Oleh: Liana Ariesha Khoerudin
“Seperti banyak kepiting di dalam satu ember, perhatikan… biasanya beberapa kepiting akan mencoba menarik naik ke atas untuk keluar membebaskan diri. Tapi, kepiting lainnya akan menarik Kembali mereka agar tetap berada di dalam ember”
Apasih Crab mentality ituh?
Melansir dari Psychology Today, crab mentality adalah analogi perilaku egois, yang iri atau nggak suka dengan keberhasilan orang lain atau kesuksesan orang lain. Kenapa analoginya kepiting,
Kamu pernah melihat banyak kepiting di dalam satu ember? Kalau diperhatikan, biasanya beberapa kepiting akan mencoba naik ke atas untuk keluar.
Tapi, kepiting lainnya akan menarik Kembali mereka agar tetap berada di dalam ember. Mungkin ini terlihat seperti solidaritas antar kepiting karena enggak mau temannya ditangkap atau dimakan manusia, ya? Tapi, alih-alih membiarkan temannya untuk kabur dan mencapai kebebasan, kepiting justru memilih untuk mati bersama di dalam ember.
Crab mentality adalah sebuah analogi yang digunakan untuk menggambarkan perilaku sosial di mana individu atau kelompok orang mencoba menarik oranglain ke bawah atau menghalangi kesuksesan mereka, sama seperti seekor kepiting yang mencoba mencegah kepiting lainnya melarikan diri dari keranjang dengan menariknya kembali.
Perilaku ini mungkin bisa ditemukan di lingkungan tertentu. Bentuk Tindakan crab mentality ini bisa berupa kritik yang menjatuhkan, meremehkan, manipulasi, bahkan sampai sabotase atau mungkin merusak repotasi orang tersebut.
Penyebab Crab Mentality
Manusia adalah mahluk sosial yang hidup berkelompok. Hidup dalam kelompok, berarti akan ada persaingan. Ketika posisi manusia yang kuat dan aman, otak akan secara alami memberikan serotonim (hormon yang meningkatkan perasaan senang dan nyaman). Sebaliknya, ketika manusia merasa berada dalam posisi lemah otak akan memberikan kortisol (hormon stress).
Ketika manusia berada dalam posisi lemah, maka perasaan nggak senang akan mengasai hati manusia, perasaan ini jika berlebihan akan menyebabkan crab mentality. Bisa jadi iri, kurang percaya diri, ketergantungan berkelompok, malu, dendam, atau jadi kompetitif. Karena secara alami otak kita akan memberikan hormon kortisol tadi.
Sebenarnya sifat kompetitif itu bagus bisa memicu untuk mencapai hal yang lebih besar, lebih tinggi, dan lebih baik. Tetapi kalau berlebihan jadinya nggak baik. Hal tersebut akan menyebabkan selalu merasa kurang dan selalu menganggap orang lain sebagai saingan. Akhirnya menjadi lelah sendiri.
Lantas bagaimana cara mencegah crab mentality ini?
- Berinvestasi pada lingkungan pertemanan yang suportif
Bangunlah lingkungan pertemanan yang sehat dan suportif, agar terasa kebahagiaan, perkembangan dan juga Kesehatan mental. Pada lingkungan ini akan belajar saling mendukung dan membantu agar bisa sama-sama berhasil.
Di lingkungan seperti ini, akan mendapatkan banyak dukungan untuk terus berkembang. Dan di sinilah kita bisa belajar untuk mendukung orang lain juga. - Fokus pada progress diri sendiri
Orang yang bermentalitas kepiting akan selalu memperhatikan progress orang lain dan membandingkan dengan progress sendiri.
Ingat ungkapan “di atas langit masih ada langit”. Artinya akan selalu ada orang lain yang lebih dari kita. Lebih cantik, lebih kaya, lebih pintar dan lainnya. Melihat orang lain boleh, tapi bukan membandingkan karena setiap orang punya proses dan waktunya masing-masing.
Ubah mindset kita, dari membanding kan diri dengan orang lain jadi membandingkan diri di masa lalu dan masa sekarang. Nanti, kita akan lebih bersyukur dan lebih berterimakasih pada diri kita sendiri. - Lakukan evaluasi dan tingkatkan nilai diri
- Belajar dari sekitar untuk bisa maningkatkan pengetahuan dan wawasan.
Keempat poin itu, dalam bahasa kesehariannya lazim dikenal dengan “sawang sinawang”, alias apa yang dilihat belum tentu seindah kenyataannya. Melihat kesuksesan atau bahkan kekayaan orang lain lalu serta merta menganggap mereka lebih bahagia, sangatlah tidak rasional.
Pertama, kita tidak tahu bagaimana proses mereka mencapai posisi itu, Kedua, penelitian beraneka jurnal menegaskan bahwa konsep pembangunan dengan pengukuran kepemilikan atau produksi atas kebendaan ternyata tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Syukuri apa yang ada dan menjadi diri sendiri, itu adalah kunci yang sejati bagi sebuah kebahagiaan hakiki.
Sepengetahuan penulis yang masih terbatas, semua ajaran agama pastinya mengingatkan umatNya agar hindari kemelekatan terhadap materi, karena ketidak-melekatan duniawi adalah sumber utama kecerdasan spiritualitas. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah semua ini.
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana IMN Angkatan X





