Oleh : Novi Rismawati
“Berikan aku seribu orang tua maka akan ku cabut semeru dari akarnya. berikan aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia” (Ir. Soekarno)
Pemuda merupakan salah satu tonggak yang paling kuat dalam sejarah berdirinya pondasi bangsa Indonesia. Peran pemuda bagi kemerdekaan sangatlah penting. Pada tanggal 28 Oktober 1928, tercetuslah sumpah yang diucapkan oleh para pemuda Indonesia, yaitu Sumpah Pemuda. Lahirnya sumpah pemuda merupakan wujud persatuan dan kesatuan antarorganisasi kepemudaan.
Penghayatan sumpah sebagai nilai spritualitas adalah kisah konektivitas dan inklusivitas keragaman identitas di awal pembentukan bangsa Indonesia. Ini adalah kisah spektakuler perjuangan anak-anak muda mengarungi jalan terjal multiseleksi, dalam proses adaptasi terhadap tantangan kehidupan hingga tampil sebagai penyintas. Pada tahap ini, terjadi pula proses perlombaan di antara kelompok-kelompok komunal baru. Kemunculan organisasi pemuda-pelajar atas dasar solidaritas kejawaan, Jong Java, membangkitkan reaksi pembentukan organisasi-organisasi ”tandingan” seperti Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun (pemuda Sunda), Pemuda Kaum Betawi, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, dan Jong Sumatranen Bond.
Dalam perkembangannya, proses seleksi dalam perlombaan di antara kelompok-kelompok komunal ini mengalami proses transendensi karena adanya persamaan kepentingan dalam menghadapi kompetisi dengan musuh bersama yang lebih besar, yakni negara kolonial (”asing”) penjajah yang represif dan diskriminatif. Persepsi tentang kepentingan bersama inilah yang mendorong terjadinya peleburan aneka komunitas primordial ke dalam suatu ”sarang” komunitas moral dalam skala yang lebih luas. Maka, terbentuklah superorganisme yang sangat gigantis bernama ”kebangsaan-kewargaan” (civic nation).
“Perjuanganku lebih mudah karna melawan penjajah, akan tetapi perjuanganmu akan lebih berat karna melawan bangsamu sendiri” (Ir. Soekarno)
Pada zaman sibernetik ini, permasalahan bangsa Indonesia semakin pelik. para pemuda yang mempunyai julukan generasi millenial dihadapkan dengan permasalahan internal bangsa seperti dirupsi disintegrasi bangsa, korupsi, pengangguran, kriminalitas dan sebagainya. Sangat berbeda dengan permasalahan yang dihadapi para pemuda dahulu yaitu mereka harus berjuang melawan para penjajah dan berperang demi mendapatkan kemerdekaan.
Perlunya Konektivitas dan Inklusivitas
Dimensi inklusivitas dari Sumpah Pemuda tampak dari kesetaraan kesempatan bagi segenap peserta dari berlatar golongan untuk mengekspresikan diri dan mengambil peran, dengan sama-sama terlibat dan menyepakati agenda dan keputusan bersama. Dalam perjalanannya nanti, semangat inklusivitas yang diwarisi dari jiwa Sumpah Pemuda ini memungkinkan figur-figur utama kongres ini memainkan peran besar dalam sejarah perkembangan Republik. Konektivitas dan inklusivitas bukan saja penting bagi integrasi nasional, melainkan juga prasyarat bagi kemajuan bangsa.
Jalan panjang menjadi bangsa itu harus kita hayati manakala Indonesia hari ini menghadapi ancaman disrupsi kebangsaan. Meski konektivitas fisik mengalami kemajuan dengan pembangunan infrastruktur perhubungan dan penggunaan sosial media yang sangat intens, tetapi konektivitas mental-kejiwaan mengalami kemunduran. Dunia persekolahan dan media yang dulu menjadi jendela keterbukaan bagi pergaulan lintas-kultural dan pertukaran pikiran, saat ini mengalami gejala pengerdilan. Pelemahan minat baca dan erudisi menyempitkan daya jelajah pemahaman, yang menumpulkan empati terhadap yang berbeda. Gejala eksklusivitas meluas dengan tumbuhnya pusat-pusat permukiman, sekolah, dan dunia kerja dengan segregasi sosial yang curam.
Kreativitas Kaum Muda Sebagai Optimisme
Setelah 91 puluh tahun Sumpah Pemuda dicetuskan, krisis nasional dan global yang ditimbulkan elemen-elemen kemapanan, sekali lagi memanggil elan kreatif kaum muda. Bahwa pusat pertaruhan basic demand pemuda indonesia tidak seperti pada transisi jaman yang mengandalkan input fisik dan tenaga manusia, tetapi bersandarkan intelegensia, pengetahuan, dan kreativitas. Kreativitas manusialah satu-satunya sumber daya yang tak terbatas. Pemblokiran elan-kreatif kaum muda sebagai pengawal cita-cita republikanisme membuat kekayaan dan keindahan negeri tak sebanding martabat bangsa: kekayaan alam tak membawa kemakmuran, kelimpahan penduduk tak memperkuat daya saing, kemajemukan kebangsaan tak memperkuat ketahanan budaya, keberagaman tak mendorong keinsafan berbudi.
Leadership Kaum Muda Sebagai Pelopor Politik
Karena itu, jagat politik Indonesia harus mengalami kembali proses creative destruction lewat kepemimpinan kaum muda. Kaum muda adalah pelopor politik Indonesia. Mereka pula yang memiliki otentisitas untuk mengembalikan ke rel yang benar. Kaum muda dituntut merobohkan kelaziman politik yang merasionalisasi kepentingan individu untuk dibayar oleh irasionalitas kehidupan kolektif. Politik harus kembali ditempatkan sebagai usaha resolusi atas problem kolektif dengan pemenuhan kebajikan kolektif.
Pada peristiwa Sumpah Pemuda, creative destruction itu didorong semangat nasionalisme negatif-defensif dalam rangka menghadapi musuh dari luar. Creative destruction hari ini harus didorong semangat nasionalisme positif-progresif dalam rangka mengaktualisasikan potensi dan talenta-talenta terbaik bangsa.
Hanya dengan memuliakan potensi kreatif kaum mudalah, Indonesia bisa meraih kejayaannya.
“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda” (Tan Malaka)
Penulis adalah Pengurus Bidang Diklat Kohati PB HMI





