Oleh: Apendi Arsyad
Oh ya setuju dengan kang Onny, ajak mas Ai reunian nanti!. Kangen juga ya sama Ai, nama lengkapnya Satrio Wiseno. Beliau mas Ai adalah saintis dan ahli statistika, sarjana.lulusan S1 IPB, kader almarhum (alm.) bpk Prof.Dr.Ir.H Andi Hakim Nasution MSc (AHN).
Masih ingat ngak kang Onny? Kita belajar /les, kelompok kecil terbatas (small group) bersama mas Ai?, Mas Ai banyak membantu kita belajar di rumah orangtuanya di jln Mayor Oking, kota Bogor. Kemudian kita berpindah tempat belajar kelompok dari rumah ke rumah, juga pernah di rumah kang Onny di Pabaton Bogor dekat pertokohan Lautan, terus ke rumah Bowo jln Dewi Sartika. Warga
Kelompok kecil kita, al adalah: Satrio Wiseno (Ai sbg mentor), Onny, Bowo, Joni (anak pak.Lukman tukang bubur ayam di Gn Batu), Heru dan Kadir serta saya AA.
Kayaknya satu-satu orang etnis Melayu Sumatera cuma saya, yang lain etnis Sunda dan Jawa. Ibu Ai, saya panggil akrab “Mami” orangnya sangat baik sekali, almarhum sudah saya angkat ibuku di Bogor. Juga ayah mas Ai. Bapak Joko juga baik dan ramah, senang ngobrol dengan saya dkk.
Alhamdulillah setelah saya berkeluarga, kira2 tahun 1992 saya pernah mengajak Mami ke rumah saya di Ciawi Bogor. Beliau berkesempatan hadir di rumah dari pagi hingga sore.
Kemudian setiap ada hari-hari besar/ penting dan terutama syawalan saya dan keluarga menyempatkan diri bersilaturrahmi ke Mayor Oking Kota Bogor, setelah itu ortu mas Ai pindah ke perumahan Pagelaran Ciomas Kabupaten Bogor. Saya pernah beberapa kali ke Perumahan Ciomas, sebelum Mami dan bpk.Joko wafat.
Pergaulan saya begitu bersahabat dengan keluarga, buah dari kerja dan belajar kelompok kecil mata kuliah (matkul) Statistika itu. Kita tahu dan sadar pada waktu itu bahwa matkul Statistika “sangat sulit”, saya pernah ikut ujian keluar keringat dingin “stress”, dan terkadang membuat mhs Tingkat Persiapan Bersama (TPB)- IPB gagal studi dan akhirnya ada (cukup banyak) yang dipulangkan, dikeluarkan (droup out) atau tinggal kelas atau tingkat menjadi “residivis”.
Kita mengakui bahwa ada 2-3 matkul yang menjadi “momok” membuat mahasiswa tidak lulus (nilai F) yakni Statistika (Landasan Matematika) Bhs Inggris, dan Fisika/Kimia). Makanya Rektor IPB waktu itu Prof AHN memberikan lk selama 2 (dua) bulan bimbingan “kursus” di kampus, yang dinamakan Program Matrikulasi bagi mahasiswa baru yang diundang masuk IPB melalui jalur perintis 2. Sedangkan kita Kodel jalur 1 (termasuk Kodel) melalui test untuk masuk ke IPB tidak diberikan matrikulasi.
Saya menyadari kelemahan atau keterbatasan utk memahami matkul Statistika, maklum lulusan SMAnya dari.”kampung” daerah minyak Riau, yang minim fasilitas pendidikannya. Walaupun saya juga pernah juara kelas di SMA asal tsb, tetapi itu semua tidak menjamin sukses kuliah di TPB IPB. Kuliah pada TPB IPB, di masa transisi SMA ke Perguruan Tinggi menuntut selain kesungguhan dan kesabaran, juga pilihan strategi belajar. Saya memilih belajar berkelompok untuk matkul tertentu seperti Statistika ini.
Sebagai solusinya saya ikut bergabung belajar kelompok kecil dengan mas Ai yang baik hati sebagai Mentor. Mas Ai jago dan mahir, beliau menguasai betul dan enak menjelaskan materi matkul Statistika yg “rumit” tersebut, sehingga saya tercegah atau tidak sampai berstatus mahasiswa “residivis” atau droupt out.
Alhamdulillah saya bisa lulus dari IPB, dan menjadi warga Kodel hingga zaman now. Sedangkan mas Ai, sukses mendirikan dan memimpin perusahaan jasa konsultan di Cempaka Putih Jakarta, bergerak di bidang survey. Beliau berkesempatan, studi lanjut program Pascasarjana, Magister Sains di Inggris dan berstatus dosen IPB pada jurusan Statistika Fakultas MIPA IPB. Tetapi entah mengapa, kemudian mas Ai keluar dari IPB, kemudian mendirikan perusahaan jasa konsultan.
Saya sempat beberapa kali bertemu di rumahnya, sekitar tahun 1990-2000an. Sudah agak lama, sampai sekarang saya tidak ada lagi bertemu dengan beliau mas Ai, akibat kesibukan kami masing-masing.
Kembali ke cerita masa lalu dengan mas Ai, saya sangat kenal baik dengan adik2nya dan kakaknya alm Mbak Yayuk yang baik dan ramah. Alhamdulillah hampir semua saudara kandung mas Ai Satrio Wiseno saya mengenalnya dengan baik dan kami pun akrab, serta saling sapa jika ketemu di jalan atau tempat tertentu, ada nama mbak Yayuk, mas No, dik Yono, dik Ayik dan dik Wiwik. Tapi sdh lk 5 tahun terakhir, terutama sejak pandemi Covid 19 komunikasi kami agak terputus.
Jadi saya AA senang dan berbahagia sekali, jika mas Ai bisa hadir dan bergabung reunian Kodel syawalan 1443 H nanti untuk menyambung silaturrahmi. Kita bersua muka untuk menyegarkan kembali tali persahabatan kita tempo doeloe sangat hangat.
Kita sama-sama tahu, warga kelompok delapan (Kodel) TPB tahun 1980 sangat kompak dan akrab, apalagi ada kegiatan pertandingan Basket antar Kelompok. TPB IPB, supportersnya bikin heboh dengan terompetnya yg bersahut-sahutan, juga waktu Camping di kawasan Puncak Bogor, dengan acara api unggun dan malam keakraban, warga Kodelnya ceria dan akrab bersahabat ketika itu.
Begitulah indahnya persahabatan Kodel. Ketika menulis ini di teras penginapan (home-stay Login Madiun City) saya menjadi teringat dengan kepemimpinan yang egaliter dan demokratis serta keceriaannya yg sukses mengakrabkan antar sesama kita oleh alm.mas Didi “Komti”. Almarhum meninggalkan banyak kenangan yang tak terlupakan para Kodelers. Oh ya istilah Komti, singkatan Ketua Tingkat. Mari kita doakan, semoga almarhum berbahagia di alam Syurga disana, alam barzah. Al Fatihah.
Kita telah berjuang keras untuk lulus dari matkul “palang pintu” tersebut bagi sebagian mahasiswa TPB IPB, yang kecerdasan sedang-sedang saja seperti saya, datang dari “ndeso”.. Cerenti Kuansing Riau… he he he. Syukron hatur nuhun.
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan di hati dengan narasi kenangan nostalgia ini. Sampai ketemu di acara reunian Kodel Syawalan 1443 H, Kamis tanggal 26 Mei 2022 di Villa Aruna, Pancawati Ciawi, milik uda Iis Trisna Chandra, mantan Direktur Bank, yang humoris, suka banyolan dan baik hati.
Artikel ditulis di Login Homestay, Ps Sleko Madiun City, Dosen-Pendiri Universitas Djuanda Bogor; Pegiat dan Pengamat Sosial





