Obituary Singkat Mulyadi P Tamsir

0
Obituary, Mulyadi Tamsir, Kun Nurachadijat
Mulyadi P Tamsir saat menjadi pemateri LK II HMI Cabang Tenggarong, pada 02 Maret 2017 [File: Twitter Mulyadi P. Tamsir]

Oleh: Dr. Kun Nurachadijat

Sore itu, di Oktober 2012, ketika ku menjejakkan kaki di Asrama Haji Kota Padang, lokasi tempat National Advance Training (LK3) Badko Sumbar, disambut ketum Reno Fernandes & pengurus Badko lainnya. Dan saya seperti biasa selalu bertanya jumlah peserta dan dari badko mana saja serta siapa saja MOTnya.

Semua terjawab, hanya MOTnya, saya masih belum mendapat jawaban gamblang. Saya tidak ambil pusing, langsung masuk ke ruang istirahat dan bermalam yang panitia sediakan. Tapi kemudian panitia penjemput memberitahu “Kanda, nanti Mot mau menemui Kanda bila Kanda sudah bersih bersih, sembahyang dan istirahat”.

Setelah selesai semua, sebelum saya menyiapkan apa saja yang akan kusajikan dalam training NilaiĀ² Dasar Perjuangan (NDP), ada ketukan pintu yang perlahan dan santunnya. “Masuk saja, tidak ku kunci” sahutku. Lalu masuklah panitia dan meminta kesediaan bila Mot berkunjung ke kamar saya. “Tidak perlu, cukup saya saja yang menemuinya agar ia tidak terganggu waktu tugasnya” tegasku.

Baca :  Strategi Terobosan PMB FEB Ubinawan Mutualis Program IKAPEKSI

Lalu kupun beranjak menemuinya di ruang SC. Saya duduk, lalu seorang yang tidak begitu tinggi tapi ideal, klimis, berbatik coklat, necis, sepatu fantovel hitam berkilat kilat, dengan sorotan pancaran matanya merefleksikan seorang cerdas dan pemikir. Ia masuk memperkenalkan diri lalu duduk “Ijin Kanda, saya Mulyadi, Mot di LK3 ini. Saya, Kabid PA PB dari badko Kalbar, bersyukur bisa bertemu dengan Kanda, yang kalau adik adik pulang LK 2, selalu ramai mendiskusikan NDP dengan metodologinya Kanda” demikian kalimat pembuka percakapan.

Dan kamipun tenggelam dalam perbincangan hangat tentang perkaderan. Hingga sampailah pada obrolan “Oya, Kanda, mohon restu juga saya mendapat dukungan untuk ikut dalam bursa ketum PB HMI, kiranya ada arahan” pinta Mulyadi. “PB akan pas bila dipimpin oleh orang yang tidak melulu zoon politicon, tapi juga pelaku dan hafal anatomi perkaderan serta NDP” yakinku. Maju sajalah, saya lihat kamu orang yang ikhlas ingin membahagiakan HMI, saya yakin Rabb akan melancarkan semuanya” kataku lagi.

Baca :  Dualisme Berakhir, PB dan DPP PARFI Sepakat Islah !

“Siap Kanda, Terima kasih. Oya, di LK3 ini pesertanya ada kaderku juga, Sdri Farihatin (belakang hari menjadi ketum PB Kohati)” terang Mulyadi. Tidak sangka, itulah pertemuan fisik ku terakhir dengannya.

Meskipun di Kongres fenomenal terpanjang sejarah 2013, ia memperoleh suara kedua terbanyak, seorang Mulyadi bisa saja “memaksakan diri” menjadi ketum. Tapi jiwa perkaderannya lebih kuat. Di putaran terakhir, Mulyadi rela lempar suara ke wasekjennya sendiri di 2010 – 2012, Dinda Arief Rosyid. Sehingga Mulyadi “hanya” menjadi Sekretaris Jenderal dari Ketum Arief Rosyid.

Baca :  PARFI Gandeng INTARO Gebrak Nusantara dari Bali dengan "PARFI Award"

Namun ada pepatah “Gusti Allah mboten sare” di Kongres 2016 Pekan Baru, sejarah mencatatnya ia berhasil menjadi Ketum PB juga untuk 2016-2018.

Sabtu, 9 Januari 2021, Keluarga Besar HMI kehilangan salah satu putra terbaiknya. Selamat Jalan Dinda Mulyadi, perkaderan sepascamu sudah mulai rapih dan efisien. Al Fatihah.

Penulis adalah NDPier Nasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here