Oleh: Gumelar A. Wijaya, S.T
Manajemen adalah seni pengaturan untuk menjalankan kehidupan agar umat manusia mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Banyak pakar manajemen dari barat yang dijadikan rujukan untuk merumuskan seni-seni dalam mengatur kehidupan, seperti Mary Parker Follet, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain, definisi ini berarti bahwa seseorang bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan dan banyak sekali pakar-pakar manajemen barat yang dijadikan rujukan studi termasuk ummat islam.
Sejatinya ilmu manajemen sudah ada sebelum ilmu dari pakar-pakar barat ada yaitu ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah Nabi Muhammad SAW, cukup dengan dua pnduan ini umat manusia bisa memanejemen atau mengatur kehidupan nya didunia maupun diakhirat. Manajemen Syariah yaitu seni pengaturan kehidupan yang tidak bisa lepas dari ikatan keimanan dan ketauhidan.
Ketika kita berbicara manajemen syariah otomatis kita berbicara perilaku kahidupan manusia yang diiringi oleh nilai-nilai keimanan dan ketauhidan, jika setiap perilaku manusia dilandasi oleh keimanan dan ketauhidan maka diharapkan akan terhindar dari hal-hal yang merugikan bagi diri sendiri dan orang lain, karena menyadari bahwa adanya pengawasan dari yang mahatinggi, yaitu Allah SWT , yang akan mencatat setiap perilaku atau perbuatan baik ataupun perbuatan buruk kita, firman Allah SWT dalam Al Quran Surat Az-Zalzalah : 7-8,
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarra pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (Az-Zalzalah: 7-8)
Hal ini berbeda dengan perilaku dalam manajemen konvensional yang sama sekali tidak memperhatiakan nilai-nilai keimanan dan ketauhidan. Orang yang menerapkan manajemen konvensional tidak merasa adanya pengawasan melekat, kecuali semata-mata pengawasan dari pimpinan atau atasan. Setiap kegiatan didalam manajemen syariah diupayakan menjadi amal shalih yang bernilai abadi,oleh karna itu Allah berfirman di dalam Al Quran Surat Al-‘Asr Ayat 1-3
“Demi masa, sungguh, manusia dalam keadaan rugi, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (Amal Sholih) serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”
Kunci dari seluruh konsep manajemen adalah memanfaatkan waktu untuk meningkatkan kualitas keimanan serta mengerjakan amal sholih yaitu amalan yang bermanfaat bagi diri nya dan bagi orang lain sehingga mendapatkan nilai di hadapan Allah SWT. Sangat penting kita memperhatikan masalah waktu sampai-sampai Imam Asy Syafi’I rahimahullah berkata:
“seandainya setiap manusia merenungkan surat ini (Al-Asr), niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka” (Tafsir Ibnu Katsir)
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria tersebut, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar.
Maka konsep yang paling utama di dalam manajemen syraiah adalah masalah waktu. Jika kita ingin sukses di dunia maupun di akhirat manfaatkan lah waktu dengan sebaik-baiknya, manfaatkanlah waktu muda sebelum waktu tuamu, manfaatkanlah waktu kayamu sebelum waktu miskin mu, manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu.
Semoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya… Aaminn ya Rabbal ‘Alamin.





