Pemkot Bogor Tidak Ingin Terburu-buru Aktivasi Sekolah

116
0
Wali Kota Bogor, Bima Arya, Aktivasi, Sekolah
Wali Kota Bogor Bima Arya menggelar rapat terbatas dengan sejumlah stakeholder pendidikan se-Kota Bogor di SMP Negeri 5 Kota Bogor, Tanah Sareal, Sabtu (30/5/2020).

LEAD.co.id | Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama sejumlah stakeholder pendidikan se-Kota Bogor mengelar pertemuan untuk membahas rencana aktivasi sekolah. Pemkot Bogor tidak ingin aktivasi sekolah terburu-buru karena tidak ingin mengambil resiko.

“Tadi kita mendengarkan banyak masukan. Kesimpulannya adalah bahwa memang kita tidak mau mengambil resiko. Terlalu besar pertaruhannya untuk anak-anak kita,” ungkap Wali Kota Bogor Bima Arya, di SMP Negeri 5 Kota Bogor, Tanah Sareal, Sabtu (30/5/2020).

Bima mengatakan, tugas saat ini adalah memastikan adanya sistem protokol yang kuat, terutama untuk tingkat SD dan SMP di Kota Bogor. Karenanya, selama protokol ini belum sempurna, dia tidak ingin terburu-buru untuk memaksakan aktivasi sekolah pada tanggal tertentu.

Baca :  Membangun Episentrum Literasi Sekolah

“Jadi tugas kita sekarang terus menyempurnakan sistem protokol baru ini. Ini tidak mudah karena kondisi dan latar belakang tiap sekolah berbeda-beda,” tambahnya.

Dalam pertemuan ini, tampak hadir Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor Fahrudin, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Sri Nowo Retno, Ikatan Dokter Anak Indonesia, psikolog, Dewan Pendidikan, Komite Sekolah, para Kepala Sekolah, Kantor Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan stakeholder lainnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Bogor, Sri Nowo Retno memaparkan, di Kota Bogor terdapat sejumlah kasus Orang Dalam Pantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan terkonfirmasi positif Covid-19 pada golongan usia anak hingga remaja.

Baca :  Positif Covid-19, Walikota Bogor Akan Diisolasi

“Memang pada kasus Kota Bogor itu kelompok umur yang paling banyak itu 45 tahun ke atas. Tapi bukan berarti kasus terhadap anak tidak ada. Bahkan kita ada kasus konfirmasi positif ada empat kasus, tiga kasus diantaranya usia 6-18 tahun dan satu kasus balita usia 3 tahun,” jelasnya.

Meski demikian, lanjutnya, jumlah PDP cukup banyak. Data per hari ini (30/1) yang usia kurang dari 5 tahun itu 47 kasus, sedangkan antara 6-19 tahun itu 28 kasus. Jadi, total PDP di Kota Bogor pada rentang usia sekolah atau di bawah 19 tahun itu ada 75 kasus.

Baca :  Gagasan Baru untuk Indonesia Maju, Dompet Dhuafa Launching Sekolah Pemberdayaan Desa

“Yang ODP, kita dapatkan dari hasil tracing. Ketika ada pasien positif konfirmasi, kemudian kita tracing siapa saja yang berkontak, mungkin saja dari orang tuanya atau yang serumah, yang rentang usia kurang dari 5 tahun itu ada 65 orang. Kemudian rentang usia antara 6-19 tahun ada 148 orang,” beber Retno.

Ia meminta, dengan adanya angka tersebut, menjadi perhatian dan bahan masukan terhadap dunia pendidikan dalam menyusun sebuah kebijakan, dalam hal ini terkait aktivasi sekolah.

Sumber: Prokompim
Reporter: Sally Sumeke
Editor: Aru Prayogi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here