LEAD.co.id | Pertempuran meletus antara pasukan Armenia dan Azerbaijan, akibat sengketa wilayah separatis Nagorno-Karabakh, pada Minggu (27/9/2020). Sebanyak 16 tentara dan dua warga sipil dilaporkan tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka.
Sumber Associated Press (AP) melaporkan, Armenia mengklaim telah menembak jatuh 4 helikopter milik Azerbaijan, termasuk 33 tank dan kendaraan tempur terkena artileri. Namun, kementerian pertahanan Azerbaijan menolak klaim sebelumnya bahwa dua helikopter ditembak jatuh.
Pihak berwenang Nagorno-Karabakh melaporkan bahwa, penembakan menghantam ibu kota wilayah Stepanakert dan kota Martakert dan Martuni. Juru bicara Kementerian Pertahanan Armenia Artsrun Hovhannisyan juga mengatakan penembakan Azerbaijan menghantam wilayah Armenia dekat kota Vardenis.
Kementerian pertahanan teritorial Minggu malam mengatakan, sebanyak 18 orang tewas, termasuk seorang wanita dan cucunya dan lebih dari 100 orang terluka.
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev memerintahkan darurat militer diberlakukan di beberapa wilayah negara itu dan menyerukan jam malam di kota-kota besar.
“Ada kerugian di antara pasukan Azerbaijan dan penduduk sipil akibat pemboman Armenia… banyak unit peralatan militer musuh telah dihancurkan,” sebut Aliyev dalam pidato yang dikutip AP.
Merespon pertempuran itu, Juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin mengutuk Armenia karena telah melanggar gencatan senjata dengan menyerang permukiman sipil.
“Komunitas internasional harus segera mengatakan hentikan provokasi berbahaya ini,” cuit Kalin.
Turki adalah sekutu dekat Azerbaijan dan terkunci dalam perselisihan panjang dengan Armenia yang telah menutup perbatasan negara-negara itu sejak awal 1990-an.
Sementara, Menteri Luar Negeri Javad Zarif dari Iran, yang berbatasan dengan Azerbaijan dan Armenia, telah menyerukan diakhirinya permusuhan, dan mendesak dialog untuk menyelesaikan perbedaan.
“Tetangga kami adalah prioritas kami dan kami siap memberikan layanan yang baik untuk memungkinkan pembicaraan,” terang dia.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan kepada pihak-pihak lain untuk segera menghentikan pertempuran, mengurangi ketegangan.
“Kembali ke perundingan yang berarti tanpa penundaan,” tambah Sekjen PBB melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric.
Wakil Menteri Luar Negeri AS Stephen Biegun memanggil menteri luar negeri Armenia dan Azerbaijan untuk mendesak penghentian permusuhan, kata juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus.
Sebagian besar pegunungan Nagorno-Karabakh – wilayah sekitar 4.400 kilometer persegi (1.700 mil persegi) atau seukuran negara bagian Delaware AS – terletak 50 kilometer (30 mil) dari perbatasan Armenia. Tentara lokal yang didukung oleh Armenia juga menduduki beberapa wilayah Azerbaijan di luar wilayah tersebut.
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Kemhan Armenia, PBB via AP





