Oleh: Apendi Arsyad
Alhamdulillah, pagi ini saya menikmati lagi lagu lama kiriman abangku Aznan di Kota Pku Riau. Judul lagunya cukup menarik “Tak Kusangka”, enak didengar, salah satu lagu jadul Panbers, yang populer tahun 1970an.
Bagi saya pribadi lagu “Tak Kusangka” merupakan lagu kenangan, termasuk pavorit, yang sering didendangkan di masa pelajar SMPN Cerenti tempo doeloe tahun 1974-1976, dengan grup band Pelajar SMPN Cerenti. Alhamdulillah, saya bisa berperan sebagai gitaris melodi, yang juga vokalis band musik ala “kampuang”, alat musiknya masih sederhana dan ilmu musiknya pun “pas-pasan”. Tapi karena sangat jarang (langkanya) hiburan di daerah perdesaan, terutama desa Cerenti pada tahun 1970an sangat terbatas adanya bahkan insfrastruktur seperti listrik dan telepon belum ada. Adanya band seni-musik Band Pelajar SMPN Cerenti menjadi pilihan (alternatif) satu-satunya “sarana hiburan” terutama untuk kaum muda, yang ada di masa itu di kampung halaman kita nagori Cerenti, doeloe masuk wilayah Kabupaten Inderagiri Hulu (Rengat), sejak 1999 berubah Cerenti masuk ke Kab. Kuantan Singingi (Kuansing dengan ibu kota Taluk Kuantan).
Masa muda di kampung Cerenti tempo doeloe penuh kenangan manis. Saya pernah menjadi aktivis pramuka, pimpinan Orsis, juga pemain dan vokalis band musik pelajar SMPN Cerenti. Tapi alhamdulillah, walaupun sibuk beraktifitas di ektrakurikuler, belajar tetap serius (focus and consent) alhamdulillah saya bisa mendapat predikat “bintang pelajar” sebab setiap akhir kuartalan pelajaran, saya berhasil mendapat juara kelas terus menerus bahkan juara umum tammat SMPN Cerenti, lulus tahun 1976.
Tahun 1976 meninggal kampung halaman Cerenti dan melanjutkan studi di SMPPN Nomor 49 Pekanbaru (Pku) Provinsi Riau. Selama menjadi siswa SMA di kota Pku aktif di pramuka dan grup seni Paduan Suara, yang pernah meraih juara se SLTA Riau. Walaupun aktif di aktivitas seni, dalam hal belajar tetap serius, dan terus memperoleh juara kelas di jurusan Paspal (IPA) SMPPN No.49 Pku, dan lulus Maret 1980.
Tahun 1980 berhasil masuk IPB lewat testing program Perintis Satu (utk 10 PTN terbaik di Indonesia). Ketika studi di IPB University, aktivitas seni musik dan seni suara (paduan suara) ditinggalkan, dan kegemaran minat-bakat seni musik tidak lagi disalurkan. Di era kehidupan kampus, saya menjadi “aktivis” mahasiswa baik di.intra maupun ekstra universiter di IPB Bogor.
Aktivitas seni musik dan seni paduan suara cukup sebagai penikmat saja, mendengar dari berbagai media hiburan saja, karena sdh banyak VCD, kaset dan hiburan Radio serta TV yg bisa didengarkan setiap saat.
Selama menjadi mahasiswa IPB minat bakat dikembangkan kearah pembinaan kepemimpinan (leadership) dan keagamaan Islam melalui Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM) Badan Kerohanian Islam (BKI) IPB University. Walaupun ada puluhan UKM di IPB, tapi saya lebih cenderung memilih menjadi kader dakwah Islamiyah. Saya pernah menikmati tranning dakwah Islam di Masjid Salman ITB Bandung (thn 1981) dan menjadi asisten dosen Team Pendidikan Agama Islam untuk mahasiswa baru TPB IPB. Alhamdulillah di UKM BKI IPB saya pernah juga mendapat amanah sebagai Sekum UKM BKI IPB thn 1981-1982, yang basis kegiatannya di kampus adalah di masjid Al Ghifari IPB Kampus Bagunde Jln Raya Pajajaran Kota Bogor.
Tidak cukup berperan aktif di Intrakampus seperti di UKM dan Senat Mahasiswa Faperikan IPB (BEM istilah sekarang), karena ruang lingkup dan geraknya sangat terbatas serta banyak hal yang menjadi kebutuhan hidup (human needs) tak ditemukan, maka saya juga menjadi aktifis dan pengurus di organisasi kemahasiswaan ektra-universiter, yakni di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Alhamdulillah bisa aktif di berbagai je jang kepengurusan mulai dari Komisariat HMI Fakultas Perikanan IPB sebagai Wakil Ketua; Sekum HMI Cabang Bogor dan Sekretaris HMI Badko Jawa Barat, hingga saya bisa duduk menjadi salah seorang pengurus di Pengurus Besar (PB) HMI Jakarta produk Kongres HMI XVII di Kota Padang. Saya tercatat menjadi aktivis HMI dari tahun 1981-1987, dengan aktivitas banyak bersentuhan dengan masalah sosial politik dan sosial budaya negeri ini.
Berdasarkan perjalanan menjadi aktifitas kampus dan selama belajar di Perguruan Tinggi, aktivitas kegemaran bermusik dan panduan suara hampir terlupakan sama sekali, sehingga bakat seni yg pernah dikembangkan di SMPN dan SMPPN doeloe tidak dikembangkan, sehingga lagu2 terbaru masa kini tidak bisa lagi saya ikuti perkembangannya, dan yang hanya bisa saya nyanyikan ketika memainkan gitar di rumah hanya mampu mendendangkan lagu-2 jaman doeloe seperti seni-musik Panbers, Koesploes, The Mercys, De Loyd etc yang ngepop tahun 1970an.
Walaupun demikian, kegemaranku untuk menikmati lagu-2 dan seni musik populer tidak pernah luntur; dan tetap ada bersemai dalam sanubariku.
Hari ini saya mendapat postingan lagu (share) dan seni musik dari band Panbers yang berjudul “Tak Kusangka” yang dinyanyikan Eddi Purnomo, telah dishare oleh abangku Aznan bin Jaharan di WAG Sospec. Dengan menikmati bait demi bait syair lagu itu, membuat memoriku melayang ke masa-2 doeloe, yang penuh kenangan manis (sweet memory) dan bernostalgia mengenang teman-2ku di masa-2 menjadi pelajar di SMPN Cerenti tempo doeloe.
Terima kasih abang Aznan bin Jaharan atas kiriman postingan lagu-2 pop tembang kenangan. Jujur saya berkata, saya menikmati betul alunan musik dari dendangan lagu2 tersebut sebagai hiburan pengisi waktu di masa tua (lansia) agar tidak kesepian dan tetap bersemangat menjalani hidup ini agar tetap bermakna.
Memang betul kata orang bijak bahwa agar hidup kita ini lebih berarti dan bermakna, jadikanlah agama (imtaq) sebagai pegangan hidup dan arah kehidupan; pelajarilah dan kuasailah ilmu pengetahuan dan teknologi (ipteks) agar kehidupan kita lebih mudah dijalani; dan jangan abaikan nikmatilah seni-musik etc, agar kehidupan yang kita jalani terasa lebih indah (berestetika). Dengan kata lain, dengan agama (Dinnulislam) hidup.kita terarah, dengan iptek hidup kita menjadi mudah dan dengan seni hidup kita terasa indah dan berbahagia (happiness).
Dengan seni, terutama seni musik dan seni suara yang kita lihat, dengar dan nikmati, agar membawa suasana hati dan pikiran yang menenangkan dan menentramkan jiwa dan memperhalus budi, perasaan, hati (qalbu) agar hidup lebih bermakna dalam pengembangan potensi rasa (feelingness). Itulah sekilas peran dan fungsi beraktifitas seni musik yang pernah saya jalani, dan telah mewarnai perjalanan hidupku, alhamdulillah hasilnya seperti ini, subhanallah walhamdulillah.
Sekian dan terima kasih semoga narasi singkat ini bisa menyakinkan para sahabat bahwa hidup gemar seni-musik atau hobby berkesenian atau punya jiwa seni itu, merupakan sebuah kebutuhan dasar (a basic needs) kemanusiaan kita, agar kita menjadi pribadi yang sehat jiwa dan raga, insyaAllah sehat walaffiat dan selalu berbahagia.
Saya memohon maaf, apabila ada bahasa atau kata-2 dalam tulisan ini, yang kurang berkenan di hati. Tulisan ini, saya hanya bermaksud berbagi pengalaman semata-mana tahu ada manfaatnya, bukan yang lain.
Syukron barakallah Amiin-3 YRA.
Penulis adalah Pendiri-Dosen/Assosiate Professor Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, Aktivis Ormas dan Pemerhati Sosial





