Oleh: Apendi Arsyad
Oh begitu ya bang Prof. Tengku A Sani.. syukron infonya, yang mengkoreksi bahwa lokasi IKN Nusantara di Penajam Paser Utara Kaltim, bukan daerah bebas gempa. Justru daerah ini pernah terjadi beberapa kali gempa. Berarti postingan di medsos itu keliru (hoaks). Syukron informasinya.
Prof Sani, saya mau “curhat” ini, setelah saya membaca beberapa sumber literasi persoalan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN), saya sempat terlintas dalam pikiranku, begini
…insting atau naluri dan akal sehat (common sense) saya berbisik dan berbicara dalam nurani bahwa pindahnya IKN dari DKI Jakarta (doeloe Djayakarta, sultan Fatahillah) ke IKN Nusantara di Penajam Paser Utara Kaltim yg lokasi yang diragukan “kelayakannya” dianalisis dari beberapa perspektif saintek (baca 2-3 tulisan saya soal IKN).
Jika benar data dan informasi yang mencuat ke publik dari beberapa ilmuan dan pakar tersebut. Apalagi Naskah akademik sebagai dasar pembentukan RUU menjadi UU IKN Nusantara tidak berkualitas, konsepsi-konsepsi dan landasan teori sosiologis yang digunakan tidak update alias “kadaluarsa”, dukungan data akurat pun sangat kurang (perhatikan wawancara online Prof.Surfikar Umar, orang Indonesia, kini bekerja sebagai Dosen University Nanyang Singapore, yang sudah beredar di Yoetube). Jika benar demikian, Ini seolah-olah bisa menjadi jebakan “batman”
Lebih jauh, saya memiliki kekhawatiran akan muncul resiko besar terhadap eksistensi NKRI, terutama jika dilihat artikel Prof. Dr. Didin S Damanhuri, MSc, yang dipublis di HU Republika beberapa waktu lalu, beliau mengingatkan secara geopolitik, lokasi IKN Nusantara daerah terdekat pront (konflik) antara negara adidaya RRC vs USA, dan mengkhawatirkan lagi lokasi IKN yg baru mudah dijangkau Rudal negara tertentu jika dibandingkan dgn jarak IKN berada di Jakarta/Jawa, etc. Ini menarik didalami persoalan ini dalam perspektif pewarisan sejarah dan nilai keberadaan atau keberlanjutan (beqoust and existing value, sustainability).
Saya menyarankan MPP ICMI Pusat pro aktif mempersoalkan dan melakukan kajian-kajian ilmiah mengenai adanya dan muncul program stranas IKN yang telah diundang-undangkan ini. Jika kembali ke watak dasar Cendekiawan Muslim Indonesia sesuai isi Kode Etik ICMI, maka hal ini menjadi hak dan kewajiban moral kita untuk bisa melakukannya, sekaligus mengimplementasikan misi besar ICMI sebagai “rumah besar” dan jembatan-penghubungan (breadging) ummat Islam Indonesia dengan umaroh.
Pikiran saya ini sudah saya sampaikan langsung kepada Mas Ketum ICMI Pusat Prof.ASA bersama kawan-kawan di ICMI Orwilsus Bogor tempo hari.
Yang paling saya khawatirkan dlm jangka panjang pindahnya IKN ke lokasi yg baru, dapat saya artikan kekalahan umat Islam Indonesia sbg komponen mayoritas bangsa ini. Ada hidden agenda, memutus sejarah perjuangan umat Islam (ulama, ustadz/guru ngaji Al Quran, santri, dan habaib). Meminjam istilah bung Karno. Jangan melupakan sejarah “jasmerah”, jika ingin menjadi bangsa dan negara yang besar…”
Saya menyarankan para pemikir (saintis) Islam yg ahli siasyah (strategi) politik, berbicaralah soal rencana kepindahan IKN ini, apakah tepat, menguntungkan atau merugikan ?
Pertemuan saya AA terakhir bertempat di resto Takol Kampus IPB University, Baranang Siang Jumat yg lalu, dengan add.Prof.ASA, saya katakan lagi bahwa ICMI wajib berpihak kepada kepentingannya mengangkat marwah, harkat dan martabat (dignity) umat Islam Indonesia dalam kontek kebangsaan dan NKRI.
Saya mempunyai kekhawatiran sejarah perjuangan Indonesia akan berubah, dimana peran Tokoh Islam dan para ulama patriotik akan dikaburkan dan kemudian hilang. Anak cucu dan cicit kita nanti pasca era milenial tidak tahu dan tidak paham lagi bahwa diproklamasikan dan dipertahankan NKRI ini adalah hasil pengorbanan nyawa dan harta para mujahid Islam, yang terdepan melawan penjajahan Belanda yang zholim, baca sejumlah peristiwa pertempuran besar di medan perang dalam sejarah Indonesia, bukan penganut agama dan kepercayaan yang lain.
Ini fakta seperti peristwa Perang Padri-Pangeran Diponegoro-Sultan Agung, Cut Nyak Din di Atjeh; peristiwa 10 November, matinya Jenderal Malaby di Surabaya, pekikan Allahu Akbar Bung Tomo, seruan Jihad almukarrom KH Hasyim Asyari, dll, dll.
Memang sejarah Indonesia terkadang dan bahkan sering dibengkok-bengkokan, dikaburkan oleh kaum musuh Islam (kafirun, fasikun, munafikun dan musrikun). Tujuan jangka panjangnya untuk memarginalkan kehidupan umat Islam di dalam NKRI, dimana si Aseng dan si Asing bisa leluasa menjajah negeri ini kembali.
Ini pekerjaan otak, diperlukan berpikiran kritis untuk melihat dan menganalisa kecenderungan (trending) dan menentukan arah masa depan bangsa, khususnya nasib anak-cucu kita kaum muslimin di kemudian hari. Janganlah sampai tertindas dan dizholimi. Atau jangan sampai terjadi seperti nasib sial suku asli Aborigin di benua Australia. Waspadalah !
Sebaiknya ICMI mempunyai Naskah Akademik versi ICMI !.
Saya berharap kepada “ulu balang” asal NAD abangku Prof. Dr. Tengku A Sani / Waketum dan Senior Saintis ITB ini bisa mendorong MPP ICMI untuk mendalami permasalah ini, khususnya Wankar bisa mengkaji persoalan IKN ini dalam berbagai perspektif saintek (geologi, geopolotik, geostrategy, ketersediaan SDA air dan energi, etc etc), terutama sudut pandang sejarah dari sisi kepentingan dan eksistensi keumatan di masa depan (future time).
Saya berkeyakinan kita bisa dan mampu berpikir jernih, profesional dan solutif, berpikir merdeka (tidak dikekang dan tersandra intrest politik dan kepentingan bisnis), karena sumberdaya kepakaran kita ICMI cukup banyak dan kaya serta mumpuni. Tinggal bgm mengelola waktu mereka para pakar-2 yang super sibuk spt bang Tengku A Sani ini.. he he he.
Janganlah lagi dibengkok-bengkokan arah sejarah bangsa ini, dan apalagi merubah sejarah bangsa yg lurus dan faktual. Kasihan anak cucu kita kaum muslimin, nanti bisa terjajah apabila kita lengah. Ingat dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan itu diraih atas Rahmat Allah SWT, bukan atas belas kasih para kapitalis, dan bahkan yg terjadi adanya cengkraman oligarky. Ini sekedar usulan kepada para sahabat elite ICMI sebagai Renungan Pagi.
Penulis adalah salah seorang Pendiri ICMI di Malang 1990, Wasek Wankar ICMI Pusat, etc





