Oleh: Dr Apendi arsyad
Terima kasih sahabatku Edi atas kiriman gambar postingan Tugu Pahlawan Cerenti (Jumat 2 September 2022) yang lalu kepada saya via WA japri. Kita sungguh prihatin, malu dan gemas memperhatikan ulah jahat para pelaksana pembangunan di daerah Kuansing. Gemarnya menguntil dan menggembosi, bancakan dana APBD, berlindung pada proyek-proyek fisik (proyek infrastruktur) daerah.
Belum dan atau tidak berubahnya, masih suka dengan pemerimaan pribadi yang “haram-haram” spt suap-menyuap dan sogok-menyogok sehingga konsekwensinya mengurangi bestek konstruksi bangunan, akibat budaya kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) yang anti dan musuh gerakan Reformasi thn 1998 tidak hilang-hilangnya di daerah rantau Kuansing.
Jadi tak heranlah kita, bahwa marwah pemimpin pudar, akibatnya cengkaram oligarky berupa perampokan tanah ulayat (land tenure rights) perkebunan milik masyarakat adat untuk perluasan kebun Sawit para Taipan dan Cukong masih tetap berlangsung, salah seorang perampok tanah rakyat itu, diantaranya Surya Darmadi yang kini ditahan Kejari, Jakarta.
Percuma saja ada pemekaran wilayah dan kebijakan Otonomi daerah/desentralisasi, dengan munculnya Kabupaten baru Kuansing thn 1999, tidak membawa kemajuan negeri dan kesejahteraan rakyatnya, justru yg ada perbuatan kriminal korupsi berkelanjutan setiap rezim Bupati beserta kroni-kroninya. Bahkan mereka bisa membangun dinasty kekuasaan Pemerintahan di alam demokrasi pada era Reformasi saat ini, paradoks dan anomali.
Mereka para elite politik dan birokrasi masih bertega ria hidup mewah dan berpoya-poya dengan gaya hidup mewah (hedonist), bermobil mewahnya, di tengah rakyat hidup susah-sengsara dan miskin.
Cukup prihatin, gemas kita melihat dan mendengarnya. Astaghfirullahal aziem.
Iya gambar Tugu Pahlawan Cerenti itu kini bolong dan sudah retak. Padahal bangunan fisik tugu baru selesai dikerjakan kontraktor lk 6-9 bulan yg lalu. Rusak dinding relief Tugu Pahlawan itu, saya juga lihat sendiri, ketika saya pulang ke kampung pada tgl 11-14 Juni 2022 yang lalu di Cerenti. Pada hari Senin 13 Juni 2022, sambil olahraga pagi jalan kaki, saya melihat-lihat kondisi Tugu yang baru dibangun itu.
Saya temukan ada 2 (dua) lubang di dinding gambar relief peta Indonesia. Sepertinya material bangunan yang digunakan terbuat dari sejenis papan “triplek” atau GRC yang mudah retak dan pecah, bukan semen, apalagi batu pualam ?.
Juga gambar peta Kepulauan Indonesia dibuat asal-asalan, seadanya, sangat tidak profesional. Estetikanya bernilai rendah, tidak menarik dipandang mata normal yang senang dan suka keindahan, alias enak dipandang mata.
Kondisi demikian sudah menjadi pergunjingan di masyarakat, terutama ngobrol-ngobrol di kedai kopi di Pasar Cerenti.
Begitulah 2 orang sahabatku Edi Nupus di Sumbar dan juga Edi yang tinggal di Jambi mengirim video runtuhan Tugu Pahlawan Cerenti kemarin Kamis tanggal 1 September 2022 yang lalu. Kemudian saya vedeo yang ada alat berat Belko tersebut, ketika menghancurkan bangunan lama Tugu Cerenti, yang masih tampak bagus. Kemudian saya share ke keberapa WAG, agar banyak orangtahu kebobrokan akhlaq para elite masyarakat Kuansing dalam membangun nagori.
Demi untuk kemajuan masyarakat dan nagori kita. Kita harus bicara lantang dan kritis, agar mereka lebih berhati-hati dan serius membangun Kampuang Halaman kita Cerenti dengan kepemimpinan dan tata kelola yg baik (good governance).
Anggaplah, cara menulis ini merupakan kritik sosial, sebagai ladang amal “amar makruf dan nahi mungkar” selaku orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Walaupun sebagian kecil orang-orang yang membacanya kurang berkenan, karena adanya kepentingan tak rasional. Tapi tak apalah kita tetap “watawashau bilhaq watashau bisshobri”. Ingat kritik sosial itu adalah energi positif untuk mendorong kemajuan suatu negeri
Sesungguhnya kita sangat malu, begitu tertinggalnya kehidupan nagori Kuansing, akibat buruk dari maraknya perbuatan KKN/korupsi oknum paea elite pejabat/ penguasa (the ruling party) yang serakah, dan pengusaha/kontraktor yang hanya mengejar “maximum profite” dan mengabaikan mutu pekerjaan, mengabaikan Rencana Anggaran Biaya (RAB), seperti nasib Tugu Pahlawan yang berdiri di persimpangan 3 (tiga) perbatasan Kelurahan Koto Peraku dan Pasar Cerenti ini.
Konstruksi Tugu Pahlawan tersebut, sudah seharusnya didesain bagus karena anggarannya cukup besar (lebih dari Rp 100 juta dana APBD Provinsi Riau), dibuat indah dan berestetika karena terletak di pintu gerbang Pasar Cerenti, Kabupaten Kuansing Riau.
Dengan indah dan cantik bangunan Tugu itu, akan menambah daya tarik para pengunjung/wisatawan yang datang berkunjung ke Cerenti untuk mendapatkan informasi tentang sejarah kepahlawanan Tokoh Masyarakat Cerenti tempo doeloe, yang ambil bagian dalam membela dan mempertahankan Tanah Air Indonesia demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Tapi sayang, di bagian-dalam Tugu Pahlawan tidak ada narasi atau pun gambar berupa relief yang menceritakan sosok dan vigur patriot (tokoh pahlawan legendaris) asal Cerenti di awal Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Padahal, ahli dan pemerhati sejarah (tambo alam) Cerenti, sudah menemukan sejumlah nama Pahlawan Bangsa putra asli Cerenti. Nampaknya Tugu Pahlawan Cerenti dibuat tergesa-gesa tanpa melibatkan guru dan pemerhati sejarah,… sayang.
Janganlah kita diamkan khabar buruk ini, maksudnya agar penegak hukum bergerak menertibkannya. Kini telah terekspose dan viral ke media sosial, semoga pihak Kejaksaan dan Kepolisian Kuansing bisa bergerak untuk menginvestigasi, jika ditemukan penyimpangan penggunaan anggaran negara, bisa berlanjut untuk naik status diperkarakan di pengadilan, agar masyarakat juga percaya kepada penegak hukum.
Jika tidak ada langkah-langkah kongrit penertiban seperti itu, makanya sulit kita membayangkan akan adanya kemajuan di Nagori kita, karena perilaku korupsi yang merugikan kehidupan rakyat terus dibiarkan begitu saja. Kasihan nasib para Dunsanak awak kita, yang tinggal di kampuang Cerenti, terus hidup dalam keterbelakangan.
Terima kasih Edi Nupus dan Edi Jambi atas informasi, kepedulian dan telah menshare gambar Tugu Pahlawan Cerenti yang bolong-bolong, berlubang reliefnya, dishare kepada saya. Material yang digunakan merenovasi Tugu mutunya sangat rendah. Pertanyaannya, apakah ini rancangan RAB yang keliru dibuat konsultan atau pembangunan tak sesuai arahan RAB, mengurangi bestek alias dikorupsi ?.
Kasihan rakyat Kuansing, kapan maju negeri ini? Seperti Kabupaten/Kecamatan lain yg telah berkemajuan dan masyarakatnya beradab di Indonesia. ???
Penulis adalah Pendiri-Dosen Senior Universitas Djuanda Bogor; Konsultan K/L negara; Pegiat dan Pengamat Sosial





