Armenia Menyatakan “Siap” Gencatan Senjata dengan Azerbaijan

0
Armenia, Gencatan, Senjata, Azerbaijan
Pertempuran antara Armenia dan Azerbaijan telah pecah di sekitar wilayah separatis Nagorno-Karabakh, Minggu, 27 September 2020. [Kementerian Pertahanan Armenia via AP]

LEAD.co.id | Armenia menyatakan siap untuk dimediasi internasional untuk mencapai gencatan senjata dengan pihak Azerbaijan. Saat ini kedua pihak tersebut masih memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh, tempat pertempuran sengit untuk hari keenam.

Armenia mengaku “siap” melibatkan Prancis, Rusia dan Amerika Serikat, yang menjadi ketua bersama kelompok mediator OSCE, “untuk membangun kembali rezim gencatan senjata”, kata kementerian luar negeri Armenia seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (2/10/2020).

Namun, pihaknya juga menyatakan bahwa, “agresi terhadap Nagorno-Karabakh ini akan terus menerima tanggapan kami yang kuat dan tegas”.

Baca :  Pertempuran Meletus antara Armenia dengan Azerbaijan

Perkembangan itu terjadi setelah pejabat etnis Armenia di wilayah Nargorno-Karabakh yang memisahkan diri melaporkan 54 korban militer lainnya di antara pasukan yang didukung Armenia, menjadikan korban tewas menjadi 158 tentara.

Pernyataan Armenia pada hari Jumat menandakan bahwa, dialog dapat dilakukan dalam menyelesaikan gejolak terbaru, setelah berhari-hari Yerevan dan Baku menolak untuk mengindahkan seruan para pemimpin Barat dan Rusia untuk mundur.

Azerbaijan belum melaporkan adanya korban militer, tetapi mengatakan 19 warga sipil tewas dalam penembakan Armenia.

Ada kekhawatiran bentrokan meluas menjadi perang multi-front habis-habisan yang dapat menyedot kekuatan regional Turki dan Rusia.

Baca :  Pertempuran Meletus antara Armenia dengan Azerbaijan

Turki adalah pendukung terkuat Azerbaijan di kancah internasional, sedangkan Rusia memiliki pangkalan militer di Armenia.

Ankara telah dituduh oleh Armenia memasok pejuang untuk konflik tersebut, menarik mereka keluar dari Suriah utara. Namun, tuduhan itu dibantah oleh Turki dan Azerbaijan.

Presiden Prancis Macron telah mengecam Turki, mengatakan bahwa, laporan intelijen menunjukkan 300 pejuang dari “kelompok jihadis” di Suriah telah melewati Turki dalam perjalanan ke Azerbaijan.

“Garis merah telah dilintasi,” kata pemimpin Prancis itu, menambahkan bahwa negaranya menuntut penjelasan.

Macron mengeluarkan peringatannya pada pertemuan puncak Uni Eropa di Brussels, mendesak “semua mitra NATO untuk menghadapi perilaku anggota NATO”.

Baca :  Pertempuran Meletus antara Armenia dengan Azerbaijan

Editor: Aru Prayogi
Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here