Site icon LEAD.co.id

Pulang Kampung yang Membahagiakan

Oleh: Apendi Arsyad

Alhamdulillah wa syukurillah… Tepat pukul 19.45 Wib pesawat Super Air Jet yang saya tumpangi bersama keluarga dari Kota Pekanbaru (Pku) dengan tujuan bandara Sukarno-Hatta mendarat dengan mulus dan selamat.

Selama terbang, suasana terasa kurang nyaman, akibat cuaca agak buruk. Sudah lk 5 hari saya dan keluarga berada di kampuang halaman Cerenti, tempat kelahiran, dibesarkan dan dididik oleh kedua orangtuaku.

Kota kecil Cerenti adalah salah satu ibu kota Kecamatan di Kebupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau yang telah banyak memberikan arti dan makna hidup bagiku di masa kecil dan remaja, masa bersekolah di kampuang halaman.

Kota yang penuh kenangan bagiku yang tak kan pernah terlupakan. Apalagi Cerenti memiliki alam topografi nan indah, dengan daerah aliran sungai (DAS) Kuantan yang melintasi atau membela dua kawasan Kecamatan Cerenti.

Di lahan tepi sungai tumbuh aneka tanaman hutan tropis yang hijau, pepohonan kelapa, perkebunan sayur-sayuran dan buah-buahan (hortikultur) masyarakat lokal, ada tumpukan pasir putih, ada bebatuan (bahasa Cerenti, “batu karak/batu bara”) tempat bersembunyinya (habitat) aneka ikan air tawar seperti Patin, Bawung, Buwan, Kalui, Kapiek, udang Galah, Tapa, Belido, Bangarek, dll.

Panorama alam nan indah DAS Kuantan ini, saya nikmati tidak perlu jauh berjalan, cukup saya berada lk 10-15 meter di belakang rumah peninggalan (warisan) orangtuaku, sebab rumah “soko tuo” yang kini telah menjadi Kantor Yayasan Arsyada Cerenti Madani (YACM), memang berada persis posisi membelakangi DAS Kuantan.

Dari posisi saya berdiri di belakang rumah itu, saya bisa melepas pandangan desa Pulau Jambu, Ikuak Desa Sikakak (daerah Sianyir, tempat aku semasa remaja bergembala sapi), tampak juga tebing kompang Kelurahan Pasar Cerenti. Kemudian ke arah hilirnya tampak pemandangan Desa Koto dan Pulau Tonga yg kini mulai mengecil dan hilang.

Doeloe Pulau Tonga yang bergundukan pasir putih tersebut adalah tempat atau “lapangan” saya bermain bola bersama kawan-2 “bocah” sepermainan. Cukup seru dan asyik pertandingannya, grup yang kalah buka baju. Untuk sampai ke lokasi ini, saya dan kawan-2 bocah berenang lk 10-20 menit utk sampai ke lokasi berpasir ini, tanpa ada rasa takut digigit atau diterkam buaya sungai.

Air sungai DAS Kuantan ini, di musim hujan permukaan sungai menaik, cukup keruh akibat banyaknya sedimentasi longsoran tanah dan penggundulan hutan tropis (deforestry) akibat negatif perluasan kebun Sawit milik para oligarki yang mengabaikan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan/SDAL (ekosistem hutan dan DAS Kuantan), dan dampaknya terkadang terjadi banjir, air badan sungai meluap, yang melanda perkampungan penduduk desa Pulau Jambu, desa Sikakak dan desa Taluk Pauh.

Posisi berdiri saya AA di belakang rumah warisan orangtuaku itu, merupakan salah satu “spot” yang bagus untuk pengambilan gambar (berfhoto) berlatar belakang fanorama alam DAS Kuantan Saya menikmati keindahannya. Setiap pulang kampung (pulkam) saya selalu mengabadikannya lewat kamera, dan sekarang zaman millenial ini cukup dengan bidikan Handphone (Hp) yang ada di tangan, sehingga cukup banyak koleksi fhoto/gambar yang saya miliki.

Jika melihat fhoto-2 itu, sungguh menakjubkan dan pikiranku menerawang ke masa tempo doeloe masa kecil, usia remaja tempat mandi, berenang di badan sungai yg lebar lk 15 meter, dan bermain bola di pasir pantai Pulau Tonga dan Desa Pulau Jambu, yang penuh kenangan manis (sweet memory).

Kini semua pemandangan DAS Kuantan sudah banyak berubah bentang alamnya (lanscaping) dan ekosistem perairannya akibat kuatnya erosi dan abrasi, dimana tebing-tebing sepanjang tebing sungai Kuantan, tepatnya di daerah Bukit Gudang Desa Kampung Baru Timur Cerenti, daerahnya, lokasinya persis di belakang rumah “soko tuo”, sejak berpuluh-puluh tahun mengalami longsor (tobiang ghuntua, bahasa lokal Cerenti) hingga kini. Situasinya sudah memporak- poranda dapur dan bahkan beberapa rumah penduduk di sekitar tebing longsor (“ghuntua”).

Jarak tebing DAS Kuantan, yang longsor dengan badan jalan raya nasional yang menghubungkan Kota Pku-Rengat tinggal lk 10 meter lagi. Saya sudah sejak lama menyuarakan melalui lisan dan tulisan yang ditujukan kepada pihak Pemerintah (pusat dan daerah), meloby para petinggi negeri (Bupati Kuansing dan Gubri), akan tetapi hingga sekarang belum juga ada perhatian. Observasi lokasi sudah dilakukan para pejabat dan wakil rakyat.

Mudah-mudahan tahun depan sudah ada tindakan nyata untuk mengatasi masalah bencana alam tanah tebing longsor tersebut. Saya sangat khawatir, dengan adanya tebing longsor yg “dibiarkan” itu, jangan sampai memakan korban nyawa penduduk setempat, dan putusnya jalan raya sebagai urat nadi perekonomian rakyat di daerah Riau.

Alhamdulillah, sungguh menyenangkan dan membahagiakan adanya event Pulkam (pulang kampung) ke Cerenti tanggal 23-28 Juni 2022 yang lalu, terutama menghadiri pesta perkawinan (bagholek) cucuku yang cantik dan anak yatim bernama Alfanny Yusra binti Alfian Lukman (nama panggilannya Fani), dipersunting Arif, jejaka dari daerah Bondowoso-Jawa Timur, kini ASN di BSN Jakarta.

Acara pestanya berlangsung hikmat, meriah dan menghibur. Ada beberapa atraksi seni budaya mulai seni budaya masyarakat adat tradisional Cerenti seperti Acara pertemuan niniak-mamak; acara Akad-nikah pasangan penganten, hiburan BerZikir “tawak-tawak” Badontuang / bazanzi-shalawat nabi, Cacak Inai pasangan penganten/Saweran dari internal dunsanak (kerabat), acara Sasembahan dengan melantunkan ayat-ayat suci Al Quranul kariem, jemput Tabak (kue tradisional pemberian “ughang bako”) ke beberapa desa, hingga Musik modern Nasyid dengan olah vokal yang luar biasa 3 orang pemainnya yang disewa khusus.

Saya pun ikut bernyanyi, mendendangkan 6 lagu lama untuk menghibur para tamu undangan pesta perkawinan saat itu. Para dunsanak (kerabat) berkumpul, bersua muka, bersenda gurau dan melepas rindu yang sekian lama tak bertemu. Ada beberapa orang family keturunan Haji Arsyad bin H. Kahar dari perantauan berdatangan. Subhanallah, suasana guyup, hidup rukun, harmoni dan damai menyelemuti keluarga besarku.

Selama berada di kampung lk 5 hari yang lalu, saya bersama istri dan anakku si bungsu Fathia Nurul Izzah (17) menyempatkan mendatangi, bersilaturrahmi dengan sanak famili di rumahnya di desa-desa. Juga berkumpul di kedai Kopi dengan para sahabat, sambil mengobrol-ngobrol (bahasa Cerentinya “maotah-otah, babual-bual” ngaro-ngidul) sambil menyeruput kopi dan mencicipi kue-kue dan mie goreng “bang Aam” yang lezat itu, yang telah menjadi langganan kulinerku jika Pulkam ke Cerenti.

Kesempatan bereuni di kedai kopi Pasar Cerenti, yang amat langka, bisa bertemu dengan para sahabat dan senior lama, yang puluhan tahun tak bersua muka dan bersilaturrahmi. Sungguh menyenangkan, bertemu kali ini dengan teman sekelas dan kakaj kelas (senior) di SD/Madrasah Mualimin Muhammadyah dan SMPN Cerenti, tempo doeloe.

Alhamdulillah, perhatian anak kemekandaku juga sangat baik dan ramah.
Saya bersama keluarga selama dalam perjalanan pulang dan kembali dari kampung sangat dimudahkan, dengan disediakan sarana transportasi mobil pribadi oleh para keponakanku, sehingga saya bisa menyelusuri kehidupan kampung di desa-desa dengan baik.

Acara Pulkam ke Cerenti, kali ini yang menyenangkan adalah banyak aneka menu makanan dan masakan kampuang “tradisional” yang dikonsumsi, rasanya enak, lezat dan nikmat sekali, seperti menu masakan gulai telur ikan patin, gulai pakis, rendang daging ayam, goreng ikan balado, panggang ikan paluit, dll. Juga begitu banyak sanak famili berkumpul menghadiri resepsi perkawinan cucuku Fani dan Arif.

Tak lupa pada siang hari yang bercuaca panas-terik, kami juga berkesempatan minum air kelapa muda yang diambil di pohon oleh keponakanku, di kebun miliknya. Saya bersama keluarga sempat juga dijamu makan siang bersama ala Cerenti, masakan enak-enak, di rumah kakak (uwo, andak) dan keponakanku di desa-desa.

Saya menyempatkan diri juga bersama istri dan anak berzisrah ke makam ibunda dan ayahanda di TP wakaf Al Mukmin Kp Baru Cerenti, dan berziarah ke pemakaman kakakku di TPU Kp Baru Cerenti. Sehari sebelum jadwal pulang dari acara Pulkam, kami menyempat berbelanja di pasar rakyat Cerenti.

Pada hari Senin itu merupakan hari kegiatan berjual-beli (pasar) bagi penduduk lokal untuk mendapat kebutuhan 9 bahan pokok (sembako) sekalian rekreasi kuliner seperti minum di kedai kopi sambil mengobrol (babual), menikmati hidangan Sate Topuang, Mie goreng bang Aam yang terkenal itu, dll. Pasar rakyat Cerenti cukup ramai dikunjungi warga masyarakat dari pelosok nagori, terutama desa-desa terpencil.

Selama berada di kampung, saya berkesempatan menyelenggarakan rapat Yayasan ACM untuk membahas persiapan kegiatan penitipan dan pemotongan hewan Qurban untuk dibagikan dagingnya kepada kaum dhuafa di desa-desa miskin di Kecamatan Cerenti; juga rapat pengurus Yayasan ACM membahas persiapan penandatanganan Akta Ikrar Wakaf tanahku bersama istri, serta menata Kantor Yayasan ACM agar layak bekerja dan menerima tamu-tamu, yang berlokasi di “rumah sako tuo”, Bukit Gudang Kp Baru Cerenti, pada bulan Maret 2022 (Ramadhan 1443 H ybl, yakni 3-4 hari sebelum lebaran Idul Fitri 1443 H) diresmikan penggunaanya, launching sosialisasi Yayasan ACM oleh Plt Bupati Kuansing yang diwakili Sekda Pemkab Kuansing Riau pada acara penyerahan 100 paket Sembako kepada kaum dhuafah, anak yatim dan guru mengaji Al Quran di beberapa desa se Cerenti.

Alhamdulillah sungguh nikmat rasanya bertemu, bersua muka dengan keluarga besar the Arsyad Family selama berada di kampung, mereka semua telah memberikan kesenangan dan kebahagiaan. Saya bersama keluarga mengucapkan banyak terima kasih yang setulus-tulusnya.

Semoga Allah SWT memberkahi kehidupan kita. Selanjutnya saya memohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan.

Penulis adalah Pendiri-Dosen Senior Universitas Djuanda Bogor, Pendiri dan Ketua Wanhat ICMI Orwilsus Bogor; Konsultan K/L, Pegiat dan Pengamat Sosial, kini mukim di Ciawi Bogor

Exit mobile version