Oleh: Deky Ikhwal Pratama
Sebelum kita memasuki arena lebih lanjut dan dihujatnya saya karena judul yang nyeleneh. Saya luruskan atau klarifikasi terlebih dahulu perihal nilai marxis yang kita bahas. Nilai marxis ini adalah mengenai Imajinasi sosialisme Marx untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas, tanpa penindasan, dan tanpa alienasi (Anna : 2013). Sampai sini kemungkinan semoga paham dan semoga tidak gagal paham kaya para Buzzer. Hal yang mencolok dan alasan mengapa hari ini bagi saya Muhammad SAW lebih marxis adalah beliau secara implementasi terwujud bentuknya untuk kaumnya pada masa itu.
Karl Marx hanya membuat teori tanpa adanya upaya menginfiltrasi sejarah itu sendiri. Secara simple-nya dia cuman memikirkan teori tanpa praktik. Muhammad SAW kemudian membuktikan bahwa beliau melakukan jauh sebelum Marx memikirkan gagasannya. Sejarah Islam menyebutkan bahwa Muhammad SAW telah melakukan pendekatan dan memberi pengetahuan bahwa islam sebagai sebuah ajaran perjuangan. Perjuangan tersebut untuk melawan penindasan. Muhammad hadir di tengah masyarakat yang dijuluki “ummi” dalam Al-Quran. Kata Ummi menurut Ali Syari’ati berarti beliau merupakan seseorang yang berada pada kelas proleta, kalua kita pinjam istilah Marx. Masyarakat tersebut antara lain terdiri dari orang awam yang buta huruf, para budak, anak yatim janda serta orang-orang miskin yang menderita, tetapi bukan untuk orang yang hanya fakir kuota. Pada kalangan tersebutlah Muhammad memulai ajarannya. Wujud lainnya bahwa Muhammad lebih Marxis daripada Marx sendiri adalah ajarannya yang menginginkan masyarakat tanpa kelas.
Menurut Ahmad Syalaba terdapat 5 Faktor mengapa ajaran Nabi Muhammad ditolak oleh kafir quraisy. Hal tersebut antara lain: Pertama, Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat; Kedua, Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Nabi Muhammad s.a.w. berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib; Ketiga, Takut kehilangan mata pencaharian karena pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki mereka. Keempat, Nabi Muhammad s.a.w. menyerukan persamaan hak antara hamba sahaya dan bangsawan. Hal ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy. Kelima, Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat berakar pada bangsa Arab (Syalabi : 1983). Wujud implementasi dari Nabi Muhammad SAW melakukan persamaan Hak terhadap hamba sahaya adalah mengangkat Zaid Bin Haritsah dari kalangan budak menjadi anak angkat beliau. Hal tersebut juga diamini dengan adanya ayat dalam Al-Quran bahwasannya Islam sebagai ajaran menyatakan penghapusan kelas superioritas sosial karena yang terpenting adalah keshalihan dalam bentuk peribadatan Tuhan dan Keshalihan dalam bentuk Sosial. Surat Al-Maidah ayat 8 menyebutkan:
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri karena Allah, menjadi saksi
dengan keadilan. Janganlah karena kebencianmu kepada suatu kaum, sehingga kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena keadilan itu lebih dekat kepada taqwa dan
takutlah kepada Allah…”
Jauh sebelum Marx memikirkan perihal Revolusi besar-besaran. Muhammad sebagai penerima wahyu jauh lebih dulu menciptakan sistem masyarakat Madani dengan memberikan nilai-nilai inklusif. Tatanan sosial masyarakat Madinah tersebut didasarkan pada kesuksesan Muhammad dalam implementasi nilai-nilai keadilan, ekualitas, kebebasan, penegakan hukum dan jaminan terhadap Kemakmuran bagi semua kalangan masyarakat Madinah serta perlindungan terhadap orang-orang lemah dan golongan minoritas. Hal ini termanifestasi dalam piagam Madinah. Masyarakat Madani secara historis memberikan pesan baik tentang tatanan sosial masyarakat secara signifikan. Wujud masyarakat yang ideal yang terbangun oleh Muhammad.
Muhammad juga menolak praktik-praktik kapitalistik yang dilakukan oleh pihak-pihak. Praktik tersebut seperti adanya riba. Dimana hal ini akan menghisap harta kaum tertindas. Sebaliknya Muhammad mengajarkan untuk berzakat agar harta tidak hanya berputar di Bapak-Bapak pamer Mobil di Youtube. Ayat Al-Quran juga memvalidasi hal tersebut dimana harta kekayaan Bapak-Bapak pamer Mobil di Youtube itu juga diberikan kepada anak yatim, janda-janda dan Fakir miskin.
Hal ini terdapat dalam hadis yakni: “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Simak, telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, dari ayahnya, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang makan riba, orang yang memberi makan riba, saksinya dan penulisnya.” (HR. Abu Dawud).
Ayat Al-quran memvalidasi yaitu: “Adakah engkau ketahui orang yang mendustakan agarna? Mereka itu adalah orang
yang menghardik anak yatim. Dan tidak menyuruh memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang yang shalat, yang mereka itu lalai dari sholatnya, dan mereka itu
riya, enggan memberikan zakatnya.“ (QS. AI-Maun: 1-7).
Hal tersebut dasar opini saya mengapa saya menganggap Muhammad SAW lebih marxis daripada Karl Marx itu sendiri. Marx hebat dengan segala manifestasi pikirannya untuk kesejahteraan sosial tetapi kerja-kerja kebaikan marx tersebut tidak diwujudkan secara praktik secara langsung. Muhammad SAW tidak hanya memikirkan tentang keadaan sosial masyarakatnya di Gua Hira tetapi mempraktikannya dalam wujud kerja-kerja dan dakwah kebenaran. Hal tersebut yang saya yakini bahwa Marx kurang Marxis daripada Muhammad.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Pakuan (UNPAK)





