Site icon LEAD.co.id

Nahdlatul Ulama yang Dirindukan

Islam, Misi Profetik, NU, Muktamar NU

Khotimi Bahri, Wakil Ketua BKN dan Pembina LBM NU Kota Bogor

Oleh: Khotimi Bahri

Ketika Kyai Bisri Syansuri wafat para kyai bermusyawarah untuk mencari pengganti beliau sebagai Rais Am. Para kyai sepakat bahwa yang layak untuk menggantikan Kiai Bisri adalah KH As’ad Syamsul Arifin. Beliau ulama sepuh yang menjadi panutan sekaligus mediator proses pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) antara Syechuna Kholil Bangkalan dengan KH Hasyim Asy’ari . Namun, apa yang terjadi, ketika para kiai meminta Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah tersebut, beliau menjawab dengan tegas, “Meskipun malaikat Jibril turun memaksa saya, saya pasti akan menolak!”

Sambil menolak kiai As’ad mengajukan nama Pengasuh Pesantren Lirboyo KH. Mahrus Aly, Kiai As’ad berujar, “Yang pantas itu Kiai Mahrus Aly”. Mendengar namanya disebut, Kiai Mahrus langsung menimpali, “Jangankan malaikat Jibril, kalaupun malaikat Izrail turun memaksa saya, saya tidak akan mau!”.

Akhirnya forum memutuskan Kiai Aly Maksum yang pada saat itu tidak hadir untuk menjadi Rais Am. Begitulah tradisi Nahdlatul Ulama zaman dahulu.

Dikisahkan pula bahwa, dalam sebuah bahsul masail terjadi perbedaan pendapat antara Kyai Wahab Chasbullah dan Kyai Bisri Syansuri. Begitu kerasnya perbedaan pendapat dari dua pendiri NU ini, sampai-sampai Kyai Bisri menggebrak meja. Kyai Wahab juga membalas gebrakan meja tersebut. Suasana menjadi sangat tegang. Akan tetapi, sekeras apaun perbedaan pendapat, tapi saat istirahat, beliau berdua berebut untuk saling melayani jamuan makan. Demikian juga saat terjadi perbedaan kebijakan, apakah NU bergabung dengan DPR-GR atau tidak. Gebrakan mejapun terjadi dari kedua ulama panutan ini. Namun saat jeda sholat, Kyai Bisri mengambil inisiatif menimba air dan menuangkannya untuk air wudlu Kyai Wahab. Sebaliknya Kyai Wahab juga menimba air serta menuangkan wudlu Kyai Bisri. Sebuah gambaran adab yang begitu mulia.

Itulah sebenarnya jati diri Nahdlatul Ulama. Relasi yang dibangun bukanlah relasi patron-klien, tapi santri-kyai. Prinsip yang dibangun adalah “al-adabu fauqol ilmi”. Semua warga nahdlatul ulama harus memahami dan mengejewantahkan nilai-nilai luhur ini.
Menjelang muktamar 34 ini suasana mulai menghangat. Berbagai opini mulai memenuhi media massa terutama persaingan antar calon ketua. Tiap hari tanpa sebuah pemberitaan dengan segala dinamikanya.

Namun, yang harus diperhatikan adalah bahwa, jabatan ketua umum dan rais am bukanlah tujuan, tapi media atau washilah. Jabatan adalah media berkhidmat dan mengaktualisasikan misi profetik NU. Begitu berat –sebenarnya—amanat ini, sampai-sampai para pendahulu kita berlomba-lomba untuk tidak menerima jabatan daripada sebatas berlomba-lomba mengejar jabatan. Itulah teladan Kyai As’ad, Kyai Mahrus, dan Kyai Ali Maksum.

Begitu juga warisan keteladanan Kyai Wahab dan Kyai Bisri. Sebesar apapun perbedaan, sekeras apapun silang pendapatnya, tetap kesantunan menjadi panglima. Semua itu tidak lepas dari niat dasar para Kyai sepuh yang penuh ketulusan untuk berkhidmat bagi umat, memberikan sumbangsih yang terbaik untuk Islam dan kaum muslimien, serta berikhtiar menuju baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur. Nahdlatul Ulama adalah media mencapai misi tersebut.

Ini akan berbeda jika jabatan bukan hanya semata-mata media, tapi sudah menjadi tujuan utama, maka segala cara akan dilakukan untuk mencapai ambisinya. Kembali ke niat utama, berlomba dalam kebaikan, etika menjadi pijakan. Semoga lembaga konstitusional tertinggi NU ini tidak lagi diwarnai akrobatik-akrobatik politik yang tidak semestinya, seperti pelibatan IGGI (Ikatan Gus-gus Indonesia) paguyuban yang sama sekali tidak ada hubungan dengan NU tapi membangun opini pelarangan pencalonan Ketua Umum untuk periode berikutnya.

Termasuk tekanan GP Ansor kepada Ketua Umum agar tidak mencalonkan lagi dengan alasan regenerasi. Release yang beredar dibeberapa media massa sangatlah tidak elok dan jauh dari norma santri-kyai. Sebagai anak kandung PBNU, tidaklah etis GP Ansor meminta Ketua Umum yang masih menjabat untuk tidak mencalonkan lagi. Hangat boleh, santun harus.

 

Penulis adalah Wakil Katib PCNU Kota Bogor dan Wakil Ketua Umum Barisan Kesatria Nasional (BKN)

Exit mobile version