Masih Banyak Kerumunan, Crisis Center Covid-19 Kota Bogor Tidak Optimal

0
Crisis Center, Covid-19, Kota Bogor
Posko Crisis Center Covid-19 Kota Bogor

LEAD.co.id | Meski Kota Bogor telah berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Zona Merah Covid-19, namun tidak menumbuhkan kesadaran masyarakat. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang masih melakukan kegiatan yang sifatnya berkerumun.

Berbagai cara kepedulian pun banyak dilakukan dengan membagikan makanan, masker hingga sambako yang ditujukan kepada para pekerja harian. Namun hal itu malah memancing adanya kerumunan di tengah anjuran pemerintah tentang physical distancing.

Merespon hal itu, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Mitra Rakyat Bersatu, Jamal Nasir menilai kehadiran Crisis Center Covid-19 di Kota Bogor belum membumi sampai ke akarnya dari segi penanganan, pencegahan, hingga koordinasi. Karenanya, lanjut dia, banyak kepedulian masyarakat terhadap penanganan Corona dengan cara memberikan berbagai bantuan, namun sayangnya sering kali protokol tidak diperhatikan.

“Pada prinsipnya niat baik para dermawan untuk meringankan beban masyarakat terdampak Covid-19 harus diapresiasi, akan tetapi tentu caranya tidak menimbulkan kerumunan,” ucapnya kepada LEAD.co.id (11/4/2020).

Lebih lanjut Jamal juga menyampaikan, sebelumnya Rahman selaku ketua RT di Kelurahan Pondok Rumput pernah melaporkan warganya yang diduga terpapar Covid-19 sampai harus mendatangi Rumah Dinas Wali Kota yang saat ini dijadikan sebagai Crisis Center. Hal itu dilakukan Rahman lantaran lambatnya respon dari pihak kelurahan.

“Jadi, Pak Rahman ini berniat untuk meminta bantuan penanganan melalui nomor layanan penanggulangan Covid-19 tapi sulit, lapor kelurah pun slow respon, akhirnya dia berinisiatif langsung datang ke rumdim Wali Kota,” jelasnya.

Bahkan dirinya menjadikan hal tersebut sebagai sebuah contoh, “itu baru sederhana dalam penanganan Covid-19 di Kota Bogor. Jika masyarakat yang berdomisili jauh dari pusat kota dan memerlukan penanganan segara, dapat dibayangkan dengan model penanganan seperti ini akan berdampak bertambahnya masyarakat yg terpapar,” tambahnya.

Meski demikian dirinya menganggap langkah yang dilakukan Pemkot tersebut sudah benar. Namun disisi lain menimbulkan pertanyaan kesiapan Pemkot Bogor jika menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Saya berharap setelahnya, pemkot bogor dapat mengakomodir dalam pembagian bantuan idealnya yang aktif itu pemberi bukan penerima, dengan cara mendatangi penerima bantuan bukan mengumpulkan banyak orang kemudian setelah kumpul diberikan bantuan. Apa yang terjadi saat ini, ada kesan pemberi ingin terpublikasi sehingga secara otomatis mengundang kerumunan,” pungkasnya.

Reporter : Wawan Supriatna
Editor : Aru Prayogi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here