Pamekasan, (LEAD.co.id) | Tim khusus menggelar rapat monitoring dan evaluasi berkenaan program pembangunan Pemkab Pamekasan melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCT).
Rapat monitoring dan evaluasi tersebut dilakukan guna mengetahui sejauh mana realisasi pelaksanaan program DBHCT yang sudah dijalankan.
Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD), Sahrul Munir, mengungkapkan, ada salah program yang masih mengalami kendala, yakni program pemberian BLT bagi buruh tani tembakau dan buruh pabrok rokok.
Pasalnya data calon penerima BLT bagi buruh tani tembakau dan buruh pabrik rokok belum tuntas. “Untuk pendataan itu memang harus hati-hati mengingat aturannya tidak boleh mendapatkan bantuan ganda, seperti menerima PKH atau bantuan lainnya,” kata Sahrul.
Pihaknya mengingatkan setiap OPD bisa bekerja lebih maksimal dalam merealisasikan program DBHCHT. Pasalnya, dari DBHCHT sebesar Rp 64,5 miliar, separuhnya sudah masuk ke kas daerah (Kasda).
Rinciannya Rp 12,9 Miliar untuk triwulan pertama dan Rp.19,36 Miliar untuk triwulan kedua. Karena itu dia meminta agar semua OPD penerima DBHCHT segera menyusun program anggaran dan mengajukan dana tersebut untuk segera direalisasikan penggunaannya.
“Separuh sisa DBHCHT akan ditransfer jika masuk di triwulan ke tiga dan ke empat, dan sekarang tinggal OPD siap atau tidak untuk merealisasikan program dan menggunakan dana tersebut,” katanya.
Sementara Direktur RSUD Waru dr Hendarto mengungkapkan, jika instansi merupakan salah satu OPD yang sudah dievaluasi perihal realisasi DBHCHT. Saat ini penggunaan DBHCT untuk obat obatan dan bahan bahan habis pakai, perbaikan alat dan kalibrasi, di RSUD Waru sudah dalam proses.
“Tahun kita menerima Rp 2 Miliar DBHCHT dan sudah kita gunakan untuk pengadaan obat obatan, namun tidak langsung dibeli sekaligus dan menyesuaikan dengan laju kebutuhan,” ujar Hendarto.
Ia mengaku saat ini mengalami kendala lantaran 23 nakes terpapar covid-19. Pihaknya dituntut untuk selalu memberikan pelayanan di ruang isolasi, di ruang IGD dan di ruang rawat inap selain di poli.
Reporter: Kholisin Susanto
Editor: Moh Hasanuddin





