Tunisia Krisis Demokrasi: Perdana Menteri Dikudeta, Parlemen Dibekukan

oleh -293 views
Tunisia, Krisis Demokrasi, Perdana Menteri Tunisia, Kudeta, Parlemen Tunisia,
Demonstran saat melakukan protes anti-pemerintah di Tunisia, pada Minggu 25 Juli 2021 [Zoubeir Souissi/ Reuters via Aljazeera]

TUNISIA (LEAD.c.id) – Presiden Tunisia, Kais Saied telah mencopot Perdana Menteri Hichem Mechichi yang juga bertanggung jawab dalam Kementerian Dalam Negeri serta membekukan parlemen, pada Minggu, 25 Juli 2021. Saied mengumumkan akan mengambil alih otoritas eksekutif dengan bantuan perdana yang menteri baru.

Pengumuman itu dikecam sebagai serangan terhadap demokrasi oleh para pesaingnya tetapi disambut oleh orang lain dengan perayaan di jalan-jalan di seluruh negeri. Krisis Politik ini terjadi sejak Tunisia memperkenalkan demokrasi pada Revolusi tahun 2011.

Ennahdha, Ketua parlemen Rached Ghannouchi yang mengepalai partai terbesar di Parleme, menuduh Saied melancarkan “kudeta terhadap revolusi dan konstitusi”.

Baca :  Aksi Cipayung Plus Bogor: Refleksi Demokrasi di Tengah Krisis

Aljazeera mengutip pernyataan kepresidenan menyebutkan, Saied juga telah memecat Menteri Pertahanan Ibrahim Bartagi dan Penjabat Menteri Kehakiman Hasna Ben Slimane, pada Senin (26/7).

Saied memerintahkan pejabat administrasi dan keuangan berpangkat rendah di setiap kementerian untuk melaksanakan tugas yang diperlukan sampai perdana menteri dan kabinet baru ditunjuk.

Langkah itu dilakukan menyusul demonstrasi massal di beberapa kota Tunisia pada Minggu. Para pengunjuk rasa menuntut pemecatan pemerintah setelah lonjakan kasus Covid-19 yang memperburuk ekonomi. Kantor partai Ennahdha juga diserang.

Para pengunjuk rasa melemparkan batu dan meneriakkan slogan, menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Hichem Mechichi dan pembubaran Parlemen.

Baca :  WhatsApp Diretas Jelang Simposium, Aktivis Bifa Sebut Krisis Demokrasi

Sumber Aljazeera mengatakan, pengunjuk rasa mencoba menyerbu kantor Ennahdha di Monastir, Sfax, El Kef dan Sousse, sementara di Touzeur mereka membakar markas lokal partai.

Saied dan parlemen terpilih dalam pemilihan umum yang terpisah pada 2019, sementara Mechichi menjabat tahun lalu, menggantikan pemerintahan berumur pendek lainnya.

Setelah berbulan-bulan upaya gagal untuk membentuk pemerintahan, Elyes Fakhfakh menjadi PM pada Januari 2020 tetapi dipaksa keluar dalam beberapa bulan karena skandal korupsi.

Beberapa bulan kemudian, Mechichi diangkat menjadi perdana menteri namun terjerat dalam perselisihan politik dengan Saied selama lebih dari saru tahun.

Baca :  HRW: Anak-anak ISIS Dipulangkan untuk Melindungi Hak Mereka

Pemerintahannya yang rapuh meluncur dari krisis ke krisis karena berjuang untuk menangani pandemi dan kebutuhan akan reformasi yang mendesak.

Selama dekade terakhir, negara ini juga menghadapi serangkaian tantangan, termasuk serangan ISIS yang menghancurkan sektor pariwisata vital dan merupakan kontributor utama penurunan ekonomi, yang mendekati titik krisis pada tahun 2017.

Reporter: M Ikhsan
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Aljazeera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *