, menempatkan pendidikan, mengikutsertakan kursus atau ekstrakulikuler dan persoalan jajan dan makanan. Kita tidak bisa memaksakan kehidupan pada siapapun, namun memberikan pemahaman, edukasi dan perlindungan amat berharga terutama dalam era-globalisasi dan teknologi akan berdampak negatif jika kita kurang mengawasi dan membimbingnya.

Baca :  Ibrahim Adjie: Sang Jenderal yang Humanis

Saat ini di hampir seluruh negara demokrasi mengalami kemunduran moral, kearifan lokal dan menjunjung harkat dan martabat. Apapun pekerjaan orang tua akan sangat bermanfaat begitu juga pendidikan sebagai pilihan akan berdampak positif.

Anak Adalah Pewaris Masa Depan

Keluarga yang ideal tentu mempunyai keturunan sehingga kalau ibarat alam anak adalah gunungnya. Namun tadi anak tidak selalu lahir dari rahim sang istri. Sangat bisa berupaya apapun, memiliki anak dari cara mengadopsi (bayi tabung) maupun mengangkat anak dari keluarga tidak mampu yang ada di panti asuhan sebagai rumah singgah atau menerima langsung dari orang tua (ibu). Semua nilainya sama, karena dilakukan dengan ikhlas akan menjadi ibadah. Memuliakan anak yatim-piatu sudah pasti jawabannya surga Allah SWT. Kebahagiaan dari anak yang sukses baik dari gent sendiri atau anak angkat sama nilainya kita pun akan bahagia. Semuanya kuncinya “iklas” karena Allah dengan penuh amanah.

Maaf saya justru diuntungkan punya anak baik putra maupun putri. Tahun 2011 anakku yang ke-2 putra hanya Allah SWT memberikan titipan sebentar kelad 5 MI iya diambil kembali oleh yang Maha Kuasa dibusia 11 tahun. Satya Citra Indonesia, namanya terukir di rumah terakhir berpintukan nisan abadi.

Putraku itu cerdas dan memiliki kelebihan dengan aura pancaran bathin dengan mampu melihat hal-hal ghaib (mata bathin). Adapun yang paling besar perempuan kami beri nama Wulan Pitaloka Larasati. Karena anak,  kami bertahan hidup untuk tetap bahagia utuh berkeluarga walau keadaan situasinya tidak berlebihan, akan tetapi cukup bahagia.

Baca :  Intelektualitas: Antara Fakta dan Realita

6 (enam) bulan berikutnya kami dikaruniai anak perempuan kami beri nama “Tresna Citra Widya Zafarani”. Anaknya cerdas, cantik dan mulai nampak bakat seni dengan senang menari hingga masuk kursus di sanggar seni tari tradisional. Juga suka menulis puisi walau masih pendek-pendek kalimatnya. Semua kita lakoni penuh keikhlasan walau sesibuk apapun orang tua, anak tetap diutamakan. Anak adalah pancaran jiwa, anak juga harta yang paling berharga karena anak ibarat “pusaka” perlu dijaga, diraksa dan diriksa.

Anak merupakan permata hati, jika kita arahkan ke yang positif cahayanyavakan berkilau sepanjang jaman. Banyak keluarga hilang keseimbangan tanpa pertimbangan dengan memilih pisah bercerai. Nasib anaknya bagaimana? patut pertimbangan yang matang. Tidak terpancing oleh hal-hal yang sepele. Masa depan anak patut kita utamakan. Allah SWT selalu membuka jalan, memberikan jalan terbaik dan terindah karena apapun dilahirkan dan Allah ciptakan sudah ada rejeki sebagai bagiannya. “Tuhan Pemilik Takdir”, kita hanya bisa berusaha dan berihtiar sebagai perlambang merubah nasib. “Gusti Allah”  zat Sang Pencipta Alam dan seisinya.

Begitu indah hidup ini walau banyak kerikil yang menghadang tak kala kita pijakkan kaki, semoga itu menjadi obat, terapi yang murah mengandung banyak hikmah. Cinta pada keluarga, anak dan seluruh penghuni rumah adalah suatu keharusan. Begitu orang tua, tetangga dan garis keturunan akan membawa keberkahan karena itu cinta keluarga surga Tuhan Aza Wajalla sudah menantinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *