Site icon LEAD.co.id

Renungan Akhir Pekan: ICMI seimbang Reflektif dan Praxis

Apendi Arsyad, ICMI, Saran

Oleh: Apendi Arsyad

Dalam beberapa postingan yang menarik, ada seorang ibu yang terjun ke perdesaan miskin dan terbelakang. Kemudian desa yang tertinggal tersebut kini telah berubah, berkembang maju dengan aktivitas pertanian dan suply energi listrik dari pembangkit listrik hidro-micro yang sumberdaya ada di desa itu.

Lantas ada pembaca nyeletuk dan setengah menyindir, dengan ungkapan bahasa .. “dapatkah ICMI berbuat kongrit seperti itu?”. Izinkan saya bernarasi untuk merespon pertanyaan yang menggelisahkan itu disini. Barang tentu saya akan merespon dalam perspektif konstitusi dan Khittah serta Wawasan Pengabdian ICMI.

ICMI saat ini, seharusnya
gerakan praxis, kerja-kerja nyata sudah waktunya dilakukan. Selain kita terus berpikir, bernalar mencari solusi dan bernarasi, atau yang disebut istilah Reflektif.

Jika kita hanya reflektif doang tanpa praksis, kerja nyata yang membawa faedah. Maka itu namanya NATO, singkatan dari ungkapan “No action talk only” ..kasihan Indonesia, rakyat dan ummat, banyak kaum ilmuwannya, sudah sekolah tinggi-tinggi, lulusan atau jebolan Universitas terkenal dalam dan luar negeri, tapi sayang mereka belum menjadi Cendekiawan muslim yang sesungguhnya, yang bisa membawa manfaat sosial bagi rakyat dan bangsanya.

Mereka masih sibuk dengan urusan dan kepentingannya diri sendiri, nggak selesai-selesai. Walau terkadang umurnya sudah tergolong Lansia, usia lanjut. Tapi semangat mengejar, merebut dan bahkan merampok harta, tahta dan wanita (sex) masih jalan terus. Gemar berperilaku STMJ, masih giat yakni rajin sholat terus akan tetapi perbuatan maksiat jalan terus, STMJ.

Padahal STMJ makna yang sebenarnya dari orang Malang, seperti saya mampir di warung angkringan di daerah wisata Songgoroty Batu Malang, makna STMJ adalah menu yang menyehatkan yakni air campuran Susu Telur Madu dan Jahe, enak dan lezat rasanya serta menyehatkan, menghilangkan pegel-nyilu di badan.

Tapi oleh orang munafiqun maknanya, ternyata diplesetkan menjadi lain, yaitu menjurus perbuatan maksiat yang berjalan terus tanpa henti hingga kini, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang musuhnya Gerakan Reformasi tahun 1996.

Para munafikun itu, apabila berjanji, mengingkari, apabila berkata suka berbohong, dan apabila diberi amanah berkhianat, bukan berusaha sebagai pemenang, tetapi melainkan pecundang.

Salah satu perbuatan maksiat yang marak dan kian berkembang biak hingga kini, zaman now di lingkungan elite politik dan birokrasi Pemerintahan adalah korupsi.

Lihat itu, pekerjaan KPK hampir setiap kurun waktu, petugas KPK menangkap OTT para pejabat dan pengusaha, yang berbuat korupsi, sogok-menyogok, suap- menyuapkan dan gratifikasi yang diharamkan agama dan hukum nasional.

Salah satu ciri Cendekiawan Muslim (ulil albab) adalah selain gemar berpikir, juga memiliki kepedulian (awareness) terhadap nasib umat, bangsa dan negara. Kita boleh punya berbagai profesi dan mata pencaharian, tapi jangan lupa peduli. Sikap peduli itu merupakan salah satu butir Kode Etik ICMI.

Gerakan kerja-kerja sosial kemanusiaan ICMI harus seimbang antara Reflektif dan Praxis. Itulah Khittah ICMI yang sesungguhnya.

Janganlah kita di ICMI berwacana terus dengan tema2 masyarakat industri 4.0, tapi apa dan bagaimana action plan and action programe, berupa perbuatan nyata yang kongrit dan membumi (dowm to erth), berdampak terukur, dan kita sekarang menghadapi guncangan dan ketidakpastian di era desrupsi, yang bercirikan masyarakat VUCA, yang menuntut kerja cerdas, keras dan kerja ikhlas karena Allah SWT semata.

Hayyo mari kita rapatkan barisan ICMI yang teratur dalam Pengabdian ICMI, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat As Saff. Ingat puncak kemuliaan itu amal sholeh, ikhtiar berupa apa yang dia usahakan dalam bentuk perbuatan kebajikan (QS An Najm 39).

Ada karya kreatifitas dan inovasi ipteks yang lahir dan tercipta, sehingga membuat mssyarakat semakin membaik hidupnya dalam perspektif kesejahteraan sosial yang berkeadilan (social wellbeing and social equity) dan menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaan (human dignity). Sedangkan, manusia yang beruntung adalah mereka bermanfaat bagi orang lain, itu pesan hadist Rasulullah Muhammad SAW.

Saya kira para pengurus dan aktifis / fungsionaris ICMI dimana saja berada dan berbagai level organisasi tetap ingat dan berkomitmen dengan watak keislaman, kecendekiawanan dan kebangsaannya. Bahwa mereka akan tetap peduli dengan nasib rakyat, ummat dan bangsanya yang masih tertinggal, miskin dan terbelakang serta terzholimi (mustadafin).

Demikian renungan pagi di akhir pekan.. Kita memang harus seimbang menjalankan fungsi kekhalifaan kita selaku Ulil Albab, cendekiawan muslim Indonesia.

Penulis adalah Dosen dan Pendiri Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L negara; pegiat Sosial, Pendiri dan Wasek Wankar MPP ICMI dan Kawanhat ICMI Orwilsus Bogor

Exit mobile version