LEAD.co.id | Dewasa ini perkembangan para remaja sangat sulit untuk dikontrol, banyak dari mereka yang gagal bergaul dan malah jatuh kedalam sebuah jurang-jurang yang dapat berdampak negatif pada masa depan mereka.
Sudah bukan rahasia lagi, di bagian pelosok Madura khususnya, tidak sedikit generasi millenial yang sangat miris, gagal bergaul bahkan ada yang cacat etika. Hal sedemikian tidak hanya dialami oleh mereka yang hidupnya memang besar di jalanan, tapi juga mulai dialami oleh mereka yang masih mendapat Pendidikan di Pesantren (Santri).
Ibu Luluk Hanifah, SE.,M.Akun, salah seorang Dosen Prodi Ekonomi Syari’ah Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura, yang kesehariannya juga aktif mengajar di beberapa sekolah menengah, juga merasakan hal sedemikian, beliau menegaskan bahwa harus ada perbedaan antara mereka yang nyantri dengan mereka yang hanya menjadi siswa biasa.
“Seharusnya santri itu memang harus beda dengan siswa yang sekolah di luar, misalnya akhlak kepada gurunya itu harus lebih tawaddu dan lebih sopan dan memang kenyataanya sangat beda kalau saya amati,” ungkapnya kepada OASIS, sebuah Lembaga Pers Pelajar MA Darussalam, Pakong, Bangkalan, pada pekan lalu (29/9/2020).
Beliau juga menyayangkan generasi-generasi muda terutama para Santri yang sudah mulai mempraktekan pacaran. Hal itu, menurutnya, merupakan sebuah perbuatan yang dipandang ‘cela’ untuk citra santri itu sendiri oleh masyarakat sekitar.
Perbuatan semacam itu, lanjut Luliuk, seharusnya menjadi sebuah PR besar untuk senior-senior yang sudah mimiliki pendirian, atau setidaknya besic untuk mengontrol arah pergaulan remaja secara umum dan santri secara khusus. Karena, menurut beliau, sejatinya generasi millenial ini sangat membutuhkan ‘uswah’ untuk pembentukan pendirian dan pemantapan iman.
“Senior yang baik seharusnya memberikan contoh yang baik lalu menasehati. Dan ketika mendapati adik-adiknya terjerumus dalam hal-hal tersebut maka harus memberi peringatakan dan teguran,“ papar Beliau
Di akhir pembicaraan, beliau juga memberikan saran agar generasi dewasa ini lebih memperdalam lagi ilmu agama, menyibukkan diri dengan ibadah, dan belajar. menurutnya, kalau sudah tahu ilmunya lalu kita amalkan, otomatis kita akan terbentengi dan menyadari adanya pacaran ini tidak dibenarkan. Karena itu, jika memang ada sebagian santri yang sudah mengetahui kalau pacaran ini salah tapi masih dilakukan, berarti dia sekedar tahu ilmunya.
Memang kebanyakan orang yang mengetahui tapi masih melanggarnya, seperti para koruptor misalnya, yang menggunakan kecerdasannya pada hal yang tidak benar. Berarti jika ada santri yang masih melakukan pacaran padahal mereka tahu berarti ilmunya tidak bermanfaat. Karena jika ilmunya bermanfaat pasti diamalkan dengan benar terutama pada dirinya sendiri lalu pada orang lain. Dan ilmunya tersebut pasti bisa membentengi diri seorang santri dari melakukan pacaran ini.
“Dan sibukkanlah dengan hal-hal yang positif agar terhindar dari hal yang tidak baik (pacaran). Karena jika kita sudah sibuk dengan hal-hal yang positif. Kita tidak ada waktu untuk memikirkan hal yang negatif, seperti itu,” pungkasnya saat diwawancarai oleh OASIS pakan lalu.
Reporter: Sally Sumeke
Editor: Aru Prayogi
Sumber: OASIS: Pers Pelajar MA Darussalam, Pakong, Bangkalan [Nurul Lizam]





