LEAD.co.id | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor masih menunggu hasil kajian para ahli terkait penyebab bencana banjir dan tanah longsor di Kecamatan Sukajaya dan sekitarnya.
“Pemkab masih fokus ke penanganan bencana. Belum ada kesimpulan ke arah penyebab bencana. Karena itu harus melalui kajian dan penelitian para ahli,” ungkap Wakil Bupati Bogor, Iwan Setiawan seperti dirilis website resmi Pemkab Bogor, Kamis (16/1/2020).
Pernyataan tersebut merespon berita-berita yang beredar mengenai penyebab bencana, khususnya di wilayah Barat Kabupaten Bogor. Iwan meminta masyarakat tetap tenang sambil menunggu pernyataan resmi dari para ahli yang tengah melakukan penelitian.
Kepala Sub Bidang Mitigasi Gerakan Tanah Wilayah Barat pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Sumaryono sebelumnya menyebut penyebab bencana di wilayah barat Kabupaten Bogor, karena memang rawan longsor. Kondisi ini diperparah dengan curah hujan ekstrim saat pergantian tahun.
“Kecamatan Sukajaya ini memang secara geologi daerahnya rawan longsor. Diperparah kondisi curah hujan yang sangat ekstrim,” kata Sumaryono saat di Posko Utama Bencana Sukajaya.
Polres Bogor Singgung Pertambangan Liar
Sebelumnnya, pihak Polres Bogor mengungkap adanya penambang emas liar menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya bencana banjir dan longsor.
“Salah satu faktor penyebab bencana yang terjadi di wilayah Sukajaya dan sekitarnya itu karena adanya aktifitas penambangan liar,” ungkap Kapolres Bogor, Akbp Muhammad Joni, Senin (13/1/2020).
Kepolisian juga berhasil menangkap dua pelaku penambang emas liar atau yang biasa disebut gurandil ini. Bahkan, aparat gabungan TNI-Polri telah menutup puluhan lubang tambang emas ilegal di Kecamatan Nanggung, Bogor.
“Kami melihat adanya aktifitas penambangan dan pengolahan tambang emas yang mencurigakan di Kp. Cililin Sabrang Ds. Banyuresmi, lalu kami langsung mengamankan para pelaku,” terang Kanit Tipidter Polres Bogor, Iptu B. Azi Lesmana.
Kapolres juga Bogor mengungkapkan, berdasarkan hasil pantauan bersama Muspida bahwa, benar terdapat lubang-lubang Gurandil ini yang mengakibatkan longsor di sekitar lubang Gurandil itu sendiri.
BMKG Ungkap Akibat Cuaca Ekstrim
Terkait penyebab bencana ini, website Pemkab Bogor mengungkap hasil rapat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan di wilayah Sukajaya dan sekitarnya saat pergantian tahun mencapai 301,6 milimeter. Padahal, curah hujan tersebut merupakan curah hujan dalam waktu satu bulan.
“Saat bencana itu curah hujan di Sukajaya 301,6 milimeter dalam satu hari. Padahal itu curah hujan dalam satu bulan. Artinya curah hujan satu bulan diturunkan dalam satu hari itu,” terangnya.
Menurutnya, curah hujan tersebut tergolong sangat ekstrim. Akibatnya, longsor terjadi bukan hanya di wilayah yang bukan hutan, di perhutanan juga terjadi longsor.
“Kalau kita lihat yang bukan hutan dan hutan sekalipun juga longsor, berarti ada cuaca eksrim. Di Bogor sendiri ini yang terbesar,” ungkap Sumaryono.
Selain itu, pihaknya melakukan pendataan dan penelitian lintas instansi untuk memetakan dan menyimpulkan penyebab bencana. Tim yang dikerahkan terdiri dari Badan Geologi, BIG, Lapan dan instansi terkait lainnya. (Pemkab Bogor/Red)






