Perdamaian Gaza dan Palestina Merdeka: Best Solution of Two State dalam Perspektif Perjanjian Hudaibiyah

oleh -185 views
Kantor Media, Media Massa, Gaza, Israel, ICC
Gedung Media di Gaza, Palestina setelah dihancurkan oleh serangan udara militer Israel dalam perang 11 hari

Oleh: Dr Apendi Arsyad

Artikel yang ditulis sahabat saya di MPP ICMI, Dr.Aslichan Burhan, anggota Wankar MPP ICMI yang dishare japri kepada saya, berjudul “Diplomasi Prabowo: Solusi 2 Negara, Perdamaian Gaza dan Kilas Balik Perjanjian Hudaibiyah”, sungguh menarik, menginspirasi saya AA untuk menulis.

Sepenggal bagian pertama artikel Aslichan tersebut, antara lain menarasikan sbb:
..”Ketika konflik di Gaza terus menelan korban sipil tanpa henti, dunia tengah menyaksikan sebuah gerakan diplomasi yang tak terduga: Indonesia melalui Presiden RI bpk Jenderal (Purn) Prabowo Soebianto (PS) mengusung solusi 2 (dua) negara sebagai jalan keluar (solution)….”saya menilai strategi tersebut memiliki resonansi dengan tradisi politik Islam, khususnya Perjanjian Hudaibiyah dan nilai rekonsiliasi Rasulullah Muhammad SAW..”,… demikian kata Dr.Aslichan Burhan.

Setelah saya baca artikel beliau secara berulang, dan pahami kontennya secara kritis, sungguh menarik, menginspirasi saya untuk menulis. Saya katakan menarik dan inspiratif, ada perspektif baru dalam mencari solusi konflik negara-negara Islam Timur Tengah, khusus Palestina melawan (versus) Israel, yang berkepanjangan.

Saya sependapat dan mendukung gagasan Presiden RI ke 8, bpk PS, beliau itu genius, sosok pembelajar, ahli strategi militer dan vigur negarawan “problem solving”, bukan “making problems” seperti kelakuan pendahulunya Mulyono yang membuat semberawut dan memperlemah NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Adanya resolusi perdamaian Gaza melalui pengakuan kemerdekaan 2 (dua) negara: Palestina dan Israel Merdeka, ada banyak WNI kurang memahaminya dan bahkan menolaknya.
Walaupun rakyat muslim Indonesia ada yang “belum sadar dan blm cerdas”, bpk PS selaku negarawan sejati tetap konsisten (istiqomah) bahwa solusi 2 negara merupakan “best solution for freedom and peace sustainability”.

Artikel sahabat saya Dr.Aslichan Burhan, anggota Wankar MPP ICMI merangkap Ketua Umum Batom ICMI-Pinbuk ini yang telah menarasikan bahwa Perjanjian Hudaibiyah yang pernah dirancang dan dilaksanakan Rasullulah Muhammad SAW berdamai dengan Kaum Kafir Quraisy, sangatlah tepat untuk melihat dan mengevaluasi konsep dan strategi politik LN Presiden RI bpk PS, merupakan “best solution” 2 negara merdeka untuk meraih perdamaian sejati antara Palestina/Gaza dengan Israil. Dengan kata lain, merupakan “best solution” melalui pengakuan kemerdekan 2 negara (two state for freedom) baik secara defacto dan dejure.

Semoga MPP ICMI terutama Wankar, menyiapkan konsep jitu yang cerdas (genuin) untuk mendukung sikap politik Presiden RI Bpk PS yg bijaksana dan tepat sasaran, bisa diterima kedua belah pihak yang bertikai dan berperang yang tak berkesudahan.

Mengapa pandangan Presiden RI, bpk PS, saya katakan cerdas, beliau memiliki kapasitas dan kafabilitas menentukan pilihan strategi dan taktik (stratak, siasah) yang tepat, sistematis dan terukur hasilnya.

Baca :  Menghambat Laju Rekonsiliasi Fatah-Hamas Dalam Pemilu Palestina 22 Mei 2021 

Presiden RI bpk PS telah lama mencermati bahwa sudah sekian lama sikap politik LN Indonesia yang “bebas aktif” dalam ikut berkontribusi menciptakan perdamaian dan memerdekakan Palestina tidak kunjung terwujud, alias gagal total (gatot). Bahkan penduduk Gaza menderita terus dan jatuh korban nyawa yang jumlahnya tidak kepalang, sedih, memilukan, geram membaca berita-berita di berbagai media massa dan medsos, dimana Zionist Israel telah berhasil pembantaian untuk memusnahkan bangsa Palestina (genocaid) di tanah airnya sendiri oleh regim biadab Zionist Yahudi-Israel dalam beberapa dasawarsa, dunia/PBB pun tak berdaya menghentikannya, apalagi dunia Islam juga tak berdaya (powerless) dibuatnya.

Ziones Israel dengan kekuatan senjata yang canggih dan modern, sangat lebih unggul dibandingkan persenjataan para pejuang Palestina, maka peperangan selama ini, terus berbuah kemenangan bagi Zionist Israel, sehingga Rakyat Gaza banyak yang wafat dan citra, jika dibiarkan perilaku biadab yang melanggar HAM, bangsa Palestina akan terancam “genocide”. Walaupun PBB dan Lembaga Amnesti Internasional telah menghukum Presiden Israel sebagai penjahat perang, tetapi PM Netanyahu dan para pemimpin Israel tidak bisa ditangkap dan diadili di persidangan Pengadilan Internasional.

Mengapa Israel begitu “perkasa” dalam berbuat kejahatan kemanusiaan. Hal ini terjadi, akibat kekuatan politik dan militer negara-negara Islam tergabung dalam OKI dan OPEC tidak berdaya dibuatnya, karena tidak terkonsilidasi, tak bisa bersatu dalam memberikan perlawanan terhadap kekuatan militer Zionist Israel karena kuatnya loby-loby oligarky Yahudi USA di dalam birokrasi Pemerintahan USA, sehingga Amerika Serikat pembela setia Israel, selama ini.

Mengapa Israel ngotot tetap kuat berkeinginan menguasai wilayah Gaza atau menjajah Palestina, karena dorongan keyakinan (keimanan) mereka, yang begitu teguh kaum Yahudi, terutama kalangan Yahudi Ortodoks berdasarkan kitab suci mereka mengklaim bahwa tanah Gaza dan Yerussalem juga merupakan warisan (legasi) leluhur, nenek moyang mereka, dari kaum Ibrani.

Menurut pendapat saya bahwa bertolak dari cara pandang (mindset) inilah, membuka mindset para konseptor di lingkaran kekuasaan Presiden RI bpk.PS, mengambil kebijakan solusi “two state” merupakan cara atau stratak “best solusion” untuk menghentikan pertikaian atau konflik perang Palestina vs Israel yang telah berlangsung cukup lama.

Selanjutnya pemimpin Indonesia saat ini, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, tidak tega melihat penderitaan penduduk Gaza yang akan dimusnakan (genocide) oleh kekuatan biadab Zionist Israel, anak-anak, ibu-ibu hamil dibunuh tentra Israel secara biadab, tidak berperikemanusiaan. Dan bpk PS Presiden RI selaku negarawan cerdas mengoreksi sikap politik LN Indonesia untuk perdamaian Gaza yang gagal tsb. Dalam “brief public policy” untuk menciptakan perdamaian Gaza antara Palestina dengan Israel, didasari paradigma “win and lose or lose and win solution”, tidak mengakui Israel sebagai negara, karena menjajah yang bertentangan dengan nilai-nilai perikemanusiaan sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, bukan “wind and wind solution”, sehingga diplomasi Indonesia di dunia internasional atau di sidang umum.PBB selama ini terus mengalami kegagalan untuk mewujudkan Palestina Merdeka dan perdamaian Gaza.

Baca :  PKB Kota Bogor Gaungkan Aksi Solidaritas untuk Palestina

Terakhir ada fenomena sosial baru, dimana para pemimpin Indonesia berpikir “waras bin tulus”, bukan “edan binti bulus dan fulus”, bahwa mencermati sikap negara-negara di benua Erofah, Asia dan Afrika, sdh bergeser sikap politik luar negerinya (LN), yang tadi mereka kukuh membela Israel dan menolak kemerdekaan Palestina menjadi negara Merdeka, sekarang mendukung gerakan Palestina Merdeka utk mewujudkan perdamaian abadi di Gaza, antara lain negara spt Inggris, Perancis, Spanyol dll, mereka pro kemerdekaan Palestina. Alhamdulillah kini sikap politik negara-negara Erofah tsb telah bergeser dan berubah mendukung Palestina menjadi Negara Merdeka dalam upaya menciptakan perdamaian abadi di Gaza-Palestina.

Walaupun rakyat negara-negara Erofah tsb, Pemerintahannya mendukung kemerdekaan Palestina tetapi diprotes rakyatnya dengan melakukan demontrasi besar-besaran, memobilisasi rakyatnya melawan Pemerintahannya. Akan tetapi ada juga sebaliknya rakyat Amerika Serikat, sebagian besar pro kemerdekaan Palestina, sementara Pemerintahannya, seolah-olah bertolak belakang dengan aspirasi rakyat, kecuali terakhir ini sikap Presiden USA Donald Trump sudah.melunak dan berubah, sehingga mendukung perdamaian Gaza, Kemerdekaan Palestina, agaknya dampak setelah memperhatikan dan mempertimbangkan pidato Presiden RI bpk.PS yang hebat dan mantul di Sidang Umum PBB baru-baru ini. Dengan sindiran bpk PS dalam isi pidatonya yang membahana, bahwa penjajah Israel yang didukung Amerika tsb memberlakukan manusia spt anjing.

Akibat pidato Presiden RI bpk PS yang berbobot tsb spt Sukarno, publik dunia mulai sadar dan paham bahwa pemimpin negara spt Presiden RI bermindset “waras bin tulus”, sedangkan Presiden USA Mr.Donald Trumb bermindset sebaliknya “edan binti bulus dan fulus”, dengan perang terus terjadi di dunia Islam, Timur Tengah, Amerika Serikat bisa menjual senjata produknya dan menjarah sumberdaya minyak dan gas bumi di tanah Arab yang kaya raya dan melimpah spt Irak, Iran, dll.

Berdasarkan fenomena sosial tersebut diatas, maka janganlah ragu dan bimbang MPP ICMI untuk beropini publik “best solution”, mengakui 2 negara (two state: Palestina dan Israel Merdeka) untuk menuju perdamaian Gaza, dan Palestina menjadi negara Merdeka, sehingga artikel sahabat saya Dr.Aslichan Burhan bisa dijadikan salah satu rujukan sikap MPP ICMI. Walaupun saya dan kita sadar bahwa dengan adanya sikap mendukung Israel menjadi negara merdeka sebagai “best solution” dalam kebijakan politik luar negeri Indonesia “make two state” akan memunculkan sikap berbeda bahkan sebagian umat Islam Indonesia “menentang”nya, jika melihat hasil pooling mass media diperoleh angka lebih dari 60 persen menolak konsep 2 negara.

Baca :  Kecam Zionis Israel, MUI Bali Serukan Doa untuk Palestina

Sikap menolak yang muncul, dengan solusi perdamaian, dengan mengakui 2 negara, karena masih kuatnya pandangan dari perspektif hukum tata negara, dimaknai Presiden RI bpk PS melanggar konstitusi Pembukaan UUD 1945 alenea pertama bahwa penjajahan di atas bumi tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, maka penjajahan di muka bumi harus dihapuskan.
Pola pikir (mindset) ini terjadi karena Israel dimaknai sebagai penjajah. Oleh karena itu, khusus untuk mensukseskan strategi perwujudan perdamaian Gaza, maka pengertian atau definisi penjajah Israel, harus didefinisikan kembali (redefinisi) dan rencana strategis dan operasi (renstra and renop) untuk penyelesaian konflik internal dan ekternal di lingkungan bangsa Palestina sendiri, misalnya fraksi militer Hammas vs nonHamas spt Al Fatah dll perlu dilakukan dengan hati-hati dan bijaksana, dll.

Sukron atas share japri artikelnya Aslichan Burhan berjudul “Diplomasi Prabowo: Solusi 2 Negara, Perdamaian Gaza dan Kilas Balik Perjanjian Hudaibiyah”, menurut pendapat saya, mencerahkan dan inspiratif, insyaAllah transformatif menuju perdamaian Gaza, Palestina Merdeka.

Semoga artikel saya AA ini juga bermanfaat, menginspirasi dan transformatif solusi untuk merubah mindset segenap warga bangsa Indonesia untuk menemukan solusi terbaik (best solution) menuju perdamaian di Gaza, Palestina menjadi Negara Merdeka, sesuai jiwa dan semangat perjanjian Hudaibiyah, strategi perdamaian umat Islam Madinah dengan Kaum Kafir Quraiz yang menguasai Mekkah, yang didesain Rasulullah Muhammad SAW. Kita sudah sangat paham bahwa beberapa tahun kemudian (lk.2 tahun) setelah penandatanganan perjanjian Hudaibiyah yang ketika itu sulit dipahami umat Islam Madinah (kaum Muhajirin dan Anshor), tapi subhanallah akhirnya Mekkah dikuasai dan jatuh ke tangan umat Islam dipimpin Rasullullah Muhammad SAW, barakallah.***

Gallery and Ecofonworkshop, Kp. Wangun Atas Rt 06 Rw 01 Kel Sindangsari, Botim City, West Java, Selasa 14 Oktober 2045.

Penulis adalah Salah seorang Pendiri ICMI di Malang, Ketua Wanhat MPW ICMI Orwil Khusus Bogor dan Wasek Wankar MPP ICMI, Konsultan, Pegiat dan Pemerhati serta Kritikus Sosial melalui Tulisan-Tulisannya di Media Sosial dalam Rangka ikut berkontribusi Mewujudkan Indonesia Emas thn 2045