Oleh: Jan Tuheteru
Ingatan sejarah Bangsa tentang kehadiran HMI sebagai organisasi yang ikut berperan dalam membantu mempertahankan kemeredekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengangkat derajat umat islam tidak bisa di nafikan. Koheren dengan apa yang yang menjadi komitmen HMI sebagai organisasi perjuangan.
Berdiri tepat pada tanggal 5 Februari 1947 yang diprakarsai oleh salah satu tokoh nasional yakni Lafran Pane, melihat kondisi Negara yang belum merdeka secara penuh karena belum di akui secara utuh oleh bangsa kolonial, di tambah dengan kondisi umat islam yang mengalami kejumudan dalam memahami agama islam serta kondisi perguruan tinggi di masa itu yang didominasi oleh kelompok-kelompok tertentu. Dengan latar belakang itulah Lafran Pane menginisiasi berdirinya HMI.
HMI dalam perjalannya terus mengalami dinamika, entah dalam wilayah internal maupun ekternal. Di masa kepemimpinan soekarno HMI pernah ingin di bubarkan karena di tuduh kontra revoluioner, namun hal itu tidak sampai terjadi karena beberapa tokoh petinggi Negara di waktu itu menolak apa yang di sampaikan oleh presiden tentang pembubaran HMI.
Berlanjut, di masa orba yang di pimpin oleh presdiden Soeharto, di masa ini pergolakan dan pergulatan di internal HMI di uji, hal ini di buktikan dengan adanya dua kubuh di dalam HMI itu sendiri. Ini di dasarkan karena pemberlakuan azas tunggal yang di tetapkan oleh presiden soeharto, impact dari adanya permberlakuan azas tunggal mengharuskan HMI itu menggenti azas islam menjadi Pancasila. Inilah yang menjadi akar persoalan sehingga HMI terbelah menjadi dua bagian, bagian yang pro terhadap azas pancasila dan tidak. (Lengkapnya baca Sejarah Perjuangan HMI 1947-1975, tulisan Agussalim S)
Terlepas, dari sejarah HMI di muka mari sama-sama kita analisis apakah HMI mengalami kemajuan atau terdegradasi ? berangkat dari prespektif saya secara pribadi bahwa melihat kondisi HMI akhir-akhir ini membuat saya semakin pesimis apabila HMI di katakan mengalami kemajuan. Mengapa demikian, kondisi internal yang saling menjatuhkan karena berebut kekuasaan dan singgah sana jabatan menjadikan kader HMI lupa akan tugas dan peran nya sebagai kader umat dan bangsa.
Persoalan-persoalan klasik tersebut terus mendera tubuh HMI yang melahirkan konflik kepentingan baru antara satu dengan yang lain. Pada tingkatan yang paling atas saja contohnya di pengurus besar (PB) HMI konflik kepentingan untuk melanggengkan kepuasan pribadi atau segentir orang, imbas dari adanya pembelahan tersebut mengalir pada mandek nya agenda-agenda formal yang ada di HMI. Satire yang di mainkan oleh lakon-lakon intelek yang “Katanya” itu di pertontonkan di ruang public. Hal ini pastinya menimbulkan persepsi miring terhadap HMI. Kacamata public perlu di persepsikan sebagai kritik yang membangun bagi HMI, sehingga perlu adanya pembaharuan di internal.
Dengan melihat kondisi di muka maka apa yang perlu kader HMI lakukan ?
Pertanyaan di atas saya tujukan kepada seluruh kader HMI di manapun berada, oleh karena itu pasca tulisan ini saya publish, kiranya argumentasi dari kader HMI dapat di sampaikan untuk merespon tulisan ini.
Beranjak dari pertanyaan tersebut, ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan. Di antaranya : 1) Perlu adanya Reposisi dalam internal HMI, 2) Mengembalikan HMI sebagai episentrum peradaban, dan 3) Mereformulasi perkaderan. Secara sederhana upaya Reposisi bertujuan untuk mengembalikan sesuatu sesuai dengan semesetinya, HMI perlu mengembalikan posisi awal HMI berdiri yang dimana mengedepankan dua komitemen, yakni komitmen kebangsaan dan komitemen keuamatan. Sehingga dalam praksisnya kader HMI yang di amanahi jabatan di dalam kepengurusan HMI perlu memahami secara utuh paradigma kebangsaan dan keumataan. Di lain hal indepensi etis dan organisatoris perlu di junjung tinggi sebagai pegangan dalam berkehidupan berbangsa.
Selaras dengan hal tersebut, HMI sebagai episentrum peradaban perlu di galakan oleh seluruh kader HMI, substansi dari hal tersebut ialah HMI harus menjadi wadah dialog kebangsaan dan keislaman secara massif.
Oleh karena nya, seluruh elemen HMI harus sadar akan peran dan tugasnya tersebut. Maka demikian, perlu adanya mereformulasi kembali konsep perkaderan yang ideal yang di sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi zaman post truth ini.
Sederhana tulisan dari saya, selaku bagian kecil dari organisasi tertua dan terbesar ini. memperingati 74 tahun HMI. Semoga HMI terus tumbuh mekar tetap membawa spirit kebangsaan dan keindonesiaan di tengah-tengah ketidakpastian moderenisasi. Sallam
Penulis adalah Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang





