Korupsi Dana BOS Dikdas Kota Bogor: Keprihatinan Kita

0
Apendi Arsyad, Budaya, Islam, Melayu
Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi

Oleh: Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi

Oh ya… ibu Wati ya.. yang memposting berita-berita pendidikan Kota Bogor kemaren kepada saya. Sekarang saya sudah tahu dan paham tentang siapa ibu Wati itu. Jika tidak keliru, Ibu bersama para orangtua murid SD pernah memimpin protes (demo/unjuk rasa) menyampai aspirasi dan ketidakpuasannya kepada berbagai pihak termasuk datang ke Kantor Wandik (Dewan Pendidikan) Kota Bogor mengenai adanya perilaku menyimpang yang dilakukan oknum Kepsek (Kepala Sekolah) Sekolah Dasar (SD) dan oknum Komsek (Komite Sekolah) yang sangat merugikan anak murid dan juga merusak nama baik sekolah.

Terima kasih atas kiriman postingan medsos untuk saya, dimana media massa telah memberitakan kasus-kasus korupsi dana BOS di sekolah belakangan terjadi sempat terekspose, panas, di medsos dan media massa (koran dan TV).

Smg ibu Wati yang terus peduli terhadap mutu pelayanan pendidikan di sekolag, saya mendoakan ibu Wati selalu sehat walfiat dan dilindungi Allah SWT. Saya mengapresiasi atas sikap kepeduliannya terhadap nasib pendidikan anak-anak kita, harapa keluarga dan bangsa-negara.

Setelah saya baca beberapa postingan tsb, Saya sependapat dan seperasaan dengan ibu Wati, kasihan dunia pendidikan Dikdas (Sekolah Dasar) kita di kota Bogor. Begitu besar halangan dan hambatan yang terus menghadang proses pelayanan pendidikan di sekolah. Hari begini, perbuatan korupsi oara oknum di sekolah dan pihak-pihak di luar sekolah masih berjalan terus tanpa ada rasa malu, rasa takut dan tanpa rasa bersalah dan berdosa dari mereka. Saya pun tidak habis pikir… kok tega nian mereka para oknum yang bekerja di
sekolah masih mau dan ‘terjebak’ perbuatan memperkaya diri sendiri, dengan cara-cara kurang terpuji-korupsi. Miris, gemas dan sedih kita melihat dan mendengarnya.

Salah satu prasyarat mutlak untuk meraih pendidikan yang bermutu,
sekolah wajib dan harus steril dari perbuatan tercela dan terkutuk korupsi. Para koruptor tidak layak ada di sekolah2, sebab sekolah itu adalah sarana dan wadah pendidikan dan pengajaran, yg mengajarkan dan mendidik moral, etik dan akhlaqulkarimah kpd sasaran didik dengan seperangkat tatanan nilai, norma dan kaidah hukum-sosial dan agama.

Apa2 saja dan bagaimana yang dilakukan para Guru dan tenaga pendidik bersama Kepsek di sekolah, semuanya itu utk membangun masyarakat yang berperadaban maju dan moderen. Masa depan anak2 kita sebagai generasi bangsa nasibnya ditentukan oleh faktor pelayanan pendidikan yang ada di sekolah.

Baca :  Perilaku Elite Politik yang Paradoks

Apa jadinya, jika para pimpinan Sekolah berperilaku koruptif, perbuatan kebiadaban dan tercela terus berlangsung bertahun-tahun, tentunya sangat mencoreng wajah dan marwah dunia pendidikan kita, dan apa jadinya masa depan anak didik kita yang berada di sekolah yang membiarkan perbuatan korupsi meraja lela. Oleh karena kita sangat berharap pihak penegak hukum di negeri ini, bisa menemukan, mencegah dan memperbaiki sekolah-sekolah yang diduga banyak bercokol dan bersarang para koruptor disitu.

Sebenarnya, sikap dan tindakan saya selama diberi amanah dan mandat sebagai Ketua Wandik Kota Bogor (2013-2018, bahkan diperpanjang setahun) cukup jelas dan tegas bahwa saya menolak korupsi terjadi di dunia pendidikan Kota Bogor. Akan tetapi itulah terjadi perbuatan korupsi tetap tidak mereda dan berhenti, bahkan terus menjadi-jadi, pandemi virus Korupsi masuk di dunia pendidikan kita. Hal ini terjadi, begitu kuatnya peran para mapia, membuat saya dkk di Wandik tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan saya merasa ‘dicuekin’, maaf juga ada yang ‘memusuhi’ oleh sebagian pihak. Karena saya tahu hukum dan bekerja ikhlas karena Allah SWT (tidak takut kepada siapa pun), Alhamdulillah saya tidak merasa jera dan terus bersuara dan beropini di media massa dan media sosial bersama-sama kawan2 yang peduli pendidikan.

Untuk diketahui saja, hampir lk 5 thn lebih sejak 2013-2018 saya ‘berteriak’ bersuara keras menentang perbuatan korupsi di sekolah2, karena n
merasa kasihan dengan nasib murid dan membebani para orangtua, baik melalui tulisan- makalah FGD dibaca oleh main stakeholders pendidikan yang hadir dan diundang FGD, juga dngan menulis sebuah buku tentang kritik dan saran pelayanan pendidikan, dan maupun sering beropini di koran2 seperti HU Radar Bogor, Pakar, Jurnal, Inilah Bogor, tabloit Sunda Urang dll serta ditambah lagi di medsos. Semua buktinya dalam bentuk kumpulan kliping koran saya simpan arsipnya di rumah dan kantor Wandik Kota Bogor dengan terjilid rapi.

Selama saya berkoar dan bersuara tentang korupsi di sekolah2 di Kota Bogor, maaf, saya belum pernah dipanggil atau diundang oleh pihak berwenang untuk konfirmasi dan sekaligus berdiskusi mencari solusi permasalahan korupsi di sekolah tidak pernah ada. Padahal saya sesuai dengan tupoksi Wandik berdasarkan SK Wali Kota Bogor (yang ditandatangi Walkot Bogor Bapak Drs.H.Budiarto MM), siap sedia menunggu dan menghadiri undangan dari pihak yang berwenang seperti Walkot, Polres, Disdik, PGRI dll untuk sharing ide menemukan solusi permasalahan pendidikan yang sangat komplek ini, secara jujur saya katakan tidak pernah ada dilakukan membahas fokus permasalahan korupsi di sekolah.

Baca :  Bahaya PSM LGBT bagi Masyarakat, Bangsa dan NKRI (Dirgahayu Indonesia ke 75)

Bahkan semakin banyak saya mengangkat kasus2 korupsi di dunia pendidikan di Kota Bogor atas nama Wandik, ada beberapa pihak merasa kurang nyaman, sehingga kesan saya mereka menjauh dan kurang suka dengan sikap saya melawan korupsi tersebut. Sebut saja kasus-kasus korupsi seperti penyalahgunaan dana BOS, pungutan-pungutan dana SPP, dana PPDB, jual buku paket mata pelajaran, jual LKS, dan pungli-pungli lainnya yang tidak jelas dasar hukum dan pertanggung-jawaban penggunaannya. Mereka seolah-seolah menutup rapat-rapat persengkokolan korupsi dana-dana pendidikan di sekolah.

Adanya berbagai protes-protes dari para orangtua – wali murid tidak pernah digubris, terkadang sampai ke DPRD yang pada akhirnya penyelesaiannya tidak begitu jelas, malahan para aktivis penggerak demonya dibungkam dan akhirnya dipetieskan. Tentang kejadian berbagai protes ini, saya masih ingat beberapa kasus-kasus korupsi yang didemo dan diprotes oleh para orangtua murid, karena alhamdulillah saya masih menyimpan arsip kliping korannya.

Demikian juga sekumpulan makalah2 yang saya presentasikan di kegiatan focus group discussion (FGD) Wandik Kota Bogor yang saya karang dan tulis sendiri, diantaranya menyoroti kasus-kasus korupsi dana pendidikan di sekolah-sekolah, kini sudah saya bukukan sebagai sebuah catatan kenangan.

Buku tersebut saya beri judul “Kritik dan Saran untuk Peningkatan Mutu Pelayanan Pendidikan Kota Bogor”, 575 halaman dicetak IPB Press. Dan diakhir masa bakti kepengurusan buku tersebut saya cetak, dan kemudian sudah saya bagikan kepada pihak-pihak terkait dengan domain pendidikan antara lain seperti Walikota, Wawalkot, Sekdakot Bogor beserta pejabat jajarannya, Dinas Pendidikan, Organisasi profesi pendidikan (PGRI, MKKS etc), para tokoh pendidikan dll. Apa yang saya lakukan demi cinta saya kepada Kota Bogor yang telah banyak memberikan kenikmatan hidup dan pelajaran, pengalaman hidup yang sangat berharga dan bermakna kepada saya. Terima kasih Kota Bogor yang penuh kenangan.

Tapi itulah ceritanya kesan-kesan saya, selama saya memimpin Wandik Kota Bogor, bapak Walkot pemimpin tertinggi yang bertanggungjawab terhadap nasib dunia pendidikan Kota Bogor, tidak berhasil menyediakan waktunya khusus untuk saya dan kami beraudiensi untuk membahas persoalan-persoalan pelik dunia pendidikan Kota Bogor tersebut. Saya pun tidak tahu penyebab sesungguhnya apa? Kemungkinan beliau terlalu sibuk dengan tugas kedinasan lainnya. Wallahuaklambissahab. Jujur saya berkata, ada beberapa kali saya melayangkan surat resmi Wandik untuk memohon waktu beraudiensi dan bahkan minta waktu bertemu secara pribadi di ruangnya dengan Bapak Walikota Bogor, sampai berakhir masa jabatan saya sebagai Ketua Wandik Kota Bogor tidak berhasil. Surat Wandik pun tidak pernah dibalas dan bertemu dengan beliau secara resmi tidak pernah, kecuali bertemu formal di sejumlah acara resmi dan forum-forum kedinasan.

Baca :  RUU HIP: Memperlemah atau Memperkuat NKRI ?

Begitulah kondisi paradoks yang saya alami, sebagai konsekwensi ketika saya banyak mengkritisi berbagai kebijakan dan program pendidikan Pemkot Bogor yang berkaitan dengan isu2 strategis pendidikan di Kota Bogor; seperti masalah rutin tawuran pelajar, peran dan fungsi komite sekolah, buku ajar/Lks, pembinaan karya inovatif siswa SMK, seleksi Kadisdik, rendahnya kesejahteraan guru, nasib guru honorer, tata kelola Yayasan pendidikan sekolah swasta, maraknya perilaku menyimpang LGBT, dan terutama problema korupsi dana BOS dan banyak lagi yang lain,. .. masaAllah …tidak pernah digubris opini-opini yang ada di mass media, dan begitupun Wandik tidak pernah diajak urun-renbug untuk membahas perbuatan jahat korupsi dana pendidikan ini.

Ya begitu jadinya, perbuatan korupsi di sekolah dengan menyalahgunakan penggunaan dana negara (APBN dan APBD) dan dana sumbangan masyarakat berjalan terus, tanpa ada hambatan. Sebenarnya kasus penyalahgunaan dana BOS tingkat SD yang telah lama berlangsung, beberapa tahun belakangan ini mencuat di koran koran. Peristiwa ini diibaratkan hanya sebuah gejala yang nampak seperti “puncak gunung es”.

Sebenarnya begitu banyak kasus-kasus penyimpangan yang telah diperbuat oleh para oknum di sekolah, yang diduga ada kaitan erat dengan pihak atasannya dan pihak-pihak luar lainnya. Kita kurang yakin ini bahwa perbuatan ini dilakukan sendirian oleh orang seorang, tapi perbuatannya bersifat kerja kolektif dengan pola dan jejaringan mapia, yang bisa menguak misteri hanya pihak berwajib.

Mudah-mudahan pihak penegak hukum (Kejaksaan dll) kita harapkan bisa bekerja secara baik, profesional dan jujur untuk membuka tabir korupsi dana pendidikan/BOS di sekolah-sekolah Kota Bogor tersebut. Dengan harapan agar sekolah-sekolah anak kita belajar, terbebas dan bersih dari perbuatan tercela-korupsi tersebut, demi ketenangan, kenyamanan untuk meraih masa depan yang gemilang bagi anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa yang kita sayangi.

Semoga Allah SWT selalu melindungi dan menoling kita. Amin3 YRA.
Sekian, sukron barakallah. Wass.AA

Penulis adalah Ketua Dewan Pendidikan (Wandik) Kota Bogor Periode 2013-2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here