Membangun Episentrum Literasi Sekolah

1
Rendy Dwi Maulana

Oleh : Rendy Dwi Maulana

(Pegiat Pendidikan)

 

Percakapan mengenai literasi menjadi menarik. Wajar saja karena masyarakat harus mulai disadarkan pentingnya literasi untuk kemajuan dan peradaban suatu bangsa. PBB pun dalam kurun Dasawarsa 2003-2013 mengenai literasi mengusung tema literasi sebagai kebebasan, hak untuk literasi dan prakarsa literasi bagi pemberdayaan.  Kedasaran pentingya literasi bukan lagi pada taraf regional melainkan sudah dalam tataran global.

Bicara literasi di bangsa yang majemuk ini selalu ada kekhawatiran. Hal itu disebabkan hasil penelitian kelas dunia yang sering diulang pemberitaannya masih belum menunjukkan progres yang menggembirakan. Misalnya hasil penelitian 2015 dari Program for International Student Assesment (PISA)  memperlihatkan rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara lain dengan ranking 62 dari 70 negara yang disurvei. Penelitian lain dari Central Connectiucut State University (CCSU) pada Maret 2016 merilis peringkat literasi Indonesia berada di posisi 60 dari 61 negara (dikutip dari deiknews terbit 5 Januari 2019). Data tersebut membuka mata kita bahwa ada permasalahan dalam literasi kita, mungkin disadari atau tidak, sebenarnya ada di sekitar kita. Secara spesifik masalah literasi bangsa ini ialah budaya membaca, bukan lagi buta aksara.

Peradaban literasi Indonesia seperti terayun-ayun sehingga terlena dalam situasi yang sama. Enggan beranjak dan berlari menyongsong kemajuan pikiran yang dipertontonkan negara lain. Padahal secara historis pada awal kemerdekaan menujukkan titik terang. Hal tersebut dapat kita buktikan dengan para pendiri bangsa membangun Indonesia dengan ide-ide yang kuat melalui budaya baca-tulis yang kokoh. Budaya literasi para pendiri bangsa melahirkan karya tulis, misalnya Bung Karno menelurkan pikiran ke dalam buku salah satunya Di Bawah Bendera Revolusi; Bung Hatta dengan bukunya Demokrasi Kita, Alam Pikiran Yunani, dan lain-lain. Itu hanya sebagai kecil dari bukti bahwa dahulu Indonesia memiliki bibit literasi yang baik. Akan tetapi pertanyaannya, ada masalah apa dengan literasi bangsa ini masih juga tidak membahagiakan?

Permasalahan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam budaya literasi Indonesia, untuk menjawab pertanyaan tadi. Saya ingin mengurai pemasalahan ke dalam dua bagian sebagai jalan penghambat dalam upaya mengembangkan literasi di bangsa Indonesia ini. Dalam tulisan ini akan menjurus pada literasi sekolah, karena harapan kemajuan bangsa Indonesia sebagian besar ada di lingkungan lembaga pendidikan.

Apakah konsep belajar di sekolah sudah mendorong masyarakat sekolah untuk meningkatkan literasinya?

Paradigma pendidikan dalam penyelenggaraannya menjadi fundamental sebagai upaya meningkatkan kualitasi literasi di sekolah. Bagaimanakah sebenarnya kondisi konsep pembelajaran yang diusung oleh pendidik di satuan pendidikannya masing-masing? Secara langsung dapat kita amati bahwa sekolah-sekolah sibuk menyiapkan siswa untuk siap menghadapi soal-soal ujian. Asumsi itu dapat dibuktikan semakin menjamurnya lembaga pendidikan nonformaal yang menyediakan jasa bimbingan belajar sebagai pemanfaatan keinginan peningkatan hasil ujian sekolah atau ujian nasional. Bahkan tidak jarang sekolah-sekolah pun menyelenggarakan bimbingan balajar yang dilaksanakan selepas pulang sekolah. Seolah-olah keberhasilan pendidikan dapat ditinjau sesingat mengerjakan ujian sekolah atau ujian nasional. Pandangan tersebut membentuk proses pembelajaran sekadar pembahasan soal-soal ujian atau lembar kerja siswa yang terurai dalam pilihan-pilihan ganda. Selain itu, kemajuan teknologi pun ikut menyumbang pengembangan bimbingan belajar yang beredar di masyarakat dengan hadirnya bimbingan belajar daring.

Baca :  Kompak Berbagi, Senyum Tukang Becak Merekah

Konsep proses pembelajaran di atas telah ikut membangun lambatnya perkembangan literasi bangsa ini. Karena siswa disibukkan membaca buku-buku pelajaran yang di dalamnya menghimpun soal-soal ujian ataupun membaca buku bank soal. Tradisi semacam ini menghambat proses berpikir kritis dan kreatif siswa sebagai substansi dari literasi. Kendati strategi pembelajaran diubah, diganti, atau diperbarui silih berganti, kemudian ditawarkan kepada para pendidik, tetapi kerutinan dan kebiasaan sulit diubah. Pembelajaran sekolah-sekolah di Indonesia kurang memberi kesempatan untuk kegiatan membaca dan menulis; disibukkan dengan ritual latihan soal (Saryono, 43: 2019).

Bagaimanakah posisi teknologi terhadap perkembangan literasi di Indonesia?

Perkembangan teknologi yang begitu pesat telah membangun peradaban baru, yaitu era digital. Hampir semua aspek kehidupan manusia dewasa ini tidak bisa lepas dari teknologi. Masyarakat Indonesia mayoritas memiliki gawai, begitupun dengan kaum pelajar. Hal itu menjadi faktor menjamurnya pengguna internet dan media sosial di kalangan pelajar, inilah era yang disebut sibernetik yang menurut Suryono (2019) di dalamnya dipenuhi kelisanan sekunder. Kelisanan sekunder (secondary orality) itu menurut Walter Ong (1982) adalah konsep kelisanan dalam menanggapi berbagai jenis teknologi elektronik.

Dalam berita harian Kompas Online mencatat data yang diambil Maret hingga 14 April 2019 oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dari total populasi sebanyak 264 jiwa penduduk Indenesia, ada sebanyak 171,17 jiwa atau sekitar 64,8 persen yang sudah terhubung internet. Masih peneliti yang sama dalam laman Okezone 22 Mei 2019, dikemukakan pengguna terbanyak internet pada usia 15 sampai 19 tahun. Sementara itu, pengguna internet terbanyak kedua pada usia 20 hingga 24 tahun. Anak-anak berumur 5 hingga 9 tahun pun menggunakan internet, bahkan mencapai 25,2 persen dari keseluruhan sampel.

Baca :  SMKN 2 Kota Bogor Sosialisasikan Program Kerja Tahun 2020-2021

Berdasarkan data survei tersebut menunjukkan mayoritas penduduk Indonesia menjadi pengguna di internet dan dapat disimpulkan pula didominasi oleh usia sekolah. Suryono (2019) mengungkapkan masyarakat Indonesia lebih banyak menggunakan internet untuk chatting dan game online. Selain itu, semakin berkembangnya program televisi mendorong masyarakat Indonesia lebih sibuk mencari hiburan dibanding membaca dan menulis. Hal tersebut menjadi penyebab hilangnya waktu pengembangan kemampuan membaca dan menulis di kalangan pelajar sehingga literasi sekolah tersendat oleh susatu yang begitu dekat dengan setiap individu.

Lalu apa solusi konkret untuk memperkuat literasi sekolah di Indonesia?

Peradaban literasi sekolah di Indonesia sedang diselimuti dua keadaan seperti yang sudah diungkapkan, jika dikaji terasa penuh dilema. Di satu sisi ujian sekolah atau nasional merupakan momok yang mesti diterjang tetapi situasi itu pula yang membawa konsep pembelajaran menjadi mengakar tentang soal-soal ujian. Sama halnya dengan perkembangan teknologi yang diagung-agungkan ikut berkontribusi terhadap kelisanan sekunder dan menyedot banyak waktu aktivitas pelajar Indonesia yang seharusnya digunakan untuk membaca dan menulis malah tersisihkan oleh penggunaan teknologi yang rancu dari fungsinya. Keadaan ini menurut temuan Baron (229-246) dan Carr (2011) membuat masyarakat mengalami perubahan neurologis yang mengharuskannya belajar kembali membaca-menulis sekaligus menemukan strategi baru tentang membaca dan menulis.

Peningkatan literasi tidak memiliki pilihan lain, yaitu mengembalikan aktivitas membaca dan menulis pada kodratnya. Solusi konkretnya menjadikan buku sebagai kawan sehari-hari pelajar. Menumbuhkan kecintaan pelajar terhadap membaca. Meskipun sulit jalan itu harus ditempuh. Kesadaran akan cinta pada buku harus dipupuk dengan sabar. Pelajar harus didorong untuk menemukan kecintaannya terhadap membaca, seperti yang dikatakan Nazwa Shihab “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu. Mari jatuh cinta.”  Pertanyaannya buku macam apa yang dapat menumbuhkan kecintaan terhadap buku sekaligus membangkitkan literasi bangsa ini? Dengan penuh keyakinan saya katakan buku sastralah yan dapat mengisi kekosongan dalam rangka menumbuhkan literasi. Mungkin akan timbul pertanyaan mengapa sastra?

Baca :  Satuan Pedidikan : Sibuk Mengemas Cangkang Pembelajaran

Konsep dalam khazanah istilah sastra (berbahasa) Indonesia memiliki kesamaan substansi dengan istilah dan konsep literature (dalam bahasa Inggris), literature (dalam bahasa Jerman), dan litterature (dalam bahasa Perancis) yang semuanya berakar dari bahasa Latin litterature yang bermakna pustaka/tulisan/bacaan yang lebih jauh menyiratkan dan mempersyaratkan makna literasi, tradisi membaca dan menulis, dan kemampuan berpikir kritis-kreatif (simak Teeuw, 1984; Saryono, 2005). Dalam konteks inilah dapat dipahami bahwa literasi dan sastra saling melengkapi atau mengisi.

Kenyataannya di Indonesia keberadaan sastra dibalut keadaan yang paradoks, karena secara lahiriah posisi sastra tampak dinafikan, tetapi secara batiniah terus dibutuhkan. Sastra sebagai sebuah karya dengan kandungan nilai moral yang berlimpah sangat dibutuhkan di lingkungan masyarakat Indonesia, termasuk di kalangan pelajar. Oleh karena itu, sastra akan mampu memberi sumbangan berbagai ruang kebudayaan dan peradaban. Sebagai contoh yang dikemukakan Mehta (2004) bahwa sastra Amerika Latin dan sastra Karibia mutakhir dapat berkembang baik sehingga mampu menyumbang bagi berbagai lapangan kebudayaan dan peradaban, misalnya sejarah, politik, dan psikologi.

Sastra ditinjau dari kedudukan dan fungsinya menjadi fundamental bagi kebudayaan dan peradaban literasi, salah satunya di sekolah. Sebab itu, sastra dapat dijadikan roh literasi. Untuk memantapkan tempat dan fungsi strategis sastra diperlukan perlindungan, pembinaan, dan pengembangan sastra secara berkelanjutan, di samping pemanfaatan sastra dalam kehidupan sehari-hari (Saryono, 2019). Maka pengadaan buku-buku sastra secara masif merupakan solusi paling logis. Selain itu, menyusun program-program literasi sekolah dengan menjadikan sastra sebagai nafasnya.

Sastra adalah mata air bagi keringnya literasi bangsa ini. Sastra akan menjadi mata bagi kebenaran, menjadi ruang bagi kejujuran, dan tangan bagi segala sentuhan kemanusiaan. Seperti  seperti Doa Literasi dari Djoko Saryono, “Ya Rabb yang Maha-literat, kami butuh kaum literati yang punya indra sanggup menakwil zarah paling kecil di bumi. Biar kami bisa mendengar atau meneduh suara atau aksara tulus yang meneduhkan hati: juga menggemburkan nurani. Kiimkanlah Gusti, sosok literat yang menggendong ketinggian budi demi kehidupan bumi”. Mungkin secara semiotik Tuhan telah mengirimkan sastra untuk jawaban atas doa literasi tersebut bahkan sebelum doa ini dipanjatkan dengan hati yang sederhana, hanya bangsa Indonesia belum menyadarinya atau berpura-pura tidak memahami tanda yang diciptakan Tuhan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here