Kucing Si Uya Minggat Semalaman

oleh -423 views
Kucing, Si Uya, Minggat Semalam

Oleh: Apendi Arsyad

Salah satu nama kucing kami adalah “Uya”. Uya berasal dari turunan kata Suryakencana, Surya disingkat lagi agar keren menjadi “Uya”.

Si Uya ini lebih kurang setahun yang lalu, bayi kucing yg dibuang dan ditemukan di selokan air oleh si Sulung Annisa Hasanah (29) di jalan Suryakencana, Kota Bogor.

Kucing bayi tersebut, dibuang oleh orang yang tidak bertanggungjawab di tempat persampahan trotoar-pedestarian kota Bogor. Kebetulan Annisa melewati jalan itu, rasa kasihan dan iba anakku Annisa pun muncul seketika.

Anak kucing ini harus diselamatkan begitulah perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. Si bayi kucing tersebut, dia bawa pulang ke rumah dan dirawat hingga besar seperti si Uya sekarang.

Memang anak-anakku di rumah sayang sama hewan seperti kucing sebagaimana ajaran Sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Bahwa ada keyakinan di keluarga kami, jika menyayangi dan merawat kucing akan mendapat pahala dari Allah SWT dan rezeki pun dimurahkan dan bertambah-tambah jika kita memberi makan dan merawat kesehatannya.

Dengan keyakinan dan cara pandang demikian, hingga saat ini (1/4-2021) di rumah dipelihara kucing-kucing ada sebanyak 6 ekor. Semuanya kucing keturunan jenis “gen kampung”, sedikit ada blasteran dengan aneka warna yang lucu dan menarik.

Sebenarnya jumlah kucing kampung yang diberi makan dan minum di rumah, ada sebanyak lk 12 ekor, 6 ekor diantaranya kucing milik tetangga yang sering bertandang dan “bertamu” ke rumahku untuk mendapatkan makanan.

Kucing tamu itu ada namanya si Krisna (jantan temannya gelutnya si Uya), si Luna (pejantan/jagoan), si Cantik dan si Chika (perempuan, indukan, sering beranak di sudut pojok rumah).

Kucing-kucing yang ada di rumah sekarang seperti si Uno dan si Abo adalah anak si Chika dari dua kali beranak, sedangkan si Soleh, si Oly dan si Eco adalah anaknya almarhumah Busui (Busui kata singkatan “ibu yang menyusui”).

Sekarang ada lagi tiga ekor anak kucing si Chika yang baru lahir dan dirawat di kandang khusus di pojok rumah bagian belakang, namanya si Ecil, si Ocil dan si Bucil.

Kucing-kucing “yunior” jika bermain, dan bergelut di kandangnya tampak lucu dan bisa menghibur diri, saya senang menontonnya. Jadi jumlah kucing yang ada saat ini di rumahku, yang tengah dirawat baik oleh putri-putriku ada sebanyak lk 9 ekor.

Baca :  Jaga Merauke dari Penyakit Berbahaya, Karantina Tolak Kucing

Sebenarnya aktivitas perawatan kucing-kucung ini lumayan menyita waktu dan memerlukan biaya agak “besar” untuk membeli ransumnya 1-2 karung sebulan, makanan tambahan kalengan (vitamin), sabun dan sampo untuk memandikan kucing-2, pasir dan bak-bak tempat BANnya, peralatan lainnya dan biaya berobat ke klinik dokter hewan, apabila kucing-kucing itu sakit, dsb.

Tapi keluarga kami menyenangi hewan-hewan kesayangan nabi ini, sehingga membuat segala pengorbanan biaya yang kami keluarkan dan waktu yang dicurahkan tidaklah merasa berat.

Terlebih manfaat hiburan yang kami rasakan sekeluarga, keberadaan kucing-kucing ini di rumahku dapat menghibur dan mencurahkan “kasih sayang” sama binatang, yang juga makhluk ciptaan Allah SWT.

Manfaatnya bersama para kucing ini serumah, membuat kami tidak jenuh (boring) seharian berada, belajar dan bekerja dari rumah (work and learn from home) dan tinggal (stay at home) di rumah di masa-2 pandemi Covid 19 sekarang ini.

Begitulah cerita manfaat memelihara kucing-kucing di rumah yang kami rasakan banyak kesenangannya, terutama melihat pola perilakunya dan postur tubuhnya yang gemuk (gendut, ndut…ndut seperti si Eco dan si Oly) membuat saya dan kami yang melihatnya gemes dan atraktif, si hewan ini kemudian juga memberikan respon yang lucu dan menghibur tuannya.

Saya sendiri, apabila waktu senggang di rumah amat suka “mengelus-elus” dan menggaru-garu bagian punggung, badannya, telinga dan kepalanya, hewan-hewan ini kelihatan senang karena dibelai dengan rasa kasih sayang dan mungkin bisa menghilangkan gatal-gatal akibat kutu-kutu pada bulunya.

Alhamdulillah bersahabat dengan kucing peliharaan, perasaan dan pikiran yang mungkin “gundah gulana” menjadi tereduksi.

Jika ada diantaranya warga penghuni rumah ini “hilang” tidak ada di rumah, kami pun merasa gusar dan was was akan nasib hewan kesayangan kami sekeluarga itu. Pada hari Rabu kemaren (31/3-2021), salah satu kucing namanya si Uya, tidak kembali ke rumah.

Memang Rabu paginya si Uya kelihatan lesu, biasanya gerakannya lincah, lucu dengan suara khas apabila berebut makanan nasi-tongkol yang disuguhkan nyonya rumah (Ny. Ati yang baik hati) kesemua warga kucing di rumah, tapi pagi Rabu itu kucing si Uya tidur-tiduran di keset depan pintu kamar anakku.

Baca :  Nasib Kucing Si Uta

Saya lihat pagi Rabu itu, si Uya tampaknya tiba-tiba kurang bersemangat dan tidak lincah, tidak ada gairah, tidak.mau berebut makanan nasi ikan Tongkol di dapur.

Lebih kurang dua minggu yang lalu si Uya, memang telah dibawa ke klinik dokter hewan “Buana Vet” di kawasan komplek Galaxi Tajur Bogor untuk berobat, kata drh Kucing si Uya kesehatannya agak terganggu akibat kurang gizi, asupan makanannya kurang berkualitas. Sehingga selama beberapa hari ini si Uya mendapat makanan kalengan bermerek “khusus” untuk makanan yg mengandung komposisi gizi yang baik.

Alhamdulillah si Uya mau menyantap makanan khusus yang diberikan tuannya. Kesehatannya kelihatannya agak membaik. Tapi entah mengapa Rabu pagi kesehatan si Uya agak mendadak turun (drop), tampak lesu, lemes dan kurang napsu makan serta banyak berdiam diri (tiduran di keset depan kamar).

Diperkirakan waktu siang harinya si Uya pergi keluar rumah tanpa sepengetahuan kami, tidak seorang pun penghuni rumah tahu kemana dan dimana keberadaan si Uyah, hingga sore dan malam hari tidak pulang-pulang dan dicari di sudut-sudut rumah dan kamar-kamar tidak ketemu juga.

Pada sore harinya Rabu itu (kemaren) saya ikut mencari si Uya yang “hilang” di sejumlah pekarangan tetangga di samping dan di belakang rumah sambil bertanya ke beberapa orang tetangga yg kenal. Mereka menjawab tidak ada kucing si Uya yang berkalung di lehernya dengan nama si Uya melintas atau bermain disitu.

Hingga malam si Uya juga tidak pulang juga, saya bersama anak-anak terus mencari di pojok-2 rumah, grasi mobil, di dalam almari pakaian, ruang perpustakaan, dsb juga tidak ketemu. Kami pun sangat was-was si Uya tersesat, bertambah sakit dan mati di rumah atau pekarangan tetangga.

Begitulah perasaan yang kami alami, ketika hewan kesayangan si Uya berpisah dengan kami, hingga larut malam (jam 0.30 wib) ketika saya mau istirahat tidur si Uya pun belum pulang juga ke rumah, tidak seperti biasanya.

Baca :  Karantina Papua Selatan Berhasil Amankan Kucing dan Burung Nuri

Saya sudah berniat sebelum berangkat ke peraduan-tidur, besok Kamis pagi setelah sholat subuh si Uya akan saya cari di lingkungan RT 06 kampung Wangun Atas, Kelurahan Sindangsari pada bagian depan rumahku, yakni di sekitar pinggir jalan tol Bocimi, Ciawi, Bogor, sambil berolahraga jalan kaki-sehat sebagaimana kebiasaanku sehari-hari untuk menjalankan pola hidup sehat.

Setiap pagi sebelum keluar rumah, berolahraga jalan kaki, saya menyapu bagian luar rumah dan pekarangan.
Alhamdulillah ketika saya naik ke paviliun atas untuk membersihkan lantai di pagi hari Kamis itu, ketika itu saya melihat dan menemukan si Uya sedang tidur di atas sebuah kotak yang ada di bagian bawah pojok almari gantung lantai atas rumahku.

Alhamdulillh, senang sekali perasaanku waktu itu menemukan si Uya, yang bisa kembali ke rumah, setelah semalaman bahkan seharian menghilang dari rumah.
Kemudian secara spontan saya panggil dan memberitahu putri-putriku (Inna dan Fathia) bahwa si Uya sudah ada di ruang lantai atas, faviliun rumah, sedang tiduran.

Barangtentu dengan ada khabar baik dan gembira ini, anak-anakku dan termasuk istriku merasa senang dan lega telah menemukan salah satu kucing kesayangan kami sekeluarga, yang sempat tidak ada dari rumah seharian, namanya si Uya.

Si Uya asalnya adalah anak kucing bayi “anak jalanan” yang lucu, yang sempat ditemukan dan diselamatkan dari jalan Suryakencana, Kota Bogor oleh si Sulungku, Annisa Hasanah SP, MSi tempo hari. Si bayi itu dirawat dengan penuh kesabaran dan kasih-sayang dengan memberi susu instan-kaleng, bubur dll, sehingga kini kucing si Uya menjadi besar dan dewasa, serta tampak lucu.

Begitulah narasi mengenai kisah kehidupan kucing-kucing yang ada di rumah kami sebagai hewan kesayangan, dan salah satunya si Uya membuat kami gundah dan “gelisah” atas kehilangannya, pergi dari rumah.

Semoga si Uya sehat dan bergairah kembali serta lucu dalam hidupnya bersama saudaranya yang lain di rumah.

H. Apendi Arsyad dan Keluarga penyayang Kucing