Lampung Kota Terapung

oleh -1,122 views
Lampung, Kota Terapung, Ace Sumanta
Provinsi Lampung [File: Kemenkeu RI]

Ani memang selalu cepat karena soal fasilitas tidak ada hambatan. Sementara Anwar suka banyak kendala. Soal handphone lah, gangguan mati lampu di rental terkadang yang mengetiknya sibuk banyak orderan.

“Ya …semoga Ya Rabb” doa Anwar. Ani sudah selesai mengirimkan karyanya melalui e-mail laptopnya. “Alhamdulillah moga lolos ya,” ujar Anwar ke Ani melalui balasan WhatsAppnya.

Setelah satu minggu berlalu. Ternyata ada pemberitahuan kepada email Ani. Bahwa karyanya masuk seleksi.

“Coba buka di email apa ada jawaban soal karya kita,” pinta Ani kepada Anwar. “Maaf sedang di kereta ni mau ke Taman Ismail Marzuki Cikini ada diskusi dengan teman-teman,” ujar Anwar kepada balas WhatsApp Ani.

Terasa gembira ternyata puisi karya Anwar pun masuk seleksi. “Kami akan mengundang seluruh peserta untuk hadir di Pringsewu?” ungkap salah satu panitia.

Baca :  Kebudayaan Daerah Sebagai Kearifan Lokal dalam Penguatan Program Pancakarsa

Sudah begitu yakin. Bahkan tiket Kapal Laut pun sudah dipesan untuk berdua. “Semoga suasana Covid 19 berakhir.” ungkap panitia.

Terbayang dengan keindahan alam Provinsi Lampung terutama di Kabupaten Pringsewu. Daerah terkenal dengan bambunya. Alam segar, air bening dan pepohonan rindang. Anwar mencari informasi tentang kuliner yang dibalut dengan pagelaran seni budaya Lampung.

Tentu saja Tari Jangget merupakan tarian khas untuk upacara peradaban. Tarian yang melambangkan budi susila rakyat Lampung. Begitu juga ada tarian yang indah, religius dan mistis yakni Tari Melinting yang berlatar belakang cerita Rakyat Lampung dengan latar cerita Sunan Gunung Jati pernah berkunjung ke Keratuan Pugung.

Baca :  Berangkat ke Lampung, Presiden Jokowi Resmikan Muktamar NU

Sunan Gunung Jati merasa jatuh cinta kepada putri Sinar yang tengah menarikan tarian melinting. Dengan segala kepiawaian dan inovasi seni budaya masyarakat Lampung tarian bisa disajikan dengan apik dan menarik. Tidak hanya tarian menurut Anwar, tapi banyak karya lainnya yang memukau yakni Rumah Tradisional Lampung yaitu nowow balak dan nowow lunik.

“Mungkin anak-anak milenial Lampung saat ini tidak tertarik,” ungkap Ani kepada Anwar. “Ya sama di Bogor juga begitu, hampir melupakan seni tradisionalnya. Contoh rumah panggung yang terbuat dari papan dilapisi bilik dengan atap dari bahan rumpia,” ujar Anwar sembari melihat-lihat buku tentang catatan sejarah saat kursus ilmu sejarah di Bandung.

Baca :  Interpretasi: Peradaban Islam Masuk ke Indonesia

“Memang fakta begitu jika pelajaran kearifan lokal ditinggalkan di sekolah?” balas Ani dengan membayangkan generasi akan datang sudah jauh panggang dari api peribahasanya.

Sambil mengetik di handphone bahkan Anwar masih ada di Jakarta sedangkan Ani sudah pulang dari tempat pekerjaannya. Masih membahas soal sejarah dan budaya.

Padahal keduanya tidak kuliah di jurusan Sejarah maupun budaya atau tepatnya di Fakultas Ilmu Budaya melainkan di Fakultas Keguruan dan Ilmi Pendidikan (FKIP) jurusan Bahasa dan Seni. Sehingga wajar kalau banyak menulis puisi dan artikel yang berbau bahasa dan sastra.
Terutama Anwar yang punya prinsip “Tiada hari tanpa Menulis Puisi”.