Puisi oleh: Ace Sumanta
Tidak terasa kapak sayap Nusantara
Begitu dekat kutatap
Begitu mesra kupeluk
Di antara senja tiba
Ilalang berebah tertidur menuju semesta setelah memikul beban seharian penat meronta.
Langit Pekanbaru telah menjelajah peristiwa
Membuka mata pesona dunia
Dari lintas angin hingga menyentuh gumulan ombak mendekatkan kasih sayang
Karena sejarah mencatatnya
23 Juni 1784 menemukan karakter untuk berkiprah dan meramu peradaban di bawah kepemimpinan Sultan Muhamad Ali Abdul Malik Muazamsyah
Bahu membahu merenda hidup
Dari gelora peluh keringat memancar mutiara
Menanti bijak dari takdir pertapa Sang Kala Semesta
Maka para Datuk menyatukan visi dan misi lestari Pekanbaru;
Ada Datuk lima puluh
Ada Datuk Tanah Datar
Ada Datuk Pasir
Ada Datuk Kampar
Mereka ibarat saudara
Mengikat batin menatap masa depan dengan hilangkan ego dan kepentingan
Hanya tekad bulat merenda zaman berikrar masa depan.
Apa yang tiada dariku, tanya langit pada kota yang baru saja merdeka
Apa yang akan kamu perbuat untuk bumi hilangkan dahaga
Singkapkan rona berbeda asa
Untuk menggalinya agar tersenyum tanpa nyinyir.
Langit Pekanbaru menyapa dunia
Lewat sastra menjadi semiotika
Lewat puisi tangisan dan kesedihan menjadi ladang kebahagiaan dari negeri mumpuni.
Memandang langit Pekanbaru
Membuka aura semesta
Berjalan berdampingan dengan saudara membuka ladang, menyiapkan pabrik
Memanen rempah di bawa ke luar kota menuju bandara dunia.
Setiap senja
Burung bernyanyi terakhir kali menuju peraduan
Di bawah pohon rindang
Kusapa negeri
Menyanyikan Pertiwi.
Rumah Baca, 23 Agustus 2021





