Kyai Said Aqil Siradj, Altruism, dan Muktamar NU

oleh -302 views
Said Aqil Siradj, Altruism, Muktamar NU, NU
Khotimi Bahri, Wakil Ketua Umum BKN

Oleh: Khotimi Bahri

Perhelatan muktamar NU yang ke 34 akan digelar akhir tahun ini. Tensinyapun mulai terasa. Banyak isu-isu yang beredar menjelang perhelatan akbar Nahdlatul Ulama ini.

Yang terkini dan menjadi trend pemberitaan adalah seputar kandidat calon ketua umum mendatang. Begitu dominannya isu ini, bahkan bahsul masail yang menghasilkan tinjauan hukum terhadap daging berbasis selpun tenggelam dibawah diskursus calon nakhoda PBNU mendatang.

Tidak bisa dipungkiri, wacana yang berkembang mengarah pada saling silang kepentingan (cross cutting of interest) dan saling silang kelompok (cross cutting of community). Menyeruak opini rivalitas HMI dan PMII dalam muktamar yang akan digelar di Lampung ini. Juga mulai masuk dalam lingkaran diskursus persaingan antar kubu Golkar dan kubu PKB, juga PPP. Belum lagi faktor kedaerahan yang menyeret calon berbasis daerah, baik Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah maupun non-jawa.

Baca :  Yahya Cholil Staquf Pimpin PBNU, PB HMI Sebut Kemenangan Umat

Semestinya, isu berbau primordialisme ini tidak muncul atau dimunculkan menjelang muktamar kali ini, mengapa? Karena isu itu justru mengkerdilkan NU sebagai organisasi keagamaan terbesar di dunia.

Di tengah ancaman disintegrasi kader ini, sangat penting hadirnya sosok yang altruis, mengayomi dan bisa diterima semua golongan. Sosok Kyai Said Aqil Siradj bisa menjadì jawaban persoalan ini. Memang Kyai Said pernah mengungkapkan tidak akan mencalonkan diri pada muktamar mendatang. Akan tetapi mata bathin dan mata lahir beberapa kyai sepuh sangat awas dan cermat membaca tantangan yang akan dihadapi NU mendatang. Sangat wajar kalau kemudian para kyai sepuh panutan jam’iyah ini meminta dan mendorong Kyai Said untuk mengambil alih nakhoda NU pada masa khidmat mendatang. Tentu dalam tradisi NU yang berpegang teguh pada etika kyai-santri tidak etis menolak permintaan para kyai.

Paling tidak ada tiga argumen prinsip mengapa sosok Kyai Said Aqil Siradj layak melanjutkan kepemimpinannya :

Baca :  Muktamar NU dan Tantangan Skeptisisme

1. Dua periode beliau memimpin NU, mampu menjadikan jam’iyah ini pusaran moderasi Islam. Pengakuan ini bukan hanya di nusantara tapi juga didunia Internasional. Taliban Afghanistan yang dijadikan prototype gerakan radikal dalam Islam menyambangi PBNU untuk belajar moderasi Islam. Saudi yang dianggap negara dengan ideologi salafi-wahabi juga mulai melirik NU. Syechul Azhar Mesir menyambangi PBNU untuk membangun kesepahaman dan bersinergi dalam menegakkan Islam yang moderat.

2. Sosok Kyai Said yang altruis menjadi perekat yang tepat bagi bangsa yang majemuk ini. Altruism identik dengan kebajikan. Juga identik dengan kepedulian dan pembelaan terhadap kelompok marjinal. Kyai Said berani melawan arus, membela hak-hak Badan Perguruan Sekolah Menengah Kresten Jawa Barat (BPSMK JB) yang mendapatkan perlakuan deskriminatif. Bukan tanpa resiko. Hujatan, nyinyiran dan cercaan menjadi pemandangan yang biasa. Juga ketika bersuara lantang mendukung peringatan Asyuro setiap 10 Muharrom. Tak ayal lagi tuduhan Syiah tidak dapat dihindari. Padahal beliau dengan tegas menolak cara-cara Syiah yang berlebihan dan menyakiti diri sendiri. Tapi semua kecaman, cercaan dan nyinyiran disikapi dengan tenang, tidak reaktif. Ini menunjukkan kemapanan spiritual dan kematangan intelektual dari sosok sang nakhoda NU.

Baca :  Islam dan Misi Profetik NU: Catatan Menuju Muktamar NU ke-34

3. Obyektifitas dan proporsionalitas Kyai Said yang sudah teruji. Terpilihnya KH. Ma’ruf Amien, Rais Amm, sebagai wakil presiden tidak membuat PBNU kehilangan nalar kritisnya. Ini bisa dibuktikan dengan penolakannya terhadap UU Ciptaker sekalipun presiden RI langsung turun tangan menyambangi kantor PBNU.

Kita yakin bahwa nakhoda PBNU sudah ditentukan dari ‘langit’. Tapi ikhtiar berjuang secara jujur, ellegan, dan bermartabat adalah perintah ‘langit’. Kepada Allah kita kembalikan segala urusan.

 

Penulis adalah Wakil Ketua Umum BKN (Barisan Kesatria Nasional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *