Manfaatkan Peluang, Afiful Wadud Kembangkan Budidaya Jamur Tiram

oleh -914 views
Peluang, Afiful Wadud, Budidaya, Jamur Tiram
Afiful Wadud, Afiful Wadud, warga Dusun Lekoh Barat, Pamekasan saat mengembangkan budi daya Jamur Tiram

LEAD.co.id | Afiful Wadud, warga Dusun Lekoh Barat, Desa Bangkes, Kecamatan Kadur ini bertekad mengembangkan usaha jamur tiram, berkat mengikuti program wirausaha baru (WUB) yang dicanangkan Pemkab Pamekasan.

Jamur tiram (pleurotus ostreatus) merupakan jamur pangan dari golongan basidiomycota dan termasuk juga ke dalam kelas homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih atau krem serta tudungnya berupa setengah lingkaran menyerupai cangkang tiram dengan sisi tengah agak cekung.

Jenis jamur ini juga kerap dikenal dengan sebutan King Oyster Mushroom. Jamur tiram termasuk juga ke dalam jenis jamur kayu. Habitat asli jamur tiram di alam bebas, bisa tumbuh di batang kayu lapuk sepanjang tahun dengan udara yang sejuk.

Tubuh buah jamur tiram mempunyai tangkai yang tumbuh menyamping serta memiliki bentuk seperti tiram (ostreatus) hingga jamur tiram memiliki nama binomial pleurotus ostreatus. Bagian tudung dari jamur itu berubah warna dari hitam, abu-abu, coklat, sampai putih, dengan permukaan yang nyaris licin, dengan kisaran diameter 5–20 cm yang bertepi tudung mulus sedikit berlekuk.

Tidak hanya itu, jamur tiram juga mempunyai spora berupa batang berukuran 8-11×3-4µm dan miselia berwarna putih yang dapat tumbuh dengan cepat.

Di alam bebas, jamur tiram dapat ditemui hampir di sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah tampak saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang udah mulai lapuk atau pokok batang pohon yang udah ditebang lantaran jamur tiram yaitu satu diantara jenis jamur kayu.

Baca :  Besok, Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau se-Madura Dideklarasikan

Bagi Afiful Wadud, jenis usaha ini tergolong baru. Sebelumnya ia hanya menggeluti bidang pertanian membantu orang tuanya bercocok tanam. Namun, demikian ia sangat bersemangat untuk mengembangkan usaha barunya tersebut.

Tekad bulatnya muncul setelah mengikuti program wirausaha baru (WUB) dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Pamekasan yang sekarang berubah nama menjadi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dan Ketenagakerjaan Pamekasan.

Afiful Wadud yang akrab disapa Wadud tersebut menyampaikan, adanya pelatihan budidaya jamur tiram selama lima belas hari di rumah A Rofik (Pak Wawan) di Dusun Gardajah, Desa Konang, Kecamatan Galis, Pamekasan yang diselenggarakan Disnakertrans Kabupaten Pamekasan itu membuatnya kepincut untuk menjadi pembudidaya jamur tiram.

“Setelah saya mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram pada 2020 lalu di kediaman Pak A Rofik, saya langsung tertarik berbisnis jamur tiram ini,” kata dia, pada Kamis (4/2/2021).

Menurutnya, usaha jamur tiram di Pamekasan peluangnya cukup besar, karena tidak banyak orang yang berbudidaya jamur tiram. “Jadi, berbekal ilmu yang didapat dari pelatihan itu saya terapkan pada beberapa bibit yang diberikan selepas pelatihan saat itu,” ujarnya.

Pada 9 Desember 2020 dengan modal awal Rp3 juta, Wadud mulai mengejawantahkan tekadnya dengan membeli bibit jamur tiram sebanyak 500 baglog. “Untuk ukuran tempat budidayanya waktu itu saya buat dengan ukuran 3×4 meter. Cukuplah berbudidaya 500 bibit dengan luas lahan segitu,” kata sarjana ekonomi di Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang tersebut.

Baca :  Ribuan Buruh Pabrik Rokok Calon Penerima BLT-DBHCHT di Pamekasan Divalidasi

Dari hari ke hari, lulusa S2 UINSA Surabaya tersebut terus belajar membudidayakan jamur tiram. Mulai dari mempelajari bibit unggulnya seperti apa, cara menyemai, hingga bagaimana cara mengolah jamur tiram ketika sudah panen.

Semangat Tambah Modal Usaha 

Pelatihan budidaya jamur tiram yang didapat, serta pengalaman menjalani manisnya budidaya jamurnya sejak 9 Desember 2020 lalu hingga saat ini membuatnya berkeinginan menambah modal usahanya.

Ditambah bekal teori budidaya jamur tiram yang didapatnya saat kuliah di UNITRI, Wadud meyakini usahanya akan mendulang rupiah untuk menaikkan pendapatan ekonominya.

“Sampai saat ini saya memiliki bibit sebanyak 1300 baglog, dan saat ini pula saya sudah membuat lahan yang diperkirakan akan menampung hingga 10 ribu bibit jamur tiram,” kata dosen STIE Walisongo Sampang itu.

“Untuk luas lahannya, kira-kira 5 x 8 meter. Itu untuk menampung tambahan bibit jamur tiram tersebut,” imbuhnya.

Meskipun hingga kini belum bisa meraup yang banyak dengan omzet yang masih terbatas sebab belum menjual dengan skala besar, ia tetap optimistis usahanya di bidang budidaya jamur tiram ini pada akhirnya akan menuai hasil yang maksimal.

“Sebenarnya jika bicara omzet, belum, karena selama ini saya hanya menjual ke tetangga dan sesekali dititipkan untuk dijual di pasar. Jadi, saya tidak menghitung berapa omzetnya,” ucap Wadud.

Baca :  Sekdakab Pamekasan: Pilkades Proppo Tetap Dilanjutkan

Jamur tiram, di kalangan masyarakat dikenal tidak hanya sebagai jamur mentah, namun juga dapat diolah menjadi beberapa macam produk olahan. Dari budidaya jamur tira itu, Wadud berpikir progresif.

Sembari menambahkan bibit, ia juga memikirkan bagaimana mengolah jamur tiram ini tidak sekadar jamur mentah, melainkan dapat diolah menjadi berbagai macam produk olahan. Maka timbul gagasan untuk mengolah jamur tiram menjadi produk olahan.

“Untuk sementara, hanya dijadikan kripik. Namun, kedepannya saya berniat mengolah jamur tiram ini menjadi beberapa produk olahan seperti, jamur tiram crispy, bahkan mungkin steak, dan puding jamur tiram,” katanya bersemangat.

Bahkan, Wadud tidak lagi berpikir bahwa usaha yang digelutinya tidak kurang dari dua bulan ini akan merugi. Ia sangat optimis usahanya akan lancar dan sukses. “Meskipun hingga saat ini saya juga belum tahu pangsa pasarnya, namun saya tetap akan terus berjuang untuk usaha saya ini,” ungkapnya.

Afiful Wadud merupakan satu dari ribuan warga Pamekasan yang ikut dalam program pelatikan Wirausah Baru (WUB) yang dicanangkan Pemkab Pamekasan sejak Bupati Pamekasan Baddrut Tamam memimpin kabupaten ini.

Budidaya pertanian, merupakan salah satu jenis pelatihan dalam rangka menciptakan pengusaha baru yang difasilitasi Pemkab Pamekasan, disamping keterampilan jenis lain berupa pembuatan sepatu, tas dan keterampilan menjahit.

Reporter: Kholisin Susanto
Editor: Moh Hasanuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *