Site icon LEAD.co.id

Lampung Kota Terapung

Lampung, Kota Terapung, Ace Sumanta

Provinsi Lampung [File: Kemenkeu RI]

Oleh: Ace Sumanta

Lampung kini menjadi sebuah provinsi yang dibentuk sejak tanggal, 18 Maret 1964. Tentu saja dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3/64 yang kemudian menjadi Undang-undang Nomor 14 tahun 1964.

Tentu saja sejak awal kemerdekaan, Lampung merupakan sebuah daerah keresidenan yang ada di Provinsi Sumatera. Ada daerah tentu ada pemimpin. Ditunjuk saat itu, Mr. Abbas sebagai Residennya.

Penduduk asli Provinsi Lampung terdiri atas suku bangsa: Lampung Peminggir, Lampung Manggala, Lampung Abung, Lampung Pubian dan Lampung Sungkai/Way Kena. Kini Provinsi Lampung sudah multi-suku yang tinggal. Ada dari Jawa, Sunda, Bali, Palembang, Minangkabau dan lain-lain.

Konon Lampung sendiri berasal dari kata “terapung” yang terkait dengan legenda tokoh dari langit namanya “Si Lampung Ratu Bulan,” ungkap Anwar di sela buka-buka buku sejarah.

Ada dalam catatan Cina sekitar abad ke-7 dengan mengatakan Kerajaan Tulang Bawang dengan ucapan “to-lang-p’o-whang” hal itu berubah menjadi Lampung.

Kini Provinsi Lampung tidak hanya 6 wilayah daerah melainkan 16 wilayah. Adalah: Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Tanggamus, Kota Metro, Kabupaten Pringsewu, Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Pesisir Barat, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Tulang Bawang, Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Saat Ani membuka laptop kesayangannya, ada informasi untuk kunjungan sastra dan budaya ke Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung. Maka, Ani dengan segala kepiawaiannya dalam menulis, informasi itu sampai juga ke telinga Anwar mengetahui informasi kunjungan sembari diskusi sastra tentang Pringsewu.

Panitia akan mengadakan kegiatan skala nasional melalui karya tulis. Memang Kabupaten Pringsewu di Provinsi Lampung terbilang masih muda namun namanya sudah terkenal dikalangan sastrawan dan budayawan.

Tentu berkat kecerdasan panitia dalam membuat acara. Sangat sederhana memang acaranya tapi membuming. Semua bisa dibuka di google.

“Semoga kita bisa kesampaian untuk berkunjung dan membaca puisi di Pendopo Bupati dalam merayakan Ulang Tahun Kabupaten itu,” ungkap Anwar penuh harapan, sembari membuka handphone melalui google.

Anwar melanjutkan untuk mengedit puisi yang diminta dikirim ke e-mail secepatnya. Kedua tokoh ini selalu saling komunikasi soal prestasi dan literasi.

Ani kali ini lebih cepat mengirim puisinya karena bisa langsung dikirim melalui laptopnya. Sedangkan Anwar harus ke rental.

Sangat terharu tentu saja, setelah Anwar baca karya Ani. “Moga-moga kami lolos sensor panitia,” gumam Anwar.

Ani memang selalu cepat karena soal fasilitas tidak ada hambatan. Sementara Anwar suka banyak kendala. Soal handphone lah, gangguan mati lampu di rental terkadang yang mengetiknya sibuk banyak orderan.

“Ya …semoga Ya Rabb” doa Anwar. Ani sudah selesai mengirimkan karyanya melalui e-mail laptopnya. “Alhamdulillah moga lolos ya,” ujar Anwar ke Ani melalui balasan WhatsAppnya.

Setelah satu minggu berlalu. Ternyata ada pemberitahuan kepada email Ani. Bahwa karyanya masuk seleksi.

“Coba buka di email apa ada jawaban soal karya kita,” pinta Ani kepada Anwar. “Maaf sedang di kereta ni mau ke Taman Ismail Marzuki Cikini ada diskusi dengan teman-teman,” ujar Anwar kepada balas WhatsApp Ani.

Terasa gembira ternyata puisi karya Anwar pun masuk seleksi. “Kami akan mengundang seluruh peserta untuk hadir di Pringsewu?” ungkap salah satu panitia.

Sudah begitu yakin. Bahkan tiket Kapal Laut pun sudah dipesan untuk berdua. “Semoga suasana Covid 19 berakhir.” ungkap panitia.

Terbayang dengan keindahan alam Provinsi Lampung terutama di Kabupaten Pringsewu. Daerah terkenal dengan bambunya. Alam segar, air bening dan pepohonan rindang. Anwar mencari informasi tentang kuliner yang dibalut dengan pagelaran seni budaya Lampung.

Tentu saja Tari Jangget merupakan tarian khas untuk upacara peradaban. Tarian yang melambangkan budi susila rakyat Lampung. Begitu juga ada tarian yang indah, religius dan mistis yakni Tari Melinting yang berlatar belakang cerita Rakyat Lampung dengan latar cerita Sunan Gunung Jati pernah berkunjung ke Keratuan Pugung.

Sunan Gunung Jati merasa jatuh cinta kepada putri Sinar yang tengah menarikan tarian melinting. Dengan segala kepiawaian dan inovasi seni budaya masyarakat Lampung tarian bisa disajikan dengan apik dan menarik. Tidak hanya tarian menurut Anwar, tapi banyak karya lainnya yang memukau yakni Rumah Tradisional Lampung yaitu nowow balak dan nowow lunik.

“Mungkin anak-anak milenial Lampung saat ini tidak tertarik,” ungkap Ani kepada Anwar. “Ya sama di Bogor juga begitu, hampir melupakan seni tradisionalnya. Contoh rumah panggung yang terbuat dari papan dilapisi bilik dengan atap dari bahan rumpia,” ujar Anwar sembari melihat-lihat buku tentang catatan sejarah saat kursus ilmu sejarah di Bandung.

“Memang fakta begitu jika pelajaran kearifan lokal ditinggalkan di sekolah?” balas Ani dengan membayangkan generasi akan datang sudah jauh panggang dari api peribahasanya.

Sambil mengetik di handphone bahkan Anwar masih ada di Jakarta sedangkan Ani sudah pulang dari tempat pekerjaannya. Masih membahas soal sejarah dan budaya.

Padahal keduanya tidak kuliah di jurusan Sejarah maupun budaya atau tepatnya di Fakultas Ilmu Budaya melainkan di Fakultas Keguruan dan Ilmi Pendidikan (FKIP) jurusan Bahasa dan Seni. Sehingga wajar kalau banyak menulis puisi dan artikel yang berbau bahasa dan sastra.
Terutama Anwar yang punya prinsip “Tiada hari tanpa Menulis Puisi”.

Berbulan-bulan menunggu kepastian untuk berkunjung ke Kabupaten Pringsewu. Covid-19 tidak juga usai. Ani dan Anwar telah persiapan baik tiket maupun telah membeli sepatu dua pasang dan baju kemeja.

“Duh ini aku dah beli sepatu untuk jalan-jalan ke luar daerah,” ujar Ani. Anwar hanya tersenyum kecil saja. Dalam hatinya sama galau juga.

Anwar ingin mampir ke Tulang Bawang karena ada saudara anak paman menikah setahun lalu di Tulang Bawang. Tentu saja jauh walaupun bisa ke Pringsewu.

“Moga juga tak bentrok dengan jadwal kerjaku,” Ani kembali menyela. Anwar menganggukan kepala. Sedangkan Anwar tidak ada hambatan karena tidak terikat dengan pekerjaan formal.

Satu bulan berikutnya ada japri bahwa tidak akan ada acara karena masih suasana Covid-19. Bahkan masih tinggi Covid di Tanah Air. Keduanya pasrah walaupun sedikit kecewa sudah siap-siap. Baik tiket Kapal Laut maupun membeli sepatu.

Tentu saja kekecewaan itu terobati dengan buku Antologi Puisi “Pringsewu Kita” segera di kirim melalui pengiriman paket ke masing-masing alamatnya.

“Alhamdulillah.. ada kepastian. Buku akan segera kita terima Kang,” ungkap Ani. Sementara Anwar belum menerima informasi karena handphonenya terkadang eror tidak bisa menerima maupun mengirimkan pesan.

Begitu juga pengiriman buku ke Ani jauh lebih cepat karena rumahnya ada di kota. Mudah terjangkau. Anwar belum mendapatkan informasi apa-apa.

Dua minggu berlalu. Pihak pengantar buku melalui jasa pengiriman barang telpon Anwar menanyakan soal alamat rumah.
“Maaf dari siapa?,” ungkap Anwar.

“Oh saya dari jasa pengiriman barang. Mau mengantarkan buku dari Panitia Kepenulisan buku Pringsewu pak,” ujar pengantar. Rupanya supir telah putar puter mencari alamat. Katanya sudah dari pagi.

“Maaf pake kendaraan apa?” tembal Anwar
“Pake mobil pak,” tembal supir pengantar barang. “Oh…” ungkap Anwar. “Posisi di mana ini pak,” jawab Anwar. “Saya ada di depan Polsek Ciampea,” tukasnya.

“Baik tunggu di depan Polsek ya. Saya yang ke situ,” ungkap Anwar agar tidak ribet mengantarkan buku ke kampung. “Ya pak mobil warna apa?” pinta Anwar. “Mobil putih di depan Avanza hitam ni,” tukasnya. “Ya terimakasih ni saya,” jawab Anwar.

Tidak lama kelamaan putih pembawa barang berlalu dengan cepat. Begitu juga Anwar tidak lama langsung pergi meninggalkan lokasi. Kali ini motong jalan ke perkampungan di Lapangan Tembak.

“Alhamdulillah..tiba juga kabar baik ini.” ungkap Anwar. Tentu saja menambah lagi koleksi buku. Anwar menyampaikan kabar ini ke Ani. Tidak menunggu waktu setelah sholat Ashar.

“Neng buku puisi dari Lampung sudah kuterima ni.” kabarnya ke Ani. Kali ini tidak langsung dibaca dan dibalas WhatsAppnya. Setelah magrib baru dibaca dan dibalas.

“Alhamdulillah kang. Maaf tadi langsung gendong cucu jadi tak membuka handphoneku,” balas Ani. “Iya tidak apa-apa”, tukas Anwar.

Setelah sembahyang Isha ada WhatsApp dari Ani dengan bahasa. “Titip ya puisiku jika ada hal mendadak tinggal membuka,” ujar Ani sembari mengirimkan puisi yang ada di buku Antologi Puis Pringsewu Kita.

Legenda Seribu Bambu

Pringsewu tersenyum
Menyapa Nusantara
Dari kelebatan legenda bambu seribu
Menatap lautan memandang harapan
Terbingkai dalam Provinsi Lampung membawa kedamaian
Bandar Lampung terkuak harapan
Lepas memandang lautan membiru
Membawa pesan kebhinekaan di tengah tanah subur Nusantara
Kubawa pergi melintasi jejak kehidupan
Walau dari perkampungan Margakaya namaku
Kutebus rindu menyatukan hati
Membangun negeri
Tumbuh berjuta mimpi membuka peristiwa menanam beribu bambu
Mengikatkan tali silaturahmi
Untuk senyum abadi.

(Pamoyanan, 30 Januari 2020)

“Luar biasa Ani, Puisinya indah, inspiratif dan memiliki nilai naratif ekslusif,” ujar Anwar.

Memang Ani sangat berbakat menulis walaupun pada saat kuliah dulu pendiam. Sangat berbeda dengan Anwar. Saat kuliah sangat nampak bakat menulis dan membaca puisi.

Dosen pun sering kali memujinya. Tidak aneh jika nilai dari Apresiasi Sastra dari Profesor dosennya mendapat nilai “A”. Anwar sembari membuka buku kumpulan puisi itu untuk mencocokkan puisi Ani dengan puisi yang ada di dalam buku itu.

“Mantap Ani”, ujar Anwar mengakhiri perbincangan karena waktunya sudah malam.

Exit mobile version