LONDON, INGGRIS (LEAD.co.id) – Pengadilan Rakyat “Uyghur Tribunal” telah digelar di London, Inggris mulai Jumat (4/6/2021), untuk menilai dugaan genosida yang dilakukan China terhadap etnies Uyghur. Saksi menuduh bahwa, narapidana di kamp-kamp penahanan telah dilecehkan dan disiksa oleh petugas China.
Ketua Uyghur Tribunal, Geoffrey Nice mengungkapkan, puluhan saksi akan membuat tuduhan “berat” terhadap pemerintah China selama empat hari sidang.
Pengadilan rakyat, yang terdiri dari pengacara, akademisi, dan pengusaha ini tidak memiliki dukungan atau kekuatan apa pun untuk memberi sanksi atau menghukum China. Namun, penyelenggara berharap proses pengungkapan bukti bisa memaksa tindakan internasional untuk mengatasi dugaan pelanggaran terhadap etnies Uyghur.
Nice, seorang pengacara Inggris yang telah bekerja dengan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) ini mengatakan forum tersebut akan menciptakan “bukti permanen dan catatan, jika ditemukan, kejahatan yang dilakukan.”
Mengutip Associated Press (AP), Uyghur Tribunal ini didanai oleh Kongres Uyghur Dunia dan sumbangan individu, seperti “pengadilan rakyat” sebelumnya, termasuk yang diselenggarakan pada sekitar tahun 1960 oleh filsuf Bertrand Russell dan Jean-Paul Sartre untuk menyelidiki tindakan AS dalam Perang Vietnam.
Pengadilan Rakyat “Uyghur Tribunal” yang berbasis di London ini adalah upaya terbaru untuk meminta pertanggung-jawaban China atas dugaan pelanggaran hak terhadap Uyghur dan kelompok minoritas lainnya.
Saksi pertama, Qelbinur Sidik mengungkapkan, para petugas penjaga kamp secara rutin mempermalukan narapidana. “Penjaga di kamp tidak memperlakukan para tahanan sebagai manusia. Mereka diperlakukan kurang dari anjing,” katanya melalui seorang penerjemah.
Saksi lain, Omir Bekali mengaku ditahan dengan tuduh melakukan ekstremisme dan terorisme. Dia mengungkapkan, tahanan hingga 50 orang per sel, diberi obat-obatan yang tidak diketahui dan dikenakan hukuman fisik yang keras. Beberapa narapidana yang dia kenal telah meninggal di bawah siksaan.
Pemerintah China dengan tegas menolak tuduhan itu. Pihaknya menyatakan bahwa, kamp-kamp tersebut sebagai pusat pelatihan kejuruan untuk mengajarkan bahasa Mandarin, keterampilan kerja dan hukum untuk mendukung pembangunan ekonomi dan memerangi ekstremisme.
Reporter: Jhonie Arya
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Associated Press

