Kongres HMI ke 31 menurut Sekjend Bakornas Lapmi PB HMI

oleh -503 views

Menyoal ” Kongres HMI ke 31”

Oleh : GAHARA KUMALA
(Sekjend Bakornas Lapmi PB HMI 2018-2020)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berdiri Pada tanggal 5 Februari 1947 atau tepatnya pada tanggal 14 Rabiulawal 1366 H. Bertempat di salah satu ruangan kuliah Sekolah Tinggi Islam yang ada di Jalan Setyodiningratan 30 (sekarang Jalan Senopati) Yogyakart, Lafran Pane, seorang mahasiswa semester I dari Fakultas Hukum Sekolah Tinggi Islam ( Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH-UII) memprakarsai berdirinya HMI.

Sejak berdiri hingga sekarang, HMI mempunyai 2 tujuan utama yaitu 1. Mempertahankan NKRI dan mempertinggi derajat Rakyat Indonesia. 2. Mengembangkan dan Menyiarkan Ajaran Agama Islam. Tidak dapat kita pungkiri, dari awal berdiri hingga sekarang HMI telah tersebar di seluruh Indonesia, dan tercatat HMI telah memiliki 200 an Cabang, serta mencetak“Prestasi” dari mulai melahirkan Tokoh Penting hingga Tokoh Miring (buruk).

Adapun setiap Organisasi haruslah mempunyai seorang Nahkoda/ Ketua Umum untuk menjalankan fungsi dari organisasi. Dalam hal ini Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menggelar “Kongres” setiap dua tahun sekali/ atau ketika ada hal mendesak HMI harus melakukan Kongres. Selain untuk mendapatkan seorang Pemimpin baru dan temuan – temuan baru untuk organisasi Kongres HMI juga berperan sangat besar untuk meningkatkan perekonomian daerah tempat digelarnya Kongres.

Saat ini PB HMI menjadi sorotan Publik, baik di internal HMI maupun eksternal HMI. Publik menyoroti kasus dualisme kepengurusan PB HMI yang telah lama menjangkit sampe hari ini tak kunjung sembuh juga. Apabila mengacu pada AD/ ART HMI, langkah terbaik adalah agar Kongres dapat dipercepat sehingga roda Organisasi dapat terus berjalan dan tidak stagnan.

Dari penjelasan yang tertuang di AD/ ART HMI, Kongres digelar untuk memilih Ketua Umum. Selain sebagai ajang nya LEBARAN HMI, juga sebagai ajang untuk menyampaikan gagasan, yang membuat miris adalah Kongres seringkali dijadikan sebagai ajang “Jualan” oleh Kandidat yang mencalonkan diri. Oleh sebab itu forum kongres hanya ramai saat sesi pemilihan calon ketua umum, sepi saat membahas tentang aturan main organisasi.

Akan tetapi, ada pepatah mengatakan “Tak ada gading yang tak retak”. Sederhananya, tidak ada yang sempurna, termasuk HMI itu sendiri. Meskipun telah banyak membuat kejutan-kejutan di segala sector termasuk politik. HMI tidak luput dari kesalahan yang dibuat oleh oknum Pengurus HMI yang semena-mena membuat HMI hilang nilai.

Oleh karena itu, HMI saat ini sebenarnya rindu akan sosok Kader Militan yang masih menjunjung tinggi nilai Independensi untuk meluruskan dinamika organisasi yang mencuat. Walaupun sejatinya Kader HMI saat ini tidak dijalan yang lurus, bukan berarti karena dirinya melainkan adanya intervensi dari berbagai pihak, termasuk senior HMI. Selain itu juga Kader HMI yang masih waras tidak boleh tebang pilih dalam mencerna masukan dari berbagai sumber, agar HMI tetap menjadi Organisasi Mahasiswa Islam yang selalu menjaga Tujuan Organisasi.

Mengutip apa yang disampaikan oleh Ayahanda Lafran Pane selaku Pemrakarsa HMI, bahwa “Kita diajak ber-HMI bukan untuk diperintah, kita diajak ber-HMI untuk berpikir dan bergerak tanpa diperintah. Itu ciri Kader HMI yang menjaga Independensinya.”

Terakhir, saya juga menambahkan, “HMI itu kalo diibaratkan sebagai Laboratorium berpikir!” karena dari sejak kader telah sah menjadi anggota HMI, dari sejak itu pula dimulainya petualangan kader tersebut untuk belajar. Jangan jadikan HMI sebagai sarana untuk memperkaya diri, melainkan HMI sebagai lokomotif gerakan islam.

Hera/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *