LEAD.co.id | Ribuan warga berunjuk rasa di seluruh kota di Myanmar, pada Minggu (7/2/2021). Mereka mengecam kudeta oleh militer pada minggu lalu dan menuntut pembebasan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi.
Pada hari kedua protes yang meluas di kota terbesar, Yangon. Para demonstran tampak mengenakan baju merah, bendera merah dan balon merah, warna Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), partai yang dipimpin oleh Suu Kyi.
“Kami tidak ingin kediktatoran militer! Kami ingin demokrasi !,” seru mereka dalam nyanyian sebagaimana dikutip Reuters.
Aksi protes besar-besaran dari seluruh penjuru kota Yangon menuju Pagoda Sule di jantung kota. Sederet polisi bersenjata dengan perisai anti huru hara mendirikan barikade, tetapi tidak mencoba menghentikan demonstrasi.
Para pengunjuk rasa memberi hormat dengan tiga jari yang telah menjadi simbol protes terhadap kudeta. Pengemudi membunyikan klakson dan penumpang mengangkat foto Suu Kyi.
“Kami tidak ingin kediktatoran untuk generasi berikutnya,” kata Thaw Zin, seorang peserta aksi. “Kami tidak akan menyelesaikan revolusi ini sampai kami membuat sejarah. Kami akan berjuang sampai akhir. ”
Suu Kyi telah menghadapi dakwaan mengimpor enam walkie-talkie secara ilegal dan ditahan di tahanan polisi untuk penyelidikan hingga 15 Februari. Pihak pengacara mengaku belum mendapat izin untuk menemui Suu Kyi.
Komandan Angkatan Darat Min Aung Hlaing melakukan kudeta atas dasar penipuan dalam pemilihan 8 November di mana partai Suu Kyi menang telak. Komisi pemilihan menepis tuduhan malpraktek.
Thomas Andrews, pelapor khusus PBB untuk Myanmar menyebutkan, lebih dari 160 orang telah ditangkap sejak militer merebut kekuasaan. Dia menyebutkan bahwa, para jenderal berusaha melumpuhkan gerakan perlawanan warga, dan menjaga dunia luar dalam kegelapan dengan memblokir akses internet.
“Kita semua harus mendukung rakyat Myanmar di saat-saat bahaya dan membutuhkan. Mereka berhak mendapatkan apa pun,” imbau Andrews seperti dikutip Reuters.
Protes dilaporkan terjadi di kota kedua Mandalay dan banyak kota dan bahkan desa di seluruh negara berpenduduk 53 juta orang yang membentang dari pulau-pulau di Samudra Hindia hingga pinggiran Himalaya.
Catatan internal untuk staf PBB memperkirakan bahwa, sebanyak 1.000 orang bergabung dalam protes di Naypyidaw sementara di Yangon ada 60.000 orang. Para pengunjuk rasa ini bubar setelah hari mulai gelap.
Reporter: M. Ikhsan
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Reuters

