Dr. H. Apendi Arsyad
Setelah membaca koment dari bang Rajo tentang percakapan kami urang Caghonti di WAG kesayangan kito gho. Bang Rajo berkomentar bagi dia Caghonti penuh kenangan dan mamaknya pernah menjadi camat Cerenti tahun 1980an, sehingga bang Raja lamo tinggal di Bedeng Sikuran Caghonti.
Dari komentar tentang Caghonti nagori yang mengesankan, mengingatkan saya apa dan bagaimna suasana hidup saya semasa kecil, nostalgia masa lalu. Dan saya mencoba memberikan makna dari proses interaksi sosial dalam perspektif peradaban budaya. Bahwa masyarakat Caghonti memang orangnya cukup ramah dan mudah bergaul antar sesama termasuk dengan berlain nagori dan suku.
Izinkan ambo (saya) menarasikan sedikit tentang topik diatas dengan beberapa fakta yg pernah kami alami di kampung halaman zaman dahulu.
Oh ya bang Rajo, ambo pernah mendengar ado camat Cerenti namanya bpk Marhusin Abdullah, tahun 1980an, oh itu ternyata datuaknya bang Rajo ye.. ambo baru tammat SMPPN 49 Pku ketika itu dan mau berangkat ke Bogor untuk kuliah di IPB Bgr. Sehingga ambo tidak mengenal dekat dengan almarhum. Tapi menurut cerito urang2 awak di kampuang2 di Caghonti, bpk Camat datuak kito itu sangat dekat dan diterima masyarakat dengan baik serta hubungannya mereka akrab dan bersahabat. Alm Camat Marhusin cukup berhasil bergaul dengan rakyatnya urang Caghonti, dan almarhum salah seorang pemimpin Kecamatan yang dikenang masyarakat Caghonti atas kebaikan dan jasa2nya mengayomi masyarakat. Keterangan ini saya dapatkan informasinya dari omakku dan kakak2 saya di kampuang
Bang Rajo ternyara pernah juga tinggal dan bermukim di Cerenti, tempatnya di Bedeng Sikuran Caghonti. Oh ya di lokasi Bedeng tersebut, ado abang sepupu ambo berusaha dagang gotah (“tauke” beli karet) di situ, namonyo abang Ilyas (orang Conti memanggilnya Liyas), karena cukup lama bedagang gotah disitu, sehingga lokasi
bedeng tersebut lebih terkenal namonyo “Bedeng Liyas”. Abang sepupu ambo itu memang perintisnyo mukim disitu. Daerah bedeng Sukuran itu sekarang menjadi batas administratif antara Kecamatan Cerenti (induak) dengan Kecamatan Inuman (hasil pemekaran, sejak Oktober 1999).
Chaghonti itu penuh kenangan kato bang Rajo, kesan itu memang iyo… memang benar. Hal itu terbukti ada faktanya bisa kita dapatkan keterangannya dari urang Simandolak, termasuk Desa Sibarakun kini, Kecamatan Benai. Pada tahun 1960an, urang awak Simandolak datang merantau ke Caghonti, mereka membuka hutan rimbo sako dekat desa Kampungbaru, sekarang daerah bukaan urang Semandolak-Sibarakun sudah menjadi sebuah desa, namonyo Desa Kompe Berangin. Waktu itu yang memimpin transmigrasi lokal (translok) urang Simandolak, namonyo bpk Rasyad (sudah alm), almarhum telah menjadi sahabat dekat ayahku, Haji Arsyad Kahar (alm 1971). Keluarga saya banyak bersanak adat (bagito) dengan beberapa kelg dari Simandolak, diantaranya abang Usuf yang punya kemenakan, namonyo H. Nazarudin pejabat di Kandepag Prov.Riau Pku, omakku masih bergaul akrab (omak dan anak) dengan alm. abang Usuf dan alm. bang Nazar sampai akhir hayatnya, dan banyak lagi dengan yang lain, maaf saya lupa. Demikian juga dengan Keluarga alm bpk Rasyad, tokoh masyarakat translok Simandolak-Sibarakun di Cerenti, hingga kini saya masih kenal baik dan saling berkomunikasi dengan analnya. Anak alm bpk Rasyad namanya Asmar Rasyad guru/Kepsek SMPN di kota Pku. Jadi secara turun temurun kami masih memelihara hubungan berdunsanak dengan baik.
Saya samasa kecil dan belum masuk sakolah (usia balita), dalam ingatan saya yg pernah saya menyaksikannya, begitu baiknya dan ramahnya urang Semandolak-Sibarakun ke keluarga kami di Caghonti. Mereka begitu menghormati alm ayah saya. Buktinya ketika kakak perempuanku yang nomor ketiga berpesta perkawinan (bagholek)..begitu ramai yang datang ke rumah, dan banyak bawaannya aneka rupa hasil bumi seperti makanan/kue2 kampuang, sayur mayur, bore, lado, bawang, karambial, cabodak dll). Mereka bertamu ramai ke rumahku waktu itu thn 1960an, dengan membawa anggotanya keluarganya dan ikut membantu memasak, giliang ghompa. Begitulah jalinan pergaulan yang akrab dan bersahabat antar urang Caghonti dengan tamu pendatang di masa itu, yang patut kita suritauladani untuk membangun masyarakat beradab dan agamis.
Gejala sosial tersebut diatas cukup menarik untuk kita pelajari. Memang, saya sudah berencana jika ada waktu nanti, dan insyaAllah diberi panjang umur ingin menelusuri jejak sejarah urang Simandolak bertransmigrasi ke daerah kami Caghonti di daerah Kompe Berangin. Masyarakat Coghonti di masa itu begitu ramahnya menyambut kehadirannya saudara2 kami dari Simandolak, membuka hutan dan membangun pemukiman baru di Kompe Berangin Kecamatan Cerenti. Sekarang di Desa Kompe Berangin sudah berkembang maju, yang dihuni oleh anak-cucu dan cicitnya keturunan dari urang tranmigrasi lokal Somandolak, yang telah telah beranak pinak di Caghonti, kini Kades Kompe Berangin terpilih seorang ibu RT keturunan asli urang Simandolak. Saya tahu karena pernsh bertemu dgn beliau pada akhir Desember 2019 untuk urusan rencana penyerahan tanah saya di Kompe Berangin saya wakafkan untuk sarana wakaf pengembangan pusat dakwah Islamiyah (Islamic Centre) di kampuang, sekarang di lokadi itu baru ada terbangun 4 kelas Sekolah Madrasyah Diniiyah Islamiyah untuk pendidikan Al Quran bagi anak2 dan remaja Cerenti.
Jadi bang Rajo dari cerita ini, terbukti bukan saja Camat Marhusin Abdullah dari Taluak diterima urang Cahgonti, tetapi jauh waktu sebelumnya, urang Simandolak penduduk rantau Kuansing yang bermigrasi atas desakan “ekonominya sulit” di masa itu telah diterima oleh urang kami Caghonti sebagai “saudara baru” yang baik. Adanya budaya luhur urang Caghonti yang ramah dan mudah bergaul dengan urang luar, karena memang sejak zaman dahulu urang Caghonti sudah biasa menerima berbagai tamu dan pendatang, yg numpang istirahat karena kelelahan dari perjalanan jauh, dan berhenti di Cerenti. Kata abangku H. Edward Arfa SH/mantan Ketua PN Tg Pinang, dalam bukunya “Mendulang Butir2 Adat Melayu Cerenti “., dijelaskan bahwa Cerenti itu berasal dari kata “tempat perberhentian” setelah berjalan sbg musafir dari mudiak (daerah Lubuk Jambi/Singingi) mau menuju Rengat, Inderagiri Hulu, pada umumnya para saudagar (pedagang Sapi, Kerbau dan Kambing) singgah dulu di Cerenti untuk beristirahat melepas lelah, dan baru menginap di Peranab, Kecamatan Peranab yang berbatasan dengan Kecamatan Cerenti. Kini daerah Peranab, Kecamatan Peranab tetap masuk menjadi daerah Kabupaten Indragiri ulu.
Simpulan apa yang bisa kita tarik, benar Caghonti itu membuat banyak kenangan kata bang Raja, karena masyarakatnya memang ramah dan cepat bersahabat dengan para pendatang. Bahkan dengan orang keturunan Tionghoa (Tauke Chino, bernama Senci alias Ibrahim) yang hidup di Caghonti, omak ambo dengan onga tertua ambo (Saudagar gotah) basanak gito dengan wong Chino. Sampai saat ini anak2 bang Senci, yang namonyo Ayun, Acai, Singkiang, Lihua, Acin, Akuang dan Likiau, mereka sudah mukim terserak-serak di berbagai kota di Indonesia, terkadang masih berkomunikasi denganku sebagai “om atau pamannya”. Pada umumnya saya diundang pada waktu gelaran acara pesta perkawinan anak2 mereka. Itulah salah buah pergaulan dan persaudaraan yg dibangun orangtuaku sejak dahulu. Saat ini ada gejala permusuhan “anti China” saya agak bingung menghadapi dan memahaminya.
Sepengetahuanku almarhum Ayahku banyak dan suka bergaul dengan suku2 lainnya, selain urang kito Simandolak, seperti urang Kampar, Minang, Banjar dan etnis Jawa yg berkesempatan bertransmigrasi dan atau pernah menjabat/bertugas di Kecamatan Cerenti tempo doeloe.
Cerita noltalgia yang menarik, salah satu diantaranya adalah asal namaku sendiri, ketika lahir diberi nama Hardimarto (lahir Jumat siang menjelang waktu Azan Sholat Jumat pada tgl 8/10-1959). Nama bayi itu pertama kali, diberi nama atas saran dari teman ayahku orang Jawa yg tengah bertamu ke rumahku, ketika omakku baru melahirkan. Ayahku seorang “demokrat” sejati menerima usulan nama itu, karena tertarik Hardi itu berasal dari pangkalan kata nama ayah dan nama omakku (ibuku) yaitu Haji Arsyad dan Hj.Darana Djamin. Sedangkan Marto nama sahabat ayahku orang Jawa tsb. Ee eh…tahu-tahunya dalam perjalanan hidup, si bayi Hardimarto itu sakit-sakitan semasa kecilnya. Lantas ada cara pandang budaya masyarakat Caghonti, yang orangtuaku juga percaya bahwa musibah “sakit-sakitan” bayi itu akibat nama tersebut “terlalu berat” buat sang Balita. Akhirnya nama Hardimarto bergantikah menjadi Apendi Arsyad, hingga sekarang. Saya pun lupa bertanya lebih jelas kepada alm ayah ketika beliau masih hidup, mengapa ? nama Apendi dipilih dan maknanya apa? Hingga sekarang saya juga ngak tahu. Tetapi saya lihat di kamus bhs Indonesia, Apendi lebih dekat dengan istilah Affendix, maknanya tambahan atau lampiran he he he..sayang ya. Padahal ayah saya diberi nama oleh datuakku Haji Kahar/seorang Saudagar kaya di zaman kolonial penjajahan Belanda di Caghonti, nama ayah saya begitu anggun yaitu Arsyad, saya lihat dibeberapa ayat dalam Al Quran, kata “Arsy” artinya singgah-sanah (tempat yang paling tinggi, yg hanya ditempati Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT).
Maafkan saya bernostalgia keluarga sejenak, sebenarnya cerita tentang penamaan bayi tsb biasa saja. Tetapi yang “luar biasa” menarik bagi saya adalah pola budaya masyarakat Caghonti, terukti adanya keramahan, kebesaran jiwa dan mudah bergaulnya orangtuaku menerima saran dan usulan nama anaknya yang baru lahir itu. Disana tampak pola berperilaku masyarakatnya penuh makna kerukunan dan toleransi antar sesama etnis yang berbeda-beda. Bahkan kakak kandungku perempuan yang nomor ketigaku, namanya Rohani Arsyad juga dipersunting oleh pemuda Jawa, yg waktu itu merantau di Cerenti, bernama Slamet Sutikno, sekaranf keduanya sudah almarhum. Alhamdulillah seorang anaknya alm. bernama Sustiaji, saat ini menjadi Kades di salah satu desa di Kec.Pangean. Berikutnya saya juga ditakdirkan, alhamdulillah mendapat anugerah seorang istri gadis cantik nan cerdas asal Jawa Timur, alumni FE UNAIR tempat asalnya Kota Madiun se profesi Dosen di Universitas Djuanda (UNIDA) yg saya ikut serta mendirikan pada thn 1986 di Ciawi Bogor, dengan nama mertua laki2 kebetulan bernama bpk Martotono/bpk Marto (sudah almarhum). Setelah saya telisik nama mertua tsb, kok bisa mirip dengan nama saya waktu bayi Hardimarto usulan sahabat ayahku orang Jawa..”aneh bin ajaib” ya. InsyaAllah ini pertanda baik bagiku sekeluarga.
Demikian cerita keramahan urang Caghonti dan mudah gaul seperti yg dialami dan dikesankan oleh bang Rajo tadi. Terima kasih, saya mohon maaf jika ada yang kurang dalam narasi ini..semoga ada manfaatnya.. Barakallah. Wassalam.
Penulis adalah Pendiri-Dosen Tetap/Assosiate Profesor pada Program Studi Agribisnis Faperta UNIDA Bogor, konsultan dan Aktivis ICMI dan KAHMI Bogor

