BOGOR (Lead.co.id) – Sekolah Vokasi (SV) IPB University telah menyelenggarakan kegiatan pendampingan petani kopi dalam program Matching Fund Kedaireka 2023 dengan PT Bogor Kopi Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 20-22 September 2023 ini diselenggarakan di Agria Hotel, Bogor. Tema besar dari kegiatan ini adalah “Resiliensi Petani Kopi dengan Penerapan Teknologi dan Sistem Kemitraan Berkelanjutan di Kabupaten Bogor.”
Ketua Tim Matching Fund Kedaireka 2023, Dr. Doni Sahat Tua Manalu, SE., M.Si, menjelaskan bahwa kegiatan pendampingan yang dilakukan ini adalah bagian dari rangkaian keseluruhan kegiatan yang dilaksanakan pada Program Matching Fund Kedaireka 2023.
Adapun tujuan utama program ini adalah untuk mengatasi tiga permasalahan utama yang dihadapi petani kopi di Kabupaten Bogor yaitu permasalahan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produksi kopi.
“Program ini dirancang untuk membantu para petani dalam meningkatkan kualitas kopi yang dihasilkan, mencapai target produksi yang diinginkan, dan menjaga kelangsungan produksi yang berkelanjutan,” kata Dr Doni.
Selama tiga hari pelaksanaan, Dr Doni menyampaikan bahwa, peserta sangat antusias, termasuk para mahasiswa yang sedang mengikuti MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) hadir pada acara ini. Dr. Doni juga menuturkan bahwa selain memberikan manfaat kepada petani, mahasiswa juga dapat terlibat aktif dalam kegiatan lapangan nantinya.
“Banyak sekali kegiatan lapangan mahasiswa yang sesuai dengan Program Matching Fund seperti kegiatan pembuatan stek, penerapan GAP (Good Agricultural Practices), pengolahan limbah kopi, pemetaan lahan perkebunan kopi, dan penguatan kemitraan,” tambahnya.
Ketua Komisi Gugus Penjaminan Mutu Sekolah Vokasi IPB University, Dr Veralianta Br Sebayang, SP, MSi, yang turut hadir memberikan sambutan, mengungkapkan bahwa program ini merupakan program dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi untuk menerapkan teknologi inovasi yang dimiliki oleh Sekolah Vokasi sebagai akademisi.
Dr Veralianta juga mengucapkan terima kasih atas bantuan dari para mitra dalam program Matching Fund ini. “Kami sangat senang karena teknologi inovasi dari SV IPB dapat diterapkan oleh PT Bogor Kopi Indonesia sebagai mitra industri untuk membantu para petani yang ada di Kabupaten Bogor,” ungkapnya.
Kegiatan pendampingan ini adalah bagian dari rangkaian program Matching Fund Kedaireka, adapun judul kegiatan pendampingan yang diberikan yaitu Pendampingan Kegiatan Pengolahan Limbah Menjadi Pupuk Organik oleh Dr Pujiyanto, MSc dari Puslitkoka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia).
Dia menyampaikan, limbah kulit kopi jumlahnya cukup melimpah berkisar 50-60 persen dari hasil panen, sehingga hal tersebut harus dapat dimanfaatkan seperti pembuatan kompos, pupuk cair, campuran media tanam, pakan ternak, biochar, daun kawa, cascara, dan bahan pembuat kerajinan.
“Limbah kulit kopi tersebut memiliki sumber bahan organik yang dapat berpotensi sangat besar, sehingga akan sangat bermanfaat untuk para petani,” katanya.
Selanjutnya, Dr Pujianto juga menyampaikan bahwa prospek agribisnis hulu maupun hilir kopi dalam jangka menengah dan panjang prospeknya diperkirakan akan tetap baik dengan adanya pertumbuhan pasar global maupun domestik yang tetap positif.
“Maka diperlukan aplikasi inovasi proses produksi, pengolahan, sistem pemasaran, serta pemanfaatan hasil samping limbah secara berkesinambungan untuk meningkatkan daya saing kopi Indonesia,” katanya.
Kemudian, judul pendampingan selanjutnya adalah mengenai Pendampingan Kegiatan Perbanyakan Bibit Stek Berakar oleh Fitria Yuliasmara, SP, MP dari Puslitkoka. Dia menguraikan upaya perbanyakan bibit kopi sebagai solusi terhadap produktivitas rendah di Indonesia.
“Faktor-faktor yang menurunkan produktivitas tanaman kopi dibagi menjadi faktor eksternal dan internal seperti tanaman tua, benih asalan, dan kurangnya adaptasi terhadap perubahan iklim. Hal tersebut harus diatasi untuk meningkatkan kualitas biji kopi dan perbanyakan bibit stek yang meliputi perbanyakan generatif dan vegetatif, pemilihan lokasi pembibitan hingga media tanam,” katanya.
Judul pendampingan selanjutnya adalah tentang Pendampingan Kegiatan Pemeliharaan Kopi Sesuai GAP (Good Agricultural Practices) disampaikan oleh Erriani Kristiyaningsih, M.Si yang bekerja di Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, Kementerian Pertanian menyampaikan mengenai perlunya Pendampingan Kegiatan Pemeliharaan Kopi Sesuai GAP (Good Agricultural Practices).
Selanjutnya narasumber terakhir adalah Ade Astri Muliasari, SP, MSi, selaku Dosen Program Studi Teknologi dan Manajemen Produksi Perkebunan. Ade Astri menjelaskan tentang GAP budidaya kopi yang sudah diterapkan di Kabupaten Bogor.
Kemudian, mengulas potensi limbah kulit kopi dan berbagai cara untuk memanfaatkannya, termasuk pembuatan kompos, pupuk cair, dan pakan ternak serta menjelaskan mengenai kondisi umum agribisnis kopi di Kabupaten Bogor berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

