Skizofrenia Faizal Assegaf dan Gerombolan Bohir Anti NU

oleh -577 views
Said Aqil Siradj, Altruism, Muktamar NU, NU
Khotimi Bahri, Wakil Ketua Umum BKN

Oleh: Khotimi Bahri

Belakangan, menjelang Muktamar NU ke 34, Faizal Assegaf sering ‘menyerang’ NU. Mulai dari statemennya bahwa NU 99% bukan ulama, Mbah Hasyim bukanlah panutan, setelah sebelumnya memposisikan Gus Dur setara dengan Rocky Gerung. Dan hampir setiap hari menyerang NU sekalipun NU dan tokoh NU sama sekali tidak menyoal sedikitpun dia. Ini sebenarnya gejala skizofrenia Faizal yang bersifat kambuhan. Gangguan kejiwaan psikotik ini membuat si empunya berperilaku tidak normal dan berbicara sesuatu yang tidak nyata.

Seorang kawan menghubungi saya berdiskusi, apakah perlu Banom meresponnya. Bagi saya Banom NU tidak penting meresponnya karena dua alasan: Pertama, dia bukan orang penting untuk direspon. Dia ibarat anak kecil yang sedang mencari perhatian. Kalau direspon serius justru hanya membuatnya merasa besar (besar kepala atau kata orang Sunda gede hulu). Kedua, jika benar dugaan beberapa orang bahwa Faizal ini dipakai oleh Bohir yang oponturir untuk membuat gaduh NU, maka meresponnya sama artinya memenuhi harapan sang bohir.

Banyak alasan yang melatar belakangi pandangan saya ini. Namun, saya ingin kemukakan tiga alasan saja. Satu, Faizal Assegaf termasuk pengidap penyakit “existential crisis” atau krisis eksistensi. Penyakit ini merupakan gejala kepribadian yang menyangsikan keberadaan dirinya dalam kehidupan. Kenapa Faizal termasuk pengidap krisis eksistensi? Dengan sangat percaya diri dia mendeklarasikan diri sebagai Ketua Progres 98, dan untuk meyakinkan orang lain dia menegaskan kepada salah satu media online pada tanggal 22-05-2018: “saya mantan aktifis ’98 bersama Adian Napitupulu, Anas Urbaningrum. Bisa dilihat rekam jejak saya sebagai aktifis ’98”.

Baca :  Satu Abad NU, Dedie Rachim Ajak Tingkatkan IPM Kota Bogor

Untuk mengangkat eksistensi dirinya, dia harus mengikut sertakan nama lain yang sudah diakui mssyarakat. Faizal tidak percaya diri tanpa menyandingkan dirinya dengan nama lain yang yang sudah eksis yaitu Adian dan Anas. Dan yang lebih konyol lagi, dia bangga dengan kondisi dirinya yang masih ngontrak untuk mengesankan diri sebagai idialis sejati. Dia berkata pada media: “saya satu-satunya aktifis ’98 yang masih hidup di rumah kontrakan di bawah sutet di daerah Jakarta Timur”!. Padahal, masalah pemenuhan kebutuhan primer sangat terkait dengan keberkahan hidup dan etos kerja.

Rekam jejaknya tidak ada dalam gerakan ’98 kecuali sebatas penggembira. Makanya ia butuh legalitas dengan mengklain ketua Progres ’98 dan butuh legitimasi dengan menyandingkan dirinya dengan nama lain. Padahal aktifis yang sebenarnya tidak butuh klaim dan tidak mencari legitimasi untuk diskui eksistensinya tahun 1998.

Kedua, mengidap Gangguan Kepribadian Narsistik (narcistic personality disorder/NDP). Seseorang yang mengidap gangguan kepribadian narsistik tidak sama dengan orang yang dianggap narsis. Mereka yang mengidap gangguan mental ini sering merasa haus perhatian dan kekaguman, kurang bisa berempati, dan biasanya tidak pernah peduli akan perasaan komunitas lain.

Baca :  Bupati Hafidz Lakukan Persiapan Munas-Konbes NU di Al Anwar Sarang

Orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik bisa sangat piawai, karena mereka memang sangat pandai menciptakan citra diri yang memikat bagi orang lain. Kita mungkin sangat kagum pada kepercayaan diri dan cita-cita mereka yang tinggi. Namun, kita perlu mengingat bahwa orang-orang ini tidak mencari rekan, tetapi pengagum yang setia.

Gejala ini bisa dilihat dari sepak terjang Faizal Assegaf dalam dunia pergerakan. Dia mengklaim sebagai Presidium Alumni 212 sebuah gerakan yang agendanya menumbangkan Ahok sebagai gubernur DKI, tapi dia pula yang kemudian mengatakan bahwa Ahok lebih negarawan daripada Habib Rizieq dan semestinya HRS belajar dari Ahok. Faizal juga yang menegaskan bahwa sekarang eranya gubernur muslim DKI tapi dia juga yang teriak kalau Anes licik. Awalnya sangat kontra dengan Megawati, Puan, tapi kemudian berbalik memojokkan Ganjar dan mendukung Puan.

Fenomena kutu loncat dan plintat-plintut ini sebenarnya didorong oleh fokus pada performance diri, membangun citra, kebutuhan yang berlebihan akan perhatian dan minim minat kohesifitas dengan orang lain. Itulah ciri-ciri pengidap NPD

Ketiga, pada 22 Mei 2018 kepada Detknews Faizal menegaskan bahwa pandangan pokitiknya adalah Islam Moderat ala NU. Bahkan dia mengaku besar dan tumbuh dari rumpun keluarga NU.

Baca :  PCNU Kota Bogor Gelar Madrasah Kader NU ke II

Untuk meyakinkan pernyataannya dia betkata:” pandangan politik saya Islam Moderat. Saya berasal dari rumpun keluarga NU, sepupu saya pernah menjadi Ketua Umum, PB Gerakan Pemuda Ansor, Muhammad Iqbal Assefaf”!
Maka, ketika secara sporadis, — tanpa hujan tanpa angin– menyerang NU, disinyalir (wallahu a’lam) ada bohir oponturir yang memang gerah dengan langkah NU menggunakan jasanya menjelang muktamar ke 34 ini. Asusmsi ini tentu bukan pepesan kosong karena ada korelasi antara akrobatik politik Faizal Assegaf, dengan beberapa kelompok yang selalu menyerang NU, juga dengan media tunggangannya, yang diperkuat dengan penyebutan tokoh dan kelompok dibalik serangannya ini. Kalau memang ini benar, tentu sebuah kesalahan yang fatal bagi sang bohir menggunakan jasa Faizal untuk memuaskan ambisinya. Sebab NU tidak akan terpancing dengan semua akrobatiknya. Para petinggi NU lebih fokus pada agenda keumatan daripada meresponnya. Dan cukup pengurus setingkat cabang atau dibawahnya yang membuka kedoknya.

Akhirul kalam, kombinasi antara penyakit akut kambuhan Faizal Assegaf dan kepentingan pragmatis para bohir oponturir betemu dalam satu titik simpul. Menarik untuk ditonton akrobatik-akrobatik berikutnya. Wallahu a’lam bi showab….

 

Penulis adalah Wakil Katib Suriah PCNU Kota Bogor dan Deklarator Front Indonesia Muda Bandung (FIM-B) salah satu organ pergerakan ’98

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *